Dosen Ini Lebih Suka Menyebut Diri Penjahit

  • Whatsapp

WENEFRIDA Tulit Ina, ST, MT. Sapaan manisnya Ida. Dua gelar di belakang namanya.  Strata 1 sarjana teknik, strata 2 magister teknik. Dua gelar ini menunjukkan kemampuan dan kecerdasannya.

Ida memang jagoan  di bidang matematika dan IPA. Sejak SD, SMP hingga SMA juara umum jadi langganannya.

Bacaan Lainnya

Gelar sarjana teknik diraih di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang 2003. Setamat dari Undana, Ida beberapa bulan bekerja sebagai tenaga honor di Kantor Bupati Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

Wenefrida Tulit Ina

Di kantor pemerintah ini,  Ida hanya mengabdi beberapa bulan. Bulan Desember tahun itu, dia lulus sebagai dosen di almamaternya Undana. Dia mengajar sebagai dosen tetap pada Program Studi Teknik Elektro Fakultas Sains dan Teknologi  (FST) Undana

“Saya jadi dosen mengikuti test sebagai dosen,” kata Ida kepada kabarntt.co di rumahnya di Kelurahan Liliba, Kota Kupang, Senin (31/5/2021).

Beberapa tahun mengajar di FST Undana, Ida  berangkat ke Makassar. Dia lanjut kuliah mengambil strata 2.  Tahun 2013 gelar master teknik (MT) diraihnya di Universitas Hassanudin (Unhas).

Tetapi siapa menyana perempuan kelahiran 15 April 1977 di Gelong, Kecamatan Adonara Timur, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini cacat fisik?

Kaki sebelah kanan Ida tidak normal. Dari lutut ke bawah hingga ujung jarinya tidak tumbuh normal.

“Menurut cerita mama dan bapak, kaki saya jadi begini karena polio. Umur dua tahun saya kena polio. Bapak bawa saya ke mana saja untuk berobat, untuk urut. Mungkin karena terlalu sering berobat dan urut hasilnya bukan jadi baik, malah tambah buruk. Mungkin orang tua panik, ingin saya sembuh sehingga bawa saya ke mana saja kalau dengar ada yang bisa urut,” kisah Ida.

Suaranya datar. Dingin wajahnya. Seperti mengenang kembali masa-masa awal ketika polio menyerangnya dan tekad orang tuanya  agar putri sulung ini sembuh dari polio.

Ida menuturkan, waktu kecil dia merasa minder bergaul dengan teman-teman sebayanya di kampung. Bahkan saat masuk taman kanak-kanak, Ida berontak. Menangis. Tidak mau ke sekolah.

“Waktu TK bapak saya tiap hari gendong saya ke sekolah. Saya menangis dan berontak tidak mau ke sekolah. Saya malu karena nanti diejek dan dibuli teman-teman di sekolah,” kenangnya.

Beruntung para suster di taman kanak-kanak pandai membujuk. “Mungkin mereka suster sehingga pintar dan tahu bagaimana membujuk anak kecil. Mereka memberi perhatian lebih kepada saya, sehingga akhirnya saya ke sekolah juga,” tutur Ida.

Ida ingat betul sampai kelas V SD baru dia merasa nyaman dengan keadaan dan kondisinya.  Tetapi itu hanya di sekolah. Di luar sekolah, Ida belum bebas dari ejekan teman-temannya. Dia hanya bisa menangis kalau diolok teman-temannya.

“Bapak selalu bilang ke saya, mereka tidak mengerti apa yang mereka omong itu. Tidak perlu berkecil hati, karena  engkau lebih pintar dari mereka,” kata Ida.

Cacat fisik ini tentu menghambat kebebasan bergerak Ida. Sebagai manusia, Ida ingin bekerja maksimal sebagaimana orang normal. Dia juga ingin tampil modis seperti perempuan-perempuan lain yang normal.

“Sebagai perempuan saya iri hati juga melihat perempuan muda  pakai sepatu high heels (sepatu hak tinggi), pakai gaun kalau ke pesta. Ingin juga pakai seperti itu. Tetapi saya tahu dan sadar tidak bisa pakai pakaian seperti itu,”  katanya.

Apa yang membuatnya sehingga tetap percaya diri di jalan hidupnya?  Faktor apa yang membuat Ida kuat dan tidak hanya bisa pasrah diri?

“Motivasi!” jawabnya tegas.

Dari pengalamannya, kata Ida, motivasi menjadi kunci utamanya untuk maju. Motivasi melecut semangatnya untuk tampil sejajar dengan manusia normal.

“Dari pengalaman, motivasi itu membuat saya bangun dan tampil seperti orang normal. Setelah besar sekarang baru saya mengerti mengapa bapak dulu selalu bawa saya ke mana saja kalau ada acara atau kegiatan. Pasti dia ingin agar dalam diri saya tumbuh rasa percaya diri,” kisah Ida.

Ida ingat kalau ada tamu yang berkunjung ke rumah, bapaknya selalu memintanya menyajikan minuman. “Ada adik-adik yang normal, tetapi bapak selalu minta saya bawa minuman. Dia sepertinya ingin meminta saya tidak  perlu malu dengan kondisi saya. Dia mau saya percaya diri dengan keadaan yang ada,” kata Ida.

Kepada orang tua yang anaknya cacat, Ida meminta selalu memotivasi mereka untuk maju. Jangan pernah memposisikan  anak cacat pada tempat nomor dua. Perlakuan terhadap mereka juga tidak pernah boleh diskriminatif.

“Saya lihat masih banyak juga orang tua yang malu punya anak cacat. Mereka mengurung anaknya di rumah, tidak mau bawa ke mana saja mereka pergi. Ini sangat tidak baik, mematikan rasa percaya diri anak. Motivasi itu pertama harus datang dari orang tua dulu. Kalau orang tua bepergian bawa juga anak yang cacat, jangan dia ditinggalkan di rumah. Mentalnya akan down kalau diperlakukan seperti itu,” pesan Ida.

Memberi pelatihan pembuatan aksesoris dari perca tenun kepada ibu-ibu PIKK PLN Wilayah NTT (foto: dokumen pribadi)

Ida sungguh beruntung. Kedua orang tuanya memperlakukan dia seperti anak normal. Lingkungan yang nyaman, aman dan kondusif didapat secara paripurna di rumah. Orang tuanya juga mendorongnya untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

Mendapat perlakuan seperti itu, Ida melaju terus  meniti titian hidupnya.  mengembangkan bakat dan talentanya. Sukses sebagai dosen belum cukup buatnya. Semasa remaja tangannya sudah piawai menyulam dan menjahit. Keterampilan ini diasahnya  hingga jadi terkenal sebagai penjahit pakaian wanita kelas atas saat ini.

“Bule dari Belanda yang tinggal di Surabaya juga pernah saya jahit pakaiannya,” kata Ida bangga.

Pakaian seragam ibu-ibu di kantor pemerintah, BUMN, di sekolah, anggota paduan suara di gereja banyak hasil jahitan tangannya. “Jujur, saya sebenarnya lebih merasa diri sebagai seorang penjahit dari pada seorang dosen. Sampai sekarang pangkat saya sebagai dosen negeri juga masih IIIA, saya tidak urus,”  kata Ida sambil tertawa.

Di rumahnya, ada dua mesin jahit dan satu mesin obras. Sudah tua. Kain-kain para pelanggannya penuh dalam dos-dos. Pakaian aneka model hasil jahitannya digantung rapih.

Pernah ikut kursus menjahit? “Tidak. Saya belajar sendiri, desain dan bikin pola sendiri.  Saya sangat puas melihat jahitan saya dikenakan ibu-ibu. Itu kepuasan tersendiri yang tidak tergantikan dengan uang,” kata  Ida mengakui.

Menjahit itu sudah menyatu dengan Ida. Pulang mengajar di kampus, tangannya langsung merabah mesin jahit. “Kalau sudah duduk menjahit, tidak bangun lagi. Tengah malam kalau bangun, jahit lagi,” timpal suaminya, Novriano.  Menikah dengan Novriano  19 Mei 2006, pasangan ini dikaruniai tiga buah hati.

Selain menjahit, tangan Ida juga sungguh terampil merangkai bunga. Bunga-bunga hasil rangkaiannya dalam berbagai ukuran sudah menghiasi ruang tamu di banyak rumah.

Merangkai bunga tidak sekadar menyalurkan hobi (foto: dokumen pribadi)

Apa yang masih memendam menyaksikan begitu banyak anak cacat tidak beruntung di jalan hidupnya?  “Saya ingin jadi motivator, ingin membagi keterampilan kepada anak-anak  cacat, juga kepada ibu-ibu atau mereka yang putus sekolah. Saya  ingin melatih mereka dengan keterampilan hidup. Saya ingin punya lembaga, punya yayasan sosial   di bidang pendidikan keterampilan keluarga yang bisa membantu anak-anak cacat menemukan jalan hidup mereka,” tandas Ida.

Kisah perjalanan hidup Ida, titian perjalanan perempuan tangguh  dari pedalaman Pulau Adonara, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur ini lebih dari sekadar pertarungan merenda hidup. Kisah hidup Ida, jalan hidup Ida sesungguhnya adalah modus eksistensi seorang anak manusia yang tidak menyerah pada fisik tidak sempurna yang mendera. Modus eksistensi seorang anak cacat yang mau berdiri sama tinggi, duduk sama rendah dengan orang normal. (tony kleden)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *