“Tetapi Ia Akan Membaptis Kamu dengan Roh Kudus”

  • Whatsapp

(Sebuah permenungan pada Pesta Pembaptisan Tuhan)

Oleh Pater Kons Beo, SVD

Bacaan Lainnya

Baptis: Sakramen Segenap Manusia

Baptis bukanlah sakramen keanggotaan Gereja, atau keanggotaan dalam Gereja; tetapi baptis adalah sakramen keanggotaan segenap manusia”.

Mungkin pernyataan ini sedikit tidaknya menegangkan. Tetapi itulah yang diyakini oleh Herbert McCabe, OP. Yang ada di benak religius Dominikan itu adalah bahwa pembaptisan adalah sakramen perjumpaan dengan sesama dan dengan dunia semesta! Pembaptisan ibarat titian melaluinya siapapun segera berjumpa, mengalami dan terutama bersahabat dengan aneka kisah kehidupan dunia.

Betapun demikian, hal ini hanya mungkin, saat pembaptisan dipakai sebagai senjata pamungkas demi mematikan apapun yang memisahkan kita dari manusia lain.

Tentu, bagi segenap anggota Gereja, melalui baptisan, ada keyakinkan untuk tetap berziarah  di Jalan menuju Keselamatan. Itulah  yang disimak dari perkataan Yesus, sang Guru. FirmanNya, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup(Yoh 14:6).

Tetapi, jalan-kebenaran-hidup dalam Yesus bukanlah satu pintalan paket yang elitis dan eksklusif. Jalan dan kebenaran dan kehidupan dalam Yesus adalah satu dinamika radikal dalam upaya mencapai: pembebasan, penyembuhan, pengutuhan, mempersatukan (mempersekutukan), serta penerimaan. Bukankah hal ini yang muara dari ziarah hidup bangsa manusia? Bagaimanapun sekian banyak jurang terjal tantangan tetap menganga di depan.

Gereja Yang Tersandera?

Menjadi Gereja yang teraniaya adalah warna-warni dalam mozaik kehidupan iman yang indah, “Kamu akan dibenci oleh semua orang oleh karena namaKu (Mrk 13:13). Itulah yang diingatkan Yesus kepada murid-muridNya. Dalam suasana yang menuntut penyangkalan diri dan salib selalu terbuka luas kesempatan untuk bersaksi (cf Mrk 13:9). Pembaptisan tidak serta membawa seorang murid kepada satu keadaan hidup penuh jaminan, kenyamanan. Malah sebaliknya, pembaptisan membawa siapapun murid Tuhan untuk menggapai alam hidup yang lebih luas. Dengan penuh semangat.

Kumpulan umat Allah tak ditentukan semata oleh selebrasi iman yang meriah! Kita tak cuma berfokus pada alam kontemplatif teduh yang menyentuh kalbu. Gereja pun tak hanya disapa oleh kotbah atau renungan saleh yang sekian afektif. Oleh kata-kata yang menyentak sebatas daya pikat penuh kagum. Kiranya kini, kata si bijak, “Mesti terbuka kesempatan yang lebih luas untuk menghidupkan kotbah ketimbang mengkotbahkan kehidupan.” Kita pasti tidak ‘berminat’ pada Pembaptisan yang hanya menggerakkan kita sebatas hidup kita (Gereja) sendiri. Gereja tak pernah boleh terpasung hanya pada segala gerak keberadaannya sendiri. Pembaptisan adalah panggilan kepada dunia semesta.

Dunia telah terpenjara dan terluka oleh sekian banyak pemisahan. Terseret oleh arus individualisme, oleh perjuangan kelompok-kelompok hanya demi kepentingan sendiri, pada titiknya, menjadikan dunia semakin tercabik-cabik dan porak-poranda. Dunia merindukan dunia yang kaya dan subur akan peradaban nilai-nilai. Bangsa-bangsa mendambakan alam hidup bersama dalam kesejukan dan damai. Kita nyaris tak mengalami dunia yang senyap dari apa yang dilukiskan Rasul Paulus sebagai dunia yang tergurita oleh hidup menurut daging. Gereja komunitas Galatia diingatkannya, “Perbuatan daging telah nyata: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora..” (Gal 5:19-21).  Tetapi, dunia dan Gereja tetap menaruh harapan akan keadaan yang menjanjikan!

Gereja Yang Dibaptis dalam Roh Kudus

Rasul Paulus tunjukkan secara jelas ciri komunitas kristiani (Gereja) yang ditandai oleh kehadiran Roh. Kepada jemaat Galatia diingatkannya untuk hayati hidup yang berbuah Roh. Kata Rasul Paulus, “Tetapi buah-buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri(Gal 5:22-23).

Kepada orang banyak yang mendengarnya, Yohanes Pembaptis bersaksi, “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus(Mrk 1:8). Kita renungkan makna permandian dalam Roh Kudus dalam kisah-kisah keseharian yang kita alami:

Pertama,  permandian dalam Roh Kudus itu menerangi. Kehadiran Roh Kudus itu menerangi alam kegelapan. Tiada kegelapan yang dialami kini selain kepalsuan yang semakin merebak! Sekian banyak orang terjebak dalam ‘kebenaran’ dalam sudut pandangannya sendiri. Dalam situasi demikian kebencian dan kekerasan terhadap kebenaran yang sesungguhnya menjadi tak terelakan. Dalam kepenuhan Roh Kudus, siapapun tetap berada dan berpihak pada kebenaran sebagai terang dalam hidup ini.

Kedua, permandian dalam Roh Kudus itu menghangatkan. Lukisan suasana hidup yang hampa, dingin, serta tak bersahabat, bukannya tanpa kenyataan. Suasana tanpa kehangatan adalah warna dari aura tanpa kekariban. Jauh dari kekerabatan.  Manusia telah terkotak-kotak dalam rupa-rupa perbedaan lebih dan kurangnya.

Permandian dalam Roh Kudus menjadi kekuatan bagi manusia untuk saling berjumpa dan saling sapa dalam kebebasan. Dalam alam demikian manusia dituntun untuk melampaui batas-batas identitas yang sempit dan kerdil. Di situ, tersedia selalu ruang bagi sesama untuk saling berbagi kisah-kisah kehidupan. Tanpa merasa asing. Kehangatan dalam situasi terungkap pula dalam kesanggupan untuk mendengarkan suara-suara ‘lemah’ yang sering tak diperhitungkan.   

Ketiga, permandian dalam Roh Kudus itu menyemangati. Tantangan hidup itu nyata! Manusia tetap saja berhadapan dengan situasi hidup yang berat dan penuh risiko. Memilih berlari dari kenyataan hidup, sekian banyak orang mencari jalan pintas yang menyedihkan dan sungguh membahayakan hidup itu sendiri. Tak sedikit orang yang dibantai oleh rasa putus asa dan kehilangan rasa percaya diri. Permandian dalam Roh Kudus membawa kepada manusia keyakinan dan harapan dalam hidup! Pembaptisan dalam Roh Kudus tetap menjadi spirit yang menjangkau dunia yang terbantai oleh luka-luka kehidupan: perang, kekerasan, kelaparan, sakit dan penyakit, teror (ancaman). “Di sekitar Anda, ada yang nyaris putus asa? Berilah kata-kata, tunjukanlah sikap serta tindakan yang membangkitkan semangat dan harapan.”

Keempat, permandian dalam Roh Kudus itu meneguhkan. Siapapun kita pasti pernah masuk dalam arena kebimbangan. Bukankah sering terasa berat, penuh ragu, serta tanpa kepastian untuk menentukan sesuatu? Menentukan pilihan di antara sekian banyak tawaran bukanlah sesuatu yang mudah. Hidup adalah kenyataan, namun menjalankan kehidupan menegaskan banyak kemungkinan dan pilihan. Jalan hidup Yesus tak cuma ditandai oleh pelayanannya kepada orang banyak. Ada juga kesempatan saat Ia mesti meneguhkan hati para muridNya (Luk 12:1-12). Yang tak perlu ditakuti oleh para murid adalah mereka yang cuma sebatas membunuh tubuh-fisik, itulah kata-kata peneguhan Yesus. Sebaliknya, yang perlu ditakuti adalah “Dia yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka” (Luk 12:4-5).

Marilah kita tetap teguh berziarah dalam kekuatan iman, harapan dan kasih. Demi menyapa dunia dan sesama dalam semangat baptisan Tuhan, dan baptisan tercurah ke atas kita. Penuh semangat dan tanpa putus asa.

Verbo Dei Amorem Spiranti

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *