Sungguh! Itu Bukanlah Kabar Baik

  • Whatsapp

Oleh Kons Beo SVD

Bacaan Lainnya

Kesedihan itu sungguh menyayat. Sedikitpun tak mampu disembunyikan Raja Daud. Berita yang dibawa Ahimaas bin Zadok, dan lalu disusul oleh seorang Etiopia, sebenarnya adalah kabar sukacita.

Isi berita itu adalah kematian Absalom, putra Raja sendiri. Info tentang Absalom yang tersangkut kepalanya pada pohon tarbantin, sehingga ia tergantung antara langit dan bumi (2Sam 18:9) sungguh tak disia-siakan Yoab. Tiga lembing di tangannya jadi senjata pamungkas untuk ditikam ke dada Absalom.

Derita Absalom seakan tak cukup di situ. Dikisahkan selanjutnya, “sepuluh bujang, pembawa senjata Yoab, mengelilingi Absalom, lalu memukul dan membunuh dia” (2 Sam 18:15). Seolah tak puas, “mereka lalu mengambil mayat Absalom dan melemparkannya ke dalam lobang yang besar di hutan itu…” (2Sam 18:16).

Tak tahukah mereka bahwa Absalom itu adalah sungguh putra raja sendiri? Bahwa ibunda Absalom adalah Maakha, yang adalah juga putri Raja Talmai dari Gesur? Dan bahwa Absalom itu adalah putra yang sungguh dikasihi ayahnya, raja Daud?

Namun, semua telah terjadi! Berakhirlah sudah perang saudara satu-satunya yang terjadi dalam Kerajaan Israel bersatu. Dalam sejarah Israel, tak pernah terjadi kudeta berdarah dalam lingkaran istana. Antara orang-orang bertalian darah. Adalah kisah normal saat rakyat sipil memberontak melawan Raja atau penguasa demi takhta dan pengaruh.

Tetapi Absalom telah tunjukkan ketidaksetiaannya pada raja Daud, ayahnya sendiri. Kuasa dan takhta telah membutakannya untuk menjadi seorang anak pemberontak. Dia telah berhasil menarik simpati  sekian banyak orang Israel untuk melawan Daud. Di ujung sikap gila kuasanya itu, iya terjadi perang saudara berdarah-darah di hutan Efraim dan di daerah sekitarnya.

Alkitab lukiskannya sekian dramatis. “Tentara Israel (kubu Absalom) terpukul kalah di sana oleh orang-orang Daud dan pada hari itu terjadilah di sana pertumpahan darah yang dahsyat: dua puluh ribu orang tewas” (2Sam 18:7). Ini tentu belum terhitung tambahan jumlah korban saat peperangan meluas ke seluruh daerah dan hutan itu.

Tetapi, mari kembali pada reaksi raja Daud tatkalah kematian Absalom sampai ke telinganya.

Di anjung pintu gerbang Daud sungguh berduka, “Anakku Absalom, anakku, anakku Absalom! Ah, kalau aku mati menggantikan engkau, Absalom, anakku, anakku!” (2Sam 18:18:33).

Daud, sebagai Raja, seolah tak peduli akan martabat dan citranya sebagai Raja dan Kerajaannya. Kemenangan orang-orang pilihannnya tak dipedulikannya! Padahal mereka sungguh telah berkorban demi dirinya.

Daud tampaknya lebih melihat dirinya sebagai ayah dari Absalom ketimbang sebagai raja yang memenangkan perang saudara itu.

Yoab sungguh menjadi malu dan kurang hati saat kemenangan itu ditanggapi hampa oleh Daud. Sang Raja itu tetap “menyelubungi mukanya dan dengan suara nyaring meratap: Anakku Absalom, Absalom, anakku, anakku…” (2Sam 19:4).

Kesedihan Daud terlalu kuat untuk kalahkan eforia kemenangan pasukannya. Baginya, kematian sang anak telah mengalahkan rasa hatinya untuk bergembira. Baik tak baik, setia atau pemberontak, saleh atau  berlumur dosa, gagah perkasa atau buruk tampilan, bagi Daud, anak tetaplah anak yang menjadi piagam Kasih Sayangnya.

Sebab itulah Daud sungguh merasa terluka saat kedengaranlah bahwa Absalom, putranya tewas mengenaskan!

Sungguh! Bagi Daud, berita yang dibawa Ahimaas bin Zadok dan orang Etiopia itu bukanlah satu berita sukacita!

Daud dan Absalom, relasi ayah-anak itu memang sudah terkikis oleh abrasi faktor X. Itulah kuasa serentak takhta untuk berkuasa. Pemberontakan tak terhindarkan. Perang sungguh terjadi. Jatuh korban puluhan ribu orang tak terhindarkan. Semuanya berawal dari dari hasrat tinggi untuk  berkuasa tak terbendung. Kuasa itu sungguh telah membutakan!!

Itukah gambaran hati manusia yang bisa terkocar-kacir bahkan porak poranda dalam relasi saat virus kuasa telah membius? Tulang kekuasaan terlalu gampang untuk membuat siapapun untuk terus saling menggonggong dan bahkan saling menggigit.

Bila tak sejuk di hati dan tak bijak dalam sikap, gema perang saudara siap berkumandang. Ini berawal dari, itu tadi, nafsu akan kuasa, kedudukan, jabatan, pengaruh, harta, warisan, serta sekian banyak hal yang fana lainnya.

Dalam lingkaran kebersamaan atau keluarga, komunitas level apa saja, aura dan manuver perang saudara sekian nyata tercium dan terbaca saat bicara tentang agenda (suksesi) kepemimpinan. Nampaknya psikologi kegelisahan lebih  dominan ketimbang  jiwa bersukacita akan sebuah pesta demokrasi yang akan berlangsung.

Hal ini akan bertambah parah andaikan kontribusi kearifan lokal (Bronfenbrenner, 2005) sebagai salah satu pengingkat rasa dan tindakan kekeluargaan ditepikan. Anggota keluarga, pun dalam konteks kebangsaan, lebih bersibukria demi kepentingan. Iya, demi nafsu untuk berkuasa, di antaranya.

Perang Saudara terjadi saat kearifan lokal pun pedagogi nasional ala revolusi mental sungguh terpinggirkan oleh gejolak saling serang tak berujung. Entah sampai kapan berakhirnya.

Narasi-narasi sejuk bernada patriotisme menjadi langka. Sebab orang lebih berkiblat pada keuntungan yang fragmentaris sektarian sifatnya. Perang wacana tak terhindarkan untuk mengalahkan yang dianggap lawan. Atau setidaknya untuk nyatakan we are still alive. Dan terlebih masih punya taji.

Tetapi lihatlah juga pada skala mikro atau menengah. Keluarga-keluarga (kecil-besar) sering tak luput dari riak-riak perang saudara. Masalah warisan, ketakpuasan karena batas tanah, hak dan kewajiban adat yang dirasa tak tuntas, bahkan soal pilih ketua RT  saja bisa jadi kanal untuk ‘tidak baku enak’ dan bahkan untuk ‘baku babat.’

Absalom memang telah mati. Itulah fakta yang telah terjadi. Akan tetapi,  kasih sayang Daud akan Absalom sebagai anaknya sendiri tak pernah  berakhir.

Mari! Pandanglah satu sama lain sebagai saudara sendiri. Sebagai bagian indah tak terlukiskan dalam keluarga sendiri. Dalam kehidupan bertetangga. Dalam kesejukan sebagai  masyarakat, sebangsa dan setanah air, Indonesia, yang segera merayakan HUT-nya yang ke 76 di tahun 2021 ini.

Akhirnya, St. Thomas Aquino berkeyakinan bahwa salah satu panggilan kita sebagai manusia adalah memandang siapapun sesama dalam KASIH.

Verbo Dei Amorem Spiranti

Kons Beo, rohaniwan,  tinggal  di Roma

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *