52 Persen Publik Tolak Jokowi Nyapres Lagi

  • Whatsapp

JAKARTA KABARNTT.CO—Mayoritas publik, yakni sekitar 52 persen menginginkan ketentuan masa jabatan  presiden yang ada dalam UUD 1945 yakni 2 periode, tetap dipertahankan dan tidak perlu diubah.

Data ini berdasarkan hasil survai yang dilakukan Saiful Mujani Research Center (SMRC).

Bacaan Lainnya

Sebelumnya ada wacana mengubah Undang-undang agar masa jabatan presiden diperpanjang lagi menjadi 3 periode.

Sebagaimana dilaporkan cnnindonesia.com, SMRC juga melakukan survai terkait respon setuju atau tidak jika Joko Widodo (Jokowi) mencalonkan diri jadi presiden lagi.

Hasilnya adalah mayoritas tidak setuju atau menolak. “74 persen mengatakan harus dipertahankan, artinya ya sudah memang dua kali masa jabatan masing-masing lima tahun. Yang mengatakan diubah itu 13 persen, yang tidak tahu 13 persen,” kata Direktur Komunikasi SMRC, Ade Armando, dalam rilis survai yang dilakukan secara virtual, Minggu (20/6/2021).

Ade mengatakan, dari 13 persen yang ingin masa jabatan diubah itu, persentase terbesar menginginkan presiden boleh lebih dari tiga periode.

“Dari 13 persen itu ditanya kalau diubah menurut anda sebaiknya masa jabatan presiden berapa kali? Yang paling besar sebanyak 31 persen adalah boleh lebih dari tiga kali masing masing selama 5 tahun,” ujarnya.

Lebih lanjut Ade mengatakan, ketika ditanya terkait dengan sikapnya jika Presiden Jokowi maju kembali di 2024, responden yang awalnya mendukung jabatan presiden hanya dua periode goyah.

Dengan pertanyaan itu, didapatkan hasil sebanyak 40,2 persen responden setuju Jokowi kembali maju sebagai capres untuk ketiga kalinya, 6,9 persen tidak menjawab dan 52,9 persen publik tidak setuju.

“Ketika disodorkan nama Jokowi untuk kembali maju, yang setuju dua periode banyak goyah, sehingga tidak lagi jadi 74 persen, meski yang menolak tetap mayoritas. Ada efek Jokowi terhadap sikap publik,” ujarnya.

Survai ini sendiri dilakukan pada 21-28 Mei 2021 terhadap 1.072 responden berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah.

Responden terpilih diwawancara lewat tatap muka oleh pewawancara yang terlatih. Margin of error rata-rata dari survai ini sebesar 3,05 persen pada tingkat kepercayaan sebanyak 95 persen. (cnnindonesia/den)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *