Sekali-Kali Aku Tidak…

  • Whatsapp

(Bidik Kisah Di Pulau Semau…)

Oleh P. Kons Beo, SVD

Bacaan Lainnya

Setelah nyanyian pujian itu, penuh hati-hati Yesus bilang kepada murid-muridNya, “Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku…” (Matius 26:31). Iya, iman para murid pasti terguncang. Tak siap hadapi kisah getir  derita Yesus, Tuhan dan Guru menuju salib.

Petrus tampil perkasa. Penuh heroisme. Ia lantang bersuara, “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak” (Matius 26:33). Itulah karakter Petrus. Katanya ia cepat tanggap. Sifat dan sikap temperamental terlukis di dalam dirinya. Tampaknya, ia punya nyali untuk hadapi situasi genting.

Tetapi, sabar dulu, Bung! Apakah semuanya sungguh nyata? Kita ikuti kisah lanjutnya. Yesus ramalkan drama Petrus selanjutnya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali” (Matius 26:34).

Namanya bukan Petrus kalau tak keras bagai petra (batu karang). Petrus tak tenang untuk merenung kata-kata Yesus Gurunya. Malah, Petrus menantang, “Sekali pun aku hatus mati bersama-sama Engkau, aku tak menyangkal Engkau” (Matius 26:35).

Adegan penyangkalan Petrus pada titiknya jadi nyata. Pada sangkalan ketiga Petrus bahkan mengutuk dan bersumpah, “Aku tidak kenal orang itu…” (Matius 26:74). Segala kegagahan dan kegarangan Petrus, malam itu, menjadi luluh  lanta. Bukankah malam itu, Petrus tak bagai petra. Ia renyuh bagai tanah liat. Sebab kata Alkitab, “Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya… Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya” (Matius 26:75).

Memang! Perlu perenungan penuh hati-hati untuk membawa Kisah Pulau Semau pulang berakar pada akhir Kisah  Perjamuan Terakhir Yesus dan para muridNya. Maafkan bila tak pas dan agaknya penuh ornamen pelukisannya.

Rasanya keterlaluan untuk harus mengatakan: Para pemimpin Flobamora tercinta ini lagi menyangkali Pemerintah Nasional Presiden Jokowi. Pun apakah mungkin mereka telah mengkhianati rakyat Flobamora sendiri?

“….bangsa ini membutuhkan kemajuan. Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang hebat yang bekerja dengan hati, pikiran, dan keberaniannya….”

Pemimpin seperti itulah yang didukung sepenuhnya oleh para pemimpin di wilayah NTT. “Itu sikap dari seluruh tokoh Nusa Tenggara Timur dan dukungan moril kepada Bapak Presiden Joko Widodo. Kami akan berada di depan, berhadapan dengan siapapun…”

Itulah gelegar kata-kata Bapak Gubernur Laiskodat. Pernah diliris di video YouTube di tahun 2019. Inti seruannya: Jangan coba-coba jatuhkan Jokowi! Bagi NTT Jokowi adalah segalanya. Tagar.id (23 sept 2019) untuk kisah ini beri judul penuh tegas: Gubernur NTT Pasang Badan Buat Jokowi.

Tentu. Pro Jokowi, telah jadi aura dominan di jagat NTT. Lihatlah! Bukankah Jokowi selalu gemilang di dua pesta demokrasi Pilpres 2014 dan 2019 di NTT. Mayoritas warga NTT sepertinya tahu untuk ‘manfaatkan’ hati orang baik sebagai pemimpin. Semuanya demi memberi atensi pada kemajuan NTT. Bukan kah, dalam perbagai kesempatan, NTT menjadi Provinsi yang sering dikunjungi Presiden Jokowi?

Namun, satu kisah gempar baru-baru menyentak NTT. Jumat, 27/8/2021 ada kegiatan penting di Pulau Semau. Judul kegiatannya: Pengukuhan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD). Para elit politik dan wakil rakyat hadir. Dan Desa Otan, Kecamatan Semau jadi terkenal oleh satu kehebohan. Apa yang terjadi sesungguhnya?

Siapa bilang kegiatan itu tak penting? Akses keuangan demi kemajuan NTT itu sungguh mendasar. Namun alam kegiatan sekian terlihat jelas dengan jumlah yang hadir sekian Wah jumlahnya. Ini sekian sensitif untuk diukur dengan standar merasa.

Sejumlah media publik beri judul kegiatan mulia Pulau Semau itu sambil selipkan kata “Pesta!”

Namanya Pesta untuk telinga NTT sudah terasosiasi dengan ramai, kerumunan, atau orang banyak, musik dan gerakan hentak-hentak tubuh! Segala penjelasan rasional dari Panitia jadi tak berarti. Terlihat, logika nalar panitia  kalah telak untuk hadapi logika perasaan warga mayoritas.

Kita sepertinya hilang kepekaan rasa. Kasarnya, “memang tidak malu bikin pesta saat situasi lagi mencekam. Belum bebas dari PPKM level 4.” Ini belum lagi lukisan begitu asyiknya para artis yang lenting-lenting di panggung. Ini bisa jadi bahwa kita perlu katarsis sesekali. Terlalu penat lah rasanya dengan keadaan batin ditekan penuh kecemasan. Tak boleh hilang karakter pesta gembira itu. Pandemi covid-19 sungguh menjenuhkan segalanya.

Bagaimanapun juga sisipan ramainya suasana di acara itu bisa munculkan rasa tak adil. “Kami pung pesta, kalian bubarkan dan penuh halangannya. Pas kamu pung pesta, semuannya jalan aman.” Kemarahan sosial terbangkitkan. Kecemburuan sosial mulai membara.

Tetapi, bisakah tak dibesar-besarkan dengan sentilan kalau-kalau ibadat untuk memuji Tuhan penuh aturan-prokes yang ketat. Tetapi demi kerumunan meriah sekelompok  pejabat, segala aturan jadi tak berarti. Sudahlah. Tak apalah. Tuhan sudah terbiasa dapat perlakuan  tak seimbang seperti ini. Terkadang juga Tuhan mesti ‘pintar-pintar’ untuk mudah dipinang kaum tertentu ‘agar aman Dia disembah’. Bagaimana pun Tuhan itu selalu maha murah dalam kasihNya.

Hari-hari ini, sebaiknya NTT tak usah ribut lagi dengan kisah Pulau Semau, tepatnya di Desa  Otan itu. Antara klarifikasi pakai otak dan alam sentimen yang dikendali rasa tak boleh ada titian perang baku ambil kata lagi. Antara kedua kutub ini ada bagusnya kita diam! Mesti ada jedah penuh hening yang bermakna.

Saya sendiri, sebenarnya berjuang dalam hening untuk tak menulis tentang hal ini. Saya hadir sederhana dan sekenanya saja. Sekedar buat pengandaian simpel. Sekiranya tak ada kegiatan itu yang ‘sudah umpan keramaian.’ Apakah memang tak ada cara lain untuk tujuan percepatan akses keuangan daerah itu?

Seribut-ribut dan segertak-gertaknya Bpak Gubernur Victor Laiskodat yang sering menggelegar, terkadang pula penuh amarah mengguntur, beliau pasti miliki pula a side of interior life.

Di sisi seperti itu, selalu ada keheningan untuk satu penerawangan dan penghakiman akan diri sendiri. Dalam kontemplasi yang sehat, terang dan jujur akan terlihat kasat mata hati bahwa yang rasional tak akan bisa melampaui yang prudential (kebijaksanaan). Sebab terkadang, seseorang (bisa) benar, tetapi dia bisa saja tak cukup bijaksana!

Kita bisa saja yakinkan diri terhadap orang lain untuk pasang badan. Tetapi demi aman diri atau senang diri, kita tak begitu bernyali untuk secepatnya balik badan. Entahlah? NTT (para penguasanya) yang semua mau pasang badan demi Pemerintah (Jokowi), tetapi demi isi Pulau Semau, nampaknya tak bertaji untuk serius Pro Jokowi dalam situasi pandemi ini.

Mari pikir yang positif untuk selanjutnya. Kisah Pulau Semau, Jumat 27 Agustus itu, telah bentangkan hikmah penuh arti. Pasti tak cuma demi keadaban leadership di NTT. Manusia, siapapun dia, terkadang amat tampil bernyali untuk satu ketekadan nan luhur. Tetapi sayangnya ia bisa saja menyangkali dan mengkhianati ketekadannya itu.

Petrus telah menyangkali Yesus, GuruNya tiga kali. Mentalnya jadi kerdil untuk hadapi kenyataan yang mesti terjadi. Bisa terjadi, Anda dan saya, telah lebih dari tiga kali menyangkali kedalaman arti sebuah nilai, bonum commune (kebaikan umum), dan segala sumpah dan janji-janji di kehidupan ini.

Verbo Dei Amorem Spiranti

Penulis rohaniwan, tinggal di Roma

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *