Pater Nicholas Strawn SVD: Usia 86 Tahun, Saat Mengenang Rahmat Tuhan

  • Whatsapp
Pater Nicholas Strawn SVD

Oleh Steph Tupeng Witin

Kapel mungil Rumah Sakit Bukit Lewoleba, Kamis (24/9/2020) tak terisi penuh. Karyawan RS Bukit, anak-anak kompleks rumah sakit, kenalan, sahabat dan anggota SVD di Lembata. Semua mengenakan masker sesuai protokol kesehatan. Perayaan ekaristi berlangsung sederhana.

Pater Nicholas Strawn SVD merayakan HUT kelahiran ke-87 tahun dalam usia imamat 58 tahun. Hari yang sama menjadi momen berahmat kenangan 100 tahun SVD berkarya di Pulau Lembata.  Pater Niko bersyukur atas rahmat Allah yang setia merawatnya. Ia melangkah ke altar dengan tongkat.

“Usia 87 tahun bukan soal angka tapi momen untuk mengenang dan bersyukur atas rahmat Allah yang melimpah dalam seluruh hidup dan karya. Resepnya sederhana, serahkan diri secara total kepada Allah dan bersyukur atas atas semua rahmatNya yang boleh saya alami sepanjang hidup saya. Terima kasih kepada semua orang yang berjalan bersama saya hingga usia ini,”   kata Pater Niko.

Pater Nicholas Strawn SVD merayakan HUT-nya yang ke-86 tahun

Meski berjalan disanggah tongkat dengan tubuh yang ringkih, sisa-sisa kejayaan masa lalu dalam karya misi di tanah Lembata masih tampak terang. Orang Lembata, khususnya Paroki Lerek dan Boto, akan mengenang pastor yang dijuluki “Niko Konok” ini dengan tubuh tinggi besar menunggang kuda dan melarikan sepeda motor dengan kecepatan tinggi saat roda-rodanya melumat jalanan berbatu tanpa ampun. Beberapa kali Pater Niko “mencium” aspal tanah Lembata juga tapi ia segera bangun lagi dan terus berjalan.

Misionaris asal Amerika Serikat yang berkarya selama 24 tahun di Paroki Lerek dan 18 tahun di Paroki Boto, Kabupaten Lembata ini  melewatkan hari-hari tua di RS Bukit milik Keuskupan Larantuka.  “Sekarang saya harus menggunakan tongkat. Kaki tidak begitu kuat lagi,” katanya beberapa waktu lalu.

Terbayang tubuh yang kian rapuh ini pada tahun 1960-1970-an menjelajah seluruh Pulau Lembata untuk melayani umat dengan kondisi jalan yang sangat buruk, fasilitas yang terbatas dan sarana komunikasi yang minim.

Para misionaris SVD mempersembahkan diri hingga batas akhir. Semua misionaris SVD yang pernah bekerja di tanah Lembata telah kembali ke pangkuan Bapa di Surga. Pater Niko Strawn SVD adalah satu-satunya misionaris SVD di tanah Lembata yang masih hidup.

“Saya benar-benar merasakan persaudaraan yang luar biasa bersama rekan imam di Lembata ini. Kita cape-cape tourne, kunjungan ke stasi-stasi tapi saat kembali ke rumah misi SVD di Lewoleba, kita merasakan kebahagiaan karena persaudaraan yang tulus. Itulah yang membuat kami tetap setia kembali melayani umat,”  tuturnya.

Potret-potret dalam bingkai yang terpampang di dalam kamar menarasikan gelora karya misioner di tanah Lembata. Foto-foto hitam putih yang bertahan sangat lama itu tampak benderang mengisahkan karya misi Serikat Sabda Allah (SVD) pada tahun 1960-an saat Pater Niko menjejakkan telapak kaki misionernya di haribaan tanah Lembata. Tampak Pater Niko Strawn yang masih muda berpose di depan dua ekor kuda hitam dengan latar belakang rumah misi SVD yang kini menjadi Rumah Dekenat Lembata.

Alam sangat asli. “Kuda-kuda ini menjadi kendaraan yang membawa kami patroli dan datang pertemuan di Lewoleba,”  kenangnya.

Potret lain adalah gambar para misionaris SVD yang berkarya di tanah Lembata: Pater Bene Atok SVD, Pater Eugene Schmit SVD, Pater Arnold Dupont SVD, Pater Niko Strawn SVD, Pater Frans Soo SVD dan Pater John Suban Tukan SVD. Inilah kelompok misionaris SVD di tanah Lembata yang saling meneguhkan dalam seluruh karya pelayanan.

Tapak hidup Pater Niko Strawn SVD terekam dalam buku Semerbak Kerajaan Allah di Bumi Lembata yang ditulis Pater Ande Mua SVD (Penerbit Ledalero, 2010).

Pater Niko Strawn SVD lahir pada 24 September 1934 di Oelwein, negara bagian Iowa, Amerika Serikat. Wilayah tersebut terkenal sebagai daerah pertanian dan peternakan yang luas dan subur di bagian Midwest Amerika Serikat.

Pater Niko adalah putera keempat dari enam bersaudara, buah kasih Lorens David Strawn dan Loretta Bauer. Mama Loretta berdarah Jerman dan Bapak Lorens berdarah Inggris karena orang tua adalah imigran dari Wales. Saudara-saudaranya adalah Loren, Dale, Delbert, Allan dan Paul.

Benih panggilan menjadi Imam tumbuh pada usia 12 tahun saat duduk di bangku sekolah dasar. Ia memang dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama. Mama Loretta saat Niko masih kecil membuat sebuah altar kecil di rumah dan meletakkan patung Bunda Maria dengan bunga-bunga yang selalu segar.

Setelah makan malam, sekeluarga berkumpul dan berdoa. Salah satu intensi doa ibunya adalah agar salah satu anaknya terpanggil menjadi imam. Panggilan menjadi imam yang mulai tumbuh ini semakin diteguhkan oleh kehadiran dan kesaksian hidup pamannya, Pater William Bauer SVD, yang sering berkunjung ke rumahnya.

Pater Niko sangat mengagumi sosok imam dalam diri pamannya itu. Pada tahun 1948, saat berusia 14 tahun, ia masuk seminari hingga akhirnya ditahbiskan menjadi imam pada 2 Februari 1962. Ia ingin menjadi misionaris di Indonesia, namun untuk masuk ke Indonesia tidak mudah karena waktu itu Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malaysia.

Indonesia: Tanah Misi Impian

Pater Niko Strawn SVD, misionaris muda belia ini akhirnya menginjakkan kakinya di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta 4 Desember 1963 setelah menempuh perjalanan laut selama kurang lebih dua bulan. Rombongan meninggalkan Pelabuhan Laut San Fransisko Amerika Serikat pada 20 Oktober 1963.

Ia diterima dengan hangat oleh Pater Yosef Diaz Vera SVD. Setelah beberapa hari di Soverdi Jakarta, Pater Niko berpindah ke Surabaya dalam rangka persiapan menuju Ende Flores.

Pada 12 Desember 1963 ia bertolak dari Surabaya menuju Ende, Flores dengan KM Stella Maris, kapal milik SVD. Dalam perjalanan dari Surabaya mendekati Madura, musibah kebakaran terjadi di bagian bagasi kapal. Seorang karyawan kapal yang marah karena ditegur oleh pimpinan kapal berhubung ia tidak menyusun barang-barang dalam bagasi dengan baik, merasa terhina dan menyulut api secara diam-diam untuk membakar karung-karung kosong yang siap untuk mengisi kopi Hokeng.

Ada tiga misionaris SVD dalam kapal itu yaitu Pater Niko Strawn SVD, Pater Marianus Krol SVD dan Pater Frans Lachner SVD. Ada 6 suster, tiga suster SSpS dan tiga CIJ. Penumpang lain sekitar 30 orang ditambah para awak kapal.

Para awak dan penumpang panik karena banyak barang terbakar. Sejumlah awak kapal bersama kapten melarikan diri dengan motor boat. Tapi api berhasil dipadamkan. Tidak ada korban jiwa. Kapal berhasil dikendalikan oleh stirman satu bernama Kapten Sina. Kapal diarahkan ke Madura untuk beristirahat sambil menunggu bala bantuan dari kapal lain untuk menarik kapal malang itu ke Surabaya untuk diperbaiki.  Kapal akhirnya ditarik kembali ke Surabaya.

Pater Nicholas Strawn SVD

Pengalaman pahit yang membekas di hati Pater Niko adalah pada musibah kebakaran kapal itu, ada 16 peti perjalanan misi perdana terpaksa dibuang ke dalam laut. Enam belas peti bekal itu berisi buku-buku, pakaian, obat-obatan dan barang-barang lainnya. Di atas 16 peti itu Mama Loretta, ibu Pater Niko menempel telapak tangannya sebagai tanda cinta dan dukungan terhadap karya misi anaknya, Pater Niko.

Pada  28 Desember 1963, Pater Niko bertolak kembali dari Surabaya menuju Ende dengan Kapal Stella Maris setelah dinyatakan layak beroperasi lagi pasca musibah kebakaran di dekat Madura itu. Tiga hari perjalanan menelusuri rantai-rantai Sunda Kecil, Bali, Lombok, Sumba, Sumbawa, Flores dan Timor.

Pada 31 Desember 1963, Kapal Stella Maris bersandar di Pelabuhan Ende. Regional SVD Ende kala itu, Pater Nikolaus Apeldorn SVD menerima dia di pelabuhan. Pater Niko berada di Komunitas Biara St. Yosef sejak 1 Januari 1964. Pada Januari 1964, setelah sempat melakukan perjalanan laut ke Mborong bersama Br. Marianus SVD asal Belanda untuk mengambil kayu api, Pater Niko berlayar menuju tanah misi baru yaitu Pulau Lomblen yang kini bernama Lembata dengan kapal motor Theresia bersama Br. Marianus SVD.

Pater Niko tiba di Dermaga Larantuka dan disambut Pater Laurens Hambach SVD, misionaris SVD asal Amerika Serikat yang telah terlebih dahulu berkarya di Keuskupan Larantuka.

 

Lembata: Tanah Misi Harapan

Pada Februari 1964, Pater Niko Strawn SVD bersama Pater Laurens Hambach SVD bertolak dari Dermaga Larantuka menuju Pulau Lomblen-kini Lembata-menumpang motor laut Sitti Nirmala dengan melewati Pulau Adonara dan menyaksikan keindahan Pulau Solor dalam jejak kaki misi Portugal yang fenomenal.

Pater Niko Strawn SVD tiba di Dermaga Lewoleba yang kala itu masih terbuat dari potongan-potongan pohon lontar. Banyak orang telah menunggu di bibir dermaga kayu itu. Para pelayan dari rumah misi SVD Lewoleba telah menanti untuk melihat wajah misionaris baru untuk tanah Lembata. Ketika itu Lewoleba masih sebuah kampung kecil. Tubuh Lewoleba masih diselimuti pohon-pohon gebang dan asam yang mendominasi seluruh kawasan di pinggir laut yang rata dan luas itu. Rumah-rumah penduduk masih jarang. Sejumlah toko berada di kawasan pasar. Di area bibir pantai, orang-orang Bajo membangun rumah panggung yang menarasikan wajah perkampungan laut.

Rumah misi SVD terletak di mata jalan, berhadapan dengan teluk yang dibatasi oleh pohon-pohon kelapa. Rumah itu beratap genteng kelabu dengan pendopo yang selalu terbuka lebar, dinding bercat putih. Kompleks rumah misi SVD terawat dan terlindung dengan pagar kawat berduri. Lorong-lorong bersih dan berkilat dengan ubin berwarna gelap dan kamar-kamar yang mungil selalu siap bagi siapa pun untuk merebahkan diri dan beristirahat.

Deken Lembata, Pater Bernardus de Brabander SVD yang berasal dari Belanda menerima misionaris baru dengan ramah. Komunikasi berjalan lancar karena Pater Bernardus fasih berbahasa Inggris. Pater Wim van der Leur SVD dan Pater Piet Geurst SVD, misionaris-misionaris asal Belanda yang sedang bercerita di kamar, lalu bergegas menyambut kedatangan misionaris muda.

Betapa indah persahabatan yang terbangun di antara sesama misionaris yang bermisi di daerah terpencil  seperti tanah Lomblen. Pater Niko Strawn SVD mulai merasakan suasana misi di tanah Lomblen dengan mengikuti alur hidup di rumah misi SVD Lewoleba yang terasa sejuk karena berada di samping kebun kelapa yang sangat luas di bawah pimpinan Br. Patrisius Ratz SVD, misionaris asal Belanda. Pohon-pohon kelapa yang telah berusia 30-an tahun tumbuh subur dan dengan buah lebat. Deru kendaraan berat, truk dan traktor berbaur dengan bunyi mesin-mesin pemotong kayu dan alat las datang dari bengkel besar di samping rumah penginapan.

Di samping rumah misi SVD, ada sebuah sekolah dan asrama bagi anak-anak sekolah yang datang dari kampung-kampung di seluruh Lembata. Sekolah itu berpelindungkan St. Pius X dan berkembang dari sebuah lembaga pendidikan guru sebagai persiapan untuk tenaga-tenaga guru sekolah dasar yang dikenal dengan nama sekolah guru bawah (SGB).

Ketika itu Lewoleba telah menjadi sebuah paroki yang umatnya merupakan bauran dari berbagai suku yang datang dari berbagai daerah sebagai pemukim yang baru. Pendopo rumah misi SVD menjadi tempat kegiatan pastoral, mulai dari pertemuan pribadi, urusan sakramen dan administrasi paroki. Gereja paroki berdiri kurang lebih 1 kilometer dari rumah misi SVD yang dibangun pada tahun 1962 waktu Pater Ben Brabander SVD menjadi pastor paroki dengan pelindung St. Maria Banneaux.

Pater Nicholas Strawn SVD di antara rekan-rekannya para misionaris SVD di Lembata

Selama enam bulan di tanah Lembata, Pater Niko Strawn SVD bersama Pater Laurens Hambach SVD menjelajah dua paroki sekaligus yaitu Paroki Ile Ape dan Paroki Lerek. Sejak awal kedatangan di Lembata, Pater Niko sudah bersedia untuk bekerja di Paroki Lerek yang terletak di Kecamatan Atadei. Hal ini pun sesuai dengan penugasan dari Uskup Larantuka, Mgr. Anton Thijsen SVD.

Pada Februari 1964, Pater Niko bersama Pater Laurens Hambach bersiap-siap menuju Paroki Lerek. Koper dan tas-tas dengan segala kebutuhan dan kuda-kuda sebagai alat transportasi disiapkan oleh pelayan-pelayan misi yang terampil dan cekatan.

Kedua misionaris asal Amerika Serikat itu menuju Paroki Lerek dengan menunggang kuda. Bagi Pater Niko Strawn, ini pengalaman pertama yang awalnya menggelisahkan tapi akhirnya sangat menyenangkan, menggembirakan dan membahagiakan kisah perjalanan misi.

Hujan lebat memaksa kedua misionaris ini bermalam di Pastoran Lite, satu kampung mungil nan subur yang kini masuk Paroki St. Arnoldus Janssen Waikomo. Pastoran itu hanya berdinding anyaman bambu dengan pintu yang hanya bisa didorong sekali sentakan tangan langsung terbuka lebar. Malam itu Pater Niko tidur tidak pernah nyenyak di atas sebuah tempat tidur dari bambu. Sedangkan Pater Laurens merebahkan badan di atas meja makan yang pendek sehingga kaki tergantung sepanjang malam seperti barang jemuran. Praktis sepanjang malam mata tidak bisa terpejam dengan sempurna.

Pater Niko hanya “terjaga” sepanjang malam dan berharap hari segera siang. Pagi-pagi buta, umat Lite bergegas dengan sarung melekat di badan datang ke pastoran untuk menyalami kedua misionaris. Mereka tahu bahwa semalam ada dua tamu sangat istimewa yang memasuki kampungnya. Sebuah kebahagiaan yang tidak bisa terlukiskan dengan kata-kata sebanyak apa pun. Lalu keduanya melanjutkan perjalanan dari Lite dengan melewati Kampung Lewokukung dan Kenale, tempat peristirahatan bagi rakyat yang hendak menuju ke Lewoleba.

Di Kenale, warga Lewokukung dan Belek biasa menjual kelapa muda, tuak, ketupat, ikan goreng, ayam goreng, jagung titi, buah-buahan dan sebagainya. Kedua misionaris itu akhirnya tiba di Kalikasa dan disambut Pastor Paroki Kalikasa, Pater Yoseph Scheidler SVD, misionaris asal Jerman. Kedua misionaris ini beristirahat semalam di pastoran Paroki Kalikasa sambil menikmati udara yang dingin.

Esok pagi, usai merayakan ekaristi, Pater Niko dan Pater Laurens melanjutkan perjalanan menuju Lerek. Sepanjang perjalanan dari Kalikasa, Karangora hingga memasuki wilayah administrasi  Paroki Lerek, umat berteriak, tuan oling (tuan datang)  dan te kar dor (ayo kita kejar) sambil berlari mengiringi perjalanan kuda yang membawa kedua misionaris.

Keduanya menyaksikan kebun dan ladang petani yang menjadi umatnya yang sederhana tapi bekerja keras di tengah alam yang terkesan kikir agar tetap bertahan hidup. Rumah-rumah umat tampak begitu sederhana: berdinding bambu anyaman dan beratap daun kelapa atau rumput alang-alang dan berlantai tanah. Umat berjalan kaki menempuh perjalanan puluhan kilometer setiap hari pergi-pulang ladang sambil membawa sayur, ubi, kayu api, makanan kambing dan babi serta ternak lain.

Ziarah berkuda dari Kalikasa menuju Lerek seperti kunjungan (tourne) perdana Pater Niko ke tengah umat dalam deretan stasi sepanjang jalan. Pater Laurens dan Pater Niko beristirahat semalam di Stasi Atalojo sambil menikmati suguhan nasi, daging ayam dan sedikit sayur buah pepaya teriris dengan beberapa gelas tuak (minuman lokal) dari pohon kelapa.

Inilah awal sang misionaris mendapatkan julukan dari umat Paroki Lerek dengan sebutan “Niko Konok.” Konok adalah wadah tempat minum yang terbuat dari tempurung kelapa. Di wilayah Kecamatan Atadei  yang meliputi Paroki Lerek dan Kalikasa, orang minum tuak dengan menggunakan konok.

Esok hari, saat mentari telah bercinta dengan bumi Atalojo, tiga ekor kuda yang membawa barang dan dua misionaris SVD bergerak menuju Lerek usai merayakan ekaristi bersama umat di Atalojo. Lerek itu perkampungan yang terhampar sebagai sebuah lembah ibarat sebuah kuali raksasa dikelilingi Gunung Mauraja, Bukit Hobal, Bala Bewa, Lakaraya, Lagan Genek, Beloboho, Taru Girek dan Ilbul. Hamparan itu berisi ladang-ladang yang ditumbuhi padi, jagung, ubi, pisang, pohon-pohon kelapa yang menyebabkan lembah itu tampak hijau.

Suara anak-anak Lerek yang berteriak tuan oling dan orang-orang dewasa yang bergegas menuju ke pastoran adalah ucapan selamat datang kepada misionaris baru yang telah lama dinanti dan dirindukan setelah berakhirnya masa pengabdian Pastor Paroki Lerek, Pater Yohanes Knoor SVD, setelah setahun “kepergian” tragis Pater Henrikus Konradus Beeker SVD di Watuwawer,  19 April 1956. Gereja Paroki Lerek berpelindung Hati Terkudus Yesus  berdiri megah di tengah kampung dengan rumah-rumah dan lumbung-lumbung beratap daun kelapa. Candi gereja menjulang tinggi sambil menatap puncak Gunung Mauraja nan tandus dan runcing seperti penjaga yang setia. Pastoran berdiri tidak jauh dari gereja.

Banyak umat sudah menanti pastor baru. Rumah pastoran Lerek kala itu baru berusia 8 tahun yang selesai dibangun pada tahun 1955, setahun sebelum kematian berdarah di Watuwawer. Rumah ini akan menjadi istana bagi Pater Niko Strawn SVD selama 23 tahun melayani umat Paroki Lerek.

Pater Niko Strawn SVD mengabdi di Paroki Lerek  sejak tahun 1964-1986. Pater Niko pernah dibantu oleh Romo Gerardus Muran dan Pater Damasus Kabelen SVD.

Setelah berkarya selama 24 tahun di Paroki Lerek, pada tahun 1987, Pater Niko berpindah ke Paroki Boto yang terletak di Kecamatan Nagawutung. Di Paroki Boto ini, Pater Niko melayani umat selama 18 tahun hingga masa pensiun di RS Bukit Lewoleba.

Kini, Pater Niko menatap masa depan dalam kepasrahan total pada kehendak Allah. Ia setia merayakan ekaristi dan mengunjungi pasien di kamar RS Bukit. Sebuah kehadiran yang meneguhkan penderitaan umat. Ia tetap sosok misionaris yang lembut dan bersahaja. Tuan Niko “Konok”, proficiat dan selamat berbahagia! *

 

Penulis, Perintis Oring Literasi Bukit Waikomo,  Lembata

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *