Drs. Mesakh Amalo: Jangan Buat Orang Susah

  • Whatsapp

Pengantar Redaksi:

Pemerintah Kota Kupang memberi penghargaan kepada (Alm) Drs. Mesakh Amalo dengan menggunakan namanya sebagai nama jalan di Kota Kupang.

Bacaan Lainnya

Jalan itu terbentang dari Bundaran Patung Tirosa menuju traffich light (lampu pengatur lalu lintas) di pertigaan dekat Swalayan Dutalia, Jalan Timor Raya. Ruas jalan ini sebelumnya dikenal dengan nama Jalan Pulau Indah.

Peresmian Jalan Mesakh Amalo dilakukan Walikota Kupang, Dr. Jefri Riwu Kore,  Rabu (19/8/2020), di Bundaran Tirosa.

Jefri Riwu Kore dalam sambutannya mengatakan, Drs. Mesakh Amalo semasa hidupnya adalah panutan yang baik dalam bertindak, bekerja maupun dalam hidup berkeluarga. Almarhum memiliki prinsip yang selalu dibawa dalam setiap tugas dan tanggung jawab yang diemban.

“Pemikiran-pemikiran luar biasa yang almarhum berikan termasuk kontribusi positif dan juga nyata yang pernah beliau buat telah membawanya pada titik kesuksesan sebagaimana yang kita ketahui bersama,” kata Jefri.

Buat generasi di era 70-80-an sosok ini tentu tidak asing. Tetapi untuk generasi sekarang, Mesakh Amalo barangkali belum dikenal.  Siapakah Mesakh Amalo hingga namanya begitu tenar dulu?

Redaksi kabarntt.co menurunkan kembali secara utuh sosok Mesakh Amalo sebagaimana pernah terbit dalam Majalah Bulanan Kabar NTT (tidak terbit lagi) edisi April 2016.  Selamat menikmati!

SOSOK yang pelit diajak ngobrol, ‘keras hati’ dan ‘jaga image’ hanya bayangan semata. Drs. Mesakh Amalo ternyata sangat mudah dan senang diajak bicara. Pikirannya jernih, alur bicaranya runtut dan runut. Nada bariton pada suaranya memberi warna pada karakternya sebagai orang yang tegas. Dia paham benar tentang lika-liku pemerintahan.

Pada masa tuanya, sosok yang sangat terkenal dengan sikap dan karakter kepemimpinan itu tinggal bersama istrinya di rumah tua mereka di Jalan Kemuning No. 1 Naikolan, Kota Kupang. Ruas jalan di samping rumahnya bopeng dan berlubang. Sudah lama tidak tersentuh aspal. “Waktu peresmian Kantor Gubenur (Kantor Gubernur NTT di Naikolan-Pen), Pak Walikota ketemu ibu. Dia bilang, ibu… kasih tahu bapak, jalan di samping rumah akan segera diperbaiki. Tidak tahu kapan perbaiki,” kata Mesakh Amalo di rumahnya, Sabtu (12/3/2016) pagi.

Nama Mesakh Amalo memang sangat familiar di telinga staf pemerintah di lingkungan Setda NTT dan Pemkot Kupang, juga warga Kota Kupang pada era 1970-an sampai 1990-an. Dia jadi demikian kondang tidak sekadar karena menjadi orang pertama yang memimpin Pemerintah Kota Administratif (Kotif) Kupang, yang kemudian berkembang terus menjadi Kotamadya dan Kota Kupang sekarang. Nama ini jadi pesohor terutama karena  sikap, pandangan hidup dan pendiriannya yang tidak mudah goyah dan oleng. Betul, nama Mesakh Amalo tidak bisa dilepaspisahkan dari titian sejarah Pemerintahan Kota Kupang dan rakyat Kota Kupang.

Dalam ihwal mengenai karakter, Mesakh Amalo tampil beda. Di mata orang lain mungkin tidak popular. Itu misalnya menyata ketika dengan penuh kesadaran dia minta pensiun dini dari PNS pada tahun 1994. Waktu itu posisinya sebagai Asisten 1 Setda NTT dengan  umur 52 tahun.

Ketika menceritakan alasannya pensiun dini, mata Mesakh Amalo ‘menyelam’ jauh ke  ke masa-masa sulit ketika Provinsi NTT masih tiarap merangkak tapak demi tapak di awal tualangnya. Mesakh Amalo sesungguhnya pegawai Depdagri pusat setamat dari Fakultas Sosial Politik Universitas Gajah Madah tahun 1966. Beberapa saat kemudian, dia diminta kembali ke NTT. Makanya dia  tahu benar seperti apa kondisi NTT kala itu.

Kota Kupang sebagai ibukota provinsi, katanya, ‘belum ada apa-apa’-nya.  Aspal baru sampai di pertigaan Oesapa-Penfui. Yang ke Penfui sudah beraspal, tetapi ke Lasiana dan seterusnya hingga ke SoE belum beraspal. Masih berbatu. “Kalau kita bertugas ke daerah di daratan Timor bisa berhari-hari di jalan,” kata pria berdarah Rote kelahiran Waingapu, 23  Agustus 1942 ini.

Disinggung tentang HUT Kota Kupang tanggal 23 April nanti, Mesakh menuju almari di sudut ruang tamu rumahnya. Dia membolak-balik beberapa berkas dan mengambil sebuah kopian surat dalam bahasa Belanda. “Ini, lihat dan baca,” katanya sambil menyodorkan kopian Staatblad Van Nederlandsch-Indie tertanggal 19 September 1886.

Kopian staatblad dengan nomor 171 itu menerangkan  tentang penetapan batas-batas wilayah Kota Kupang ketika itu oleh Pemerintah Belanda. Sisi  timur sampai di Pasir Panjang, utara berbatasan dengan laut, selatan dengan Kuanino dan Tabenu (di mana sekarang?), barat dengan Nunbaun Delha dan Namosain. “Katanya pada tanggal 23 April tahun itu ada penetapan batas-batas Kota Kupang, tetapi staatblad itu dikeluarkan pada tanggal 19 September. Dalam pemerintahan, tanggal penetapan sebuah surat keputusan dianggap sebagai tanggal resmi pemberlakuan  keputusan itu. Maka mestinya, HUT Kota Kupang itu tanggal 19 September,” kata Mesakh.

Meski begitu, Mesakh yang dilantik sebagai orang pertama menjadi Walikotif Kupang tanggal 18 September 1978  ini tidak terlalu mempersoalkan HUT Kota Kupang yang telah ditetapkan pada tanggal 23  April. Bagi dia, hal paling penting yang mesti dikerjakan dan menjadi tujuan pembentukan pemerintahan adalah kesejahteraan masyarakat.

Memimpin Kota Kupang dalam rentang 18 September 1978-26 Mei 1986, Mesakh punya banyak kisah dan pengalaman. Dia agak sungkan disejajarkan dengan seorang kepala daerah seperti bupati atau walikota. “Kota administratif itu mirip dengan kecamatan, masih di bawah Kabupaten Kupang. Pemerintahan lebih banyak dapat dukungan dari provinsi,” tegasnya.

Dengan antusias, Mesakh menjawab pertanyaan Tony Kleden dari Kabar NTT. Ikuti petikannya.

Mesakh Amalo ketika diwawancarai, Sabtu, 12 Maret 2016 lalu

Sebagai Walikota pertama di Kota Kupang, seperti apa Bapak melihat wajah Kota Kupang sekarang?

Kupang semakin maju. Pembangunan terjadi di mana-mana. Tetapi sepertinya tanpa arah, karena tata ruangnya tidak jelas lagi. Pembangunan campur baur, ruko-ruko sepanjang jalan sekarang. Saya tidak tahu seperti apa sistem pengaturannya sekarang, tetapi saya lihat semua campur aduk.

Dalam tata ruang itu kan ada ruang campuran, peruntukannya ya campuran….

Betul. Tetapi semua tempat  sudah jadi campuran sekarang. Pembangunan juga hanya fisik. Sektor lain seperti pembinaan anak muda belum terlalu diperhatikan. Ruang umum terbuka itu hampir tidak ada lagi. Ruang umum terbuka itu sangat penting sebagai tempat anak-anak muda mengekspresikan jatidirinya. Lihat, anak-anak muda sekarang bermain di jalan umum. Kalau perlu di tiap kelurahan itu ada ruang terbuka untuk umum sebagai tempat bermain anak-anak muda, tempat mereka berekspresi.

Pembangunan infrastruktur seperti apa bapak lihat sekarang?

Infrastruktur itu semua pembangunannya kan dari pemerintah pusat melalui DAU-DAK itu. Tidak hanya di Kota Kupang, di semua kabupaten/kota semua dana pembangunan infrastruktur itu dibiayai pemerintah pusat. Lebih dominan dana dari APBN.

Saat menjabat dulu, seperti apa konsep pembangunan Kota Kupang?

Dulu ada perda tentang tata ruang. Kita bangun berdasarkan tata ruang itu. Seperti kawasan yang disebut  Walikota sekarang, pembebasan lahan sudah kami lakukan dulu, sehingga peruntukan di kawasan itu terarah, teratur. Dana pembebasan lahan itu dari pemerintah provinsi pada zaman Gubernur Ben Mboi. Kalau provinsi tidak bantu, saya yakin kawasan Walikota sekarang ini tidak seperti sekarang. Kupang kan hanya kota administratif saja waktu itu. Kalau provinsi tidak bantu dana, banyak kawasan tidak bisa dibebaskan. Pembangunan jalan juga bantuan dari pusat. Dulu itu ada program yang namanya IPJK (Inpres Penunjang Jalan Kabupaten). Kota Kupang juga dapat jatah. Dengan dana itu kita buka daerah baru.

Apa komentar Bapak melihat aparat Pemerintah Kota Kupang sekarang?

Dari sisi pelayanan kemasyarakatan sudah cukup bagus. Banyak urusan administrasi sekarang mudah dan cepat. Yang belum memang kebutuhan atau pelayanan dasar masyarakat seperti air minum. Air benar-benar masalah bagi warga Kota Kupang. Bendungan Kolhua sebenarnya solusi yang bagus mengatasi air bersih di Kota Kupang. Sekarang macet, berarti pendekatan pemerintah yang belum tepat dan bisa diterima masyarakat. Masa hanya beberapa puluh KK saja tidak bisa atasi? Jadi tergantung bagaimana pendekatan pemerintah meyakinkan masyarakat.

Acara peresmian Jalan Mesakh Amalo, Rabu (19/8/2020)

Yang menarik juga adalah perebutan aset PDAM antara Pemkab Kupang dengan Kota Kupang. Apa solusi paling baik?

Bank NTT bisa buka usaha di Surabaya atau tidak? Namanya usaha kan bisa di mana-mana. Pemerintah kabupaten bisa buka usaha di Kota Kupang, sebaliknya juga Kota Kupang bisa buka usaha di kabupaten. Dalam usaha penyediaan air, Pemkot Kupang silahkan buka usaha baru, tawarkan harga dan pelayanan kepada masyarakat. Silahkan bersaing, mana yang terbaik itulah yang akan dipilih masyarakat. Rumah saya di Walikota dulu pake PDAM Kabupaten Kupang. Tetapi karena pelayanan tidak betul-betul, saya kasih putus dan ganti ke PDAM Kota Kupang. Tidak perlu rebut aset PDAM. Aset PDAM Kabupaten Kupang, biar saja kabupaten yang urus. Ahok saja bisa pindahkan penghuni Kalijodo, masa beberapa puluh KK di Kolhua tidak bisa? Ada penolakan itu biasa, tetapi karena pemerintah siapkan  rumah susun yang lebih baik dan nyaman, mereka mau pindah juga. Tergantung pendekatan pemerintah. Prinsipnya jangan korbankan rakyat. Karena pemerintah kan bertujuan sejahterakan rakyat. Masalah Kota Kupang belum sama dengan Jakarta. Jakarta saja Ahok bisa selesaikan, masa Kupang tidak bisa? Apa Ahok perlu datang ke Kupang?

Sosok pemimpin di Kota Kupang kira-kira seperti apa?

Pertama harus konsisten. Kalau sudah keluarkan peraturan daerah, ikuti  aturan itu. Kalau ada kawasan sudah ditetapkan jadi jalur hijau, ya harus ikuti sehingga betul-betul jadi jalur hijau, jangan ubah lagi. Kedua, gunakan pendekatan kultural dalam membangun. Masyarakat perlu didekati dengan pendekatan kultural, jangan pendekatan kekuasaan semata. Ketiga, pemimpin itu harus punya komitmen untuk bangun dan mengabdi masyarakat.

Sosoknya seperti Mesakh Amalo?

Hahahaa…. Saya sudah selesai. Setiap zaman punya orangnya.  Tetapi  menurut saya Kota Kupang butuh pemimpin yang konsisten, punya integritas dan harus punya komitmen membangun. Kalau tiga ini ada, yakinlah rakyat akan senang dan pembangunan akan sukses. Penghargaan seperti Adipura itu tidak perlu dikejar. Kalau kita kerja bagus, Adipura itu datang dengan sendirinya. Jangan kita kerja hanya untuk mengejar suatu predikat.

Konon staf pemerintah di provinsi sangat membanggakan Bapak?

Ya, mungkin begitu. Tetapi mereka yang pernah bekerja dengan saya, rata-rata jadi bupati atau sekda. Gaspar Ehok, John Leto, Gabriel Manek, Barnabas Ndujurumana, Robert Lie. Mereka itu pernah kerja dengan saya.

Apa keunggulan Bapak sebetulnya dalam bekerja?

Saya kerja tidak  pernah pikir doi. Yang ada itu cuma pengabdian. Kalau kita kerja dengan sungguh, dengan maksud pengabdian, semuanya akan mudah, akan disenangi rakyat.

Sekarang pemimpin lahir dari proses politik melalui pemilu. Banyak kepala daerah yang bukan berlatar belakang birokrat. Apa komentar bapak?

Tidak masalah. Artinya rakyat yang pilih pemimpinnya. Maka yang perlu diperhatikan adalah bagaimana partai politik menyiapkan kadernya, Kader yang baiklah yang harus didorong untuk dipilih rakyat.

Walikota Kupang, Jefri Riwu Kore (kiri) menyerahkan SK Jalan Mesakh Amalo kepada Nyonya Wilhemina Amalo Taolin (kanan)

Menurut bapak, sebaiknya pemimpin itu politisi atau birokrat?

Menurut saya sama saja, tergantung pada orangnya. Jokowi, Ahok itu bukan birokrat, tetapi mereka sukses karena punya integritas moral, konsisten dan punya komitmen mengabdi rakyat. Jangan jadi pemimpin kalau hanya mau cari kedudukan dan posisi enak saja. Tetapi sekarang tergantung rakyat juga, karena dia yang pilih.

Bagaimana ceritanya sehingga dulu bapak menolak jabatan dan minta berhenti?

Ada tour of duty. Saya tidak dapat jabatan, diminta jadi staf ahli. Staf ahli waktu itu bukan lembaga resmi, itu hanya dibuat-buat saja dan tidak ada kerjaan. Karena itu saya berhenti saja, itu lebih terhormat. Daripada frustrasi karena tidak ada kerja.

Maaf, boleh tahu mengapa Mesakh Amalo tidak diberi jabatan oleh Gubernur Herman Musakabe?

Tidak tahulah, jangan tanya saya, tanyakan kepada Herman Musakabe karena dia yang atur. Saya rasa seluruh pengabdian saya sia-sia. Saya jadi pegawai ketika umur NTT baru delapan tahun lebih. Kupang waktu itu tidak ada apa-apanya. Jalan aspal baru sampai di pertigaan Oesapa-Penfui. Ke Atambua itu jalannya berbatu. Hubungan ke seluruh daerah di luar Kupang putus. Kalau kita mau ke Flores harus tunggu Kapal Egon. Saya keliling Lembata, Adonara dan lain-lain. Belum ada lapangan terbang. Lapangan terbang baru ada setelah digerakkan El Tari. Sulitnya yang kita hadapi waktu itu. Nah, setelah enak, kita tidak dipakai. Saya rasa pengabdian saya sekian lama sia-sia, percuma saja.

Nama Mesakh Amalo kan sudah sangat tenar. Kenapa tidak terjun di politik?

Tidak ada bakat ke politik. Keluarga kami adalah keluarga birokrat, tidak ada yang tertarik ke politik.

Sekarang sering dapat undangan menghadiri acara pemerintah?

Diundang, tetapi saya tidak mau pergi.

Sibuk apa di masa tua ini?

Ada-ada saja kesibukan. Urus cucu. Hidup ini harus dinikmati.

Bapak kelihatan sehat sekali pada umur 74 tahun….

Keluarga Besar Mesakh Amalo foto bersama Walikota Kupang dan  para pejabat Kota Kupang

 

Saya sudah divonis tumor di ginjal. Saya periksa di RSCM Jakarta. Setelah lihat penyakit saya, saya disuruh menemui seorang dokter ahli. Saya ketemu dokter ahli itu. Setelah dia lihat saya, dia bilang ada teman saya yang sakit seperti bapak, tetapi harus berobat di Belanda.  Dia bilang ginjal saya sudah parah, sehingga harus diangkat. Saya tanya dia, setelah diangkat apakah saya masih harus cuci darah? Oh, harus cuci darah. Saya pulang, bicarakan dengan istri. Istri saya bilang, hidup kita ada di Dia yang  di Atas (Tuhan, Pen). Akhirnya tidak jadi operasi. Saya jalani saja hidup dengan apa adanya, menikmati saja. Dan sampai sekarang sudah tiga tahun saya masih sehat-sehat saja.

Kekuatan doa barangkali yang membuat bapak sehat-sehat?

Ya, tetapi saya pikir bahwa saya tidak buat orang susah. Kalau saya buat orang lain susah, pasti saya juga akan susah. Kita harus tahu bersyukur dengan apa yang ada pada kita, dengan apa yang diberi Tuhan kepada kita. Masih banyak orang yang lebih susah dari kita. Jangan suka buat orang susah.

Apa pesan bapak untuk para pegawai pemerintah sekarang?

Kerja keras. Perlu kerja keras supaya ada perubahan dan rakyat bisa menikmati hidup.

Bapak mantan orang nomor satu di Kota Kupang, tetapi hidup sederhana saja ya?

Hehehe…. Saat mau pulang ke provinsi setelah jadi Walikota, pegawai agraria datang tawarkan kapling tanah kepada saya. Saya bilang, oke kalau ada ya boleh kasih saya.  Di atas tanah itu saya bangun rumah. Rampung setelah pensiun.

Tidak berpikir manfaatkan kekuasaan untuk cari kekayaan?

Oh tidak akan terjadi pada saya. Sangat berbahaya itu. Tidak mungkin saya  seperti itu. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *