Kebaikan Itu Senantiasa Bercahaya

  • Whatsapp

Oleh P. Kons Beo, SVD

Bacaan Lainnya

Dana bantuan penanganan Covid-19 itu bukan sedikit. Donasi Rp 2 triliun itu telah diterima Kapolda Sumsel, Irjen Pol Eko Indra Heri, bersama  Gubernur Sumsel, Herman Deru. Keluarga besar almarhum Akidi Tio tetap ingat wasiat Akidi, “Semasa hidup almarhum Akidi selalu berpesan kepada anak-anak dan cicitnya untuk memberikan kepedulian kepada sesama. Semua anak almarhum menjadi pengusaha, amanah inilah yang yang diteruskan oleh anak-anaknya.”

Itulah kesaksian dari Prof. Dr. Hardi Darmawan, dokter pribadi keluarga almarhum Akidi Tio.

Saat pandemi Covid-19 masih sekian beringas, ternyata masih ada orang yang berhati dermawan. Situasi ekonomi semakin menjepit.  Sekian banyak orang berjuang untuk bisa bertahan hidup. Sekadar cari makan apa adanya. PPKM sudah terpikirkan sebagai jalan terbaik untuk meredam laju sebaran Covid-19. Memang ada risiko dadakan seperti pada ‘soal asap dapur’ terutama rakyat sederhana pada umumnya. Tetapi itulah langkah kebijakan mesti diambil. Kita mesti punya niat teguh  untuk tahan diri dari kegiatan dan perjumpaan ramai-ramai yang amat riskan!

Dalam situasi global dan tanah air yang belum menentu ini, hidup sudah jadi satu kisah ratapan. Nada-nada lamentatif telah jadi milik semua. Kepanikan jadi tak terhindarkan. Covid-19 menjadi segalanya. Telah tampil sebagai kelumrahan dalam keseharian. Seluruh pancandra telah terserap total oleh aroma Covid-19. Bukankah mata kita telah terbiasa memandang uniform petugas Satgas Covid-19 di saat ada  pemakaman penuh pilu itu? Tidakkah telinga sudah terbiasa mendengar raungan sirene ambulans yang membuat keluh dan sesak di dada?

Psikologi derita rumuskan kedekatan hati satu terhadap yang lain di saat terjadi musibah. Rasa dan tindak simpati bisa terlahir spontan. Bencana sepatutnya direaksi dengan sikap dan tindakan bersama. Itupun terjadi andaikan semuanya, atau setidaknya kebanyakan, miliki satu pemahaman kolektif serta niat hati nan tulus untuk menantang situasi secara bersama pula.

Kita tak kolaps asa. Tetap dan selalu saja ada yang berpikir dan bertindak heroik plus karitatif. Para medis itu, misalnya, memang bukan segalanya. Aspek ragawi tentu tak luputkan mereka dari keletihan dan kejenuhan. Bagaimana pun sisi kemanusiaan, yang dipintal dalam tindak medis penuh empati, telah mereka tunjukkan. Paramedis tentu juga dihantam kepikiran akan diri dan sanak keluarga sendiri. Tetapi yang terbaik telah mereka buktikan.

Kita memang merasa risi tak nyaman saat gerak-gerik kita sepertinya dihambat. Ada hati bergolak saat ada sekian banyak aparat  keamanan yang menyisir dan menyusuri segala mobilitas kita. Maklum, banyak aktivitas kita yang sekian mengandung ungkapan naluri kumpul-kumpul dan mengumpan keramaian. Derita Covid-19 meningkat, tetapi segala jenis hajatan jalan terus!

Mari kita kembali lagi pada dana amal keluarga besar Akidi. Sekeluarga besar ini memang punya garis tangan untuk memberi. Menurut Hardi “Keluarga ini sering membantu masyarakat, termasuk sejumlah panti jompo di Palembang, khususnya ketika  pandemi melanda” seperti dirilis Kompas. Tak ingat diri dan tak berfokus semata-mata pada segala usaha keluarga, mata dan terutama isi hati keluarga Akidi sudah terlatih untuk menyasar suasana umum dan keadaan getir yang dialami sesamanya.

Akidi dan turunannya mungkin tak terlalu repot dengan segala kasak-kusuk yang berkaitan dengan kekuasaan. Tak ada niat untuk satu gelagat politisasi donasi penangangan Covid-19 demi pencitraan murahan. Apalagi bila harus ditelisik sebagai strategi untuk menggoyang dan mendepak pemerintah. Donasi Akidi Tio dan turunannya tetaplah punya ekspresi hati tulus bercaya. Tak ada aksi lihai penuh kelicikan sekedar ‘Jokowi end game,’ misalnya.  

Donasi Akidi bisa ditangkap pula sebagai sikap glorifikasi akan nilai kemanusiaan. Pemuliaan martabat dan nilai manusia itu adalah juga ungkapan hormat, sembah bakti, serta ketakutan suci akan Tuhan. Tuhan yang adalah segalanya, yang melampaui batas-batas cara pikir dan ciri sikap-tindak yang terpola ketat dalam forma-forma sempit nan picik: agama, suku, asal, dan terutama kepentingan. Entahkah donasi Akidi dan turunannya itu adalah sebentuk legitimasi ringan terhadap publik bahwa mereka adalah turunan etnis Tionghoa warga Negara Indonesia yang sugguh Pro Patria?

Bagaimana pun, keluarga ini telah mendatangi Polda Sumbar dengan niatan suci. Dua Triliun Rupiah itu dibawa untuk diteruskan kepada yang berkepentingan. Ya, demi penanganan Covid-19. Ini tentu bukan dana liar nan senyap seperti yang dikaroseri oleh para bohir demi mengumpan para perusuh keluar  ramai-ramai dan berjilid-jilid  untuk bikin onar di jalanan.

Dari Akidi Tio dan keluarga besarnya, kita akhirnya menjadi yakin bahwa karya amal dan tindak karitatif ternyata adalah satu perbuatan yang nyata! Tak hanya sekadar omong dan terus bicara (saja) seperti yang disukai para pengkritik yang tak ber-solusi praktis. Tentu benarlah Rasul Yakobus dalam Alkitab, Sic et fides, si non habeat opera, mortua est in semetipsa”-Yak 2:17 (Demikian juga dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati).

Sungguh! Iman itu tak akan pernah redup dalam perbuatan-perbuatan baik….

Verbo Dei Amorem Spiranti

Pater Kons Beo, SVD, tinggal di Roma

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *