Kami Memang Anak Tangsi

  • Whatsapp

Oleh Rm Beni Lalo, Pr* dan P. Kons Beo, SVD**

Bacaan Lainnya

Dasar Anak Kolong

Tulisan Suhendra, Petrik Matanasi di tirto.id itu sungguh menarik. “Kenakalan Anak Kolong dan Sejarahnya.” Itu judulnya. Enak disusuri dengan keluasan uraian yang OK punya.

Dari jalan sejarah di masa silam, “sebuatan anak kolong hanya ditujukan kepada anak-anak serdadu yang berpangkat rendahan…anak serdadu berpangkat di bawah kopral” tulis Matanasi. Kira-kira begitulah bayangan dasar tentang anak kolong di zaman kolonial Belanda.

Bila mesti diringkas dari Matanasi, di zaman itu betapa serba terbatasnya gerak hidup seorang serdadu (KNIL). Apalagi bila harus bicara juga tentang bilik-bilik sempit yang mesti dihuni. Pas untuk dua orang tinggal dengan tempat tidur. Itu buat serdadu bersama pasangannya. Lalu anak-anak? Syukurlah, masih ada cukup spasi di bawah kolong tempat tidur.

Maka, area kolong tempat tidur itulah kerajaan bagi si anak serdadu. Di situ ia tidur, di situ pula ia bermain, bercerita. Dan kita bayangkan saja bahwa si anak kolong bisa bikin ramai apa saja dengan teman-teman di bawah kolong tempat tidur itu. Asyik kan?

Dari situlah istilah anak kolong itu lahir. Di era-era berikutnya, sebutan anak kolong sudah melebar hingga  anak-anak yang orangtuanya berpangkat tinggi sekalipun. Yakinlah, bahwa asal bapanya berpakaian militer, punya dan pegang senjata, seorang anak sudah terpanggil sebagai anak kolong. Namun, anak kolong tentu tak sekadar sebuah arena.

Alam militer, tangsi, apalagi ‘ada senjata’  ternyata punya dampak pada perilaku pula. Mudah terbaca anak-anak kolong itu tampil berani dan kurang ‘takutnya’, banyak nekadnya, tidak peduli banyak, hura-hura, ‘gara-gara banyak’. Terkesan urakan serta sembrono, tanpa beban hingga banyaknya kenakalan sana-sini. Mudah sekali untuk diamini bila ada jejak-jejak keanehan perilaku, “Namanya saja anak kolong… Ya, dasar anak kolong.”

Sebaliknya, bila tampak agak halus-halus, apalagi lembek-lembek, terlalu sopan, tidak ada aura ‘gara-gara,’ tampil takut-takut, tutur bicara sekian tertib atau halus,  maka rasa-rasanya ada sesuatu yang aneh di situ. Anak kolong model apa pengejut mati punya…”

Ada lagi yang lainnya. Mungkin seperti mitos populer begitulah kedengarannya. Anak-anak kolong (tangsi)  itu tidak pas untuk berprofesi seperti dosen, guru, perawat, pendidik. Pokoknya segala profesi yang berurusan dengan tata krama dan formasi budi pekerti, agaknya riskan untuk cita-cita seorang anak kolong. Tentu ada rasa bangga dan ‘senang mati punya’ dalam ‘keluarga besar tangsi, anak-anak kolong’ di saat-saat ada anak-anak polisi atau tentara yang bisa ‘jadi pendeta, bruder, frater, suster atau imam..’ Walau bisa saja tetap ada senggolan tipis, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari tangsi polisi atau asrama tentara?” Waduh, mau bagaimana lagi dengan ‘stigma sosial’ ini?

Seluas Kolong Langit

Dunia kekolongan itu indah. Satu lukisan kisah hidup yang dengan variabel sosial nyata nan telak. Kisah hidup di tangsi sungguh eratkan kekariban. Banyak permainan penuh kreatif. Mulai dari bola kaki di halaman tangsi hingga ‘maen karet, kelereng, wayang, tali merdeka, siput untuk anak-anak putri, maen inggo, maen perang-perangan… Intinya, selalu ada keramaian.  Menyenangkan memang.

Jarang tu ada sesama anak kolong yang baku pukul. Tentu ada hati yang tidak baku enak juga waktu bermain bersama. Tapi tidak baku tegur itu jarang sekali berlangsung lama.

Dunia tangsi sungguh adalah alam permaianan penuh kebebasan. Seorang anak kolong sepertinya sekian spontan bergerak lincah dari satu blok ke blok lainnya. Dari blok tamtama/bintara hingga ke blok perwira. Sepertinya tak ada sekat pemisah yang tinggi dan tebal.

Hebatnya lagi, mama-mama  kami itu perlakukan semua anak-anak kolong seperti anaknya sendiri. Bisa saja hari ini makan siang di barak sini, besok bisa makan di blok berikutnya. Aman-aman saja. Tetapi seorang mama bisa marah dan tegur keras anak kolong siapa saja di tangsi bila kelewatan nakalnya. Ya, itu tadi, karena dianggapnya sebagai anaknya sendiri.

Tentu, lebih dari dari sekadar relasi kekariban biasa, ‘anak-anak kolong itu’ sudah saling memandang sebagai ade kaka. Meski tak sedarah, tapi sungguh nikmati hidup sebagai saudara-saudari. Sekian afektif dan mendalam di rasa hati.

Hidup di tangsi pun layaknya hidup di alam wawasan Nusantara. Kental dengan banyak aroma kemajemukan. Tentu dalam banyak ragamnya. Ada bapa-bapa polisi yang berasal dari Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Sulawesi hingga Ambon. Belum terhitung dengan variasi asal dari kawasan Flobamora itu sendiri.

Maka jadilah anak-anak kolong itu, itu tadi, sudah pelesiran multi-etnis dan kejamakan budaya. Dari tangsi polisi Ende saja, misalnya, kami masih ingat Om Supit Tambengi dari Manado atau Pak Timbul Sianturi dari Sumatra Utara sana atau Om Legiman dari Sumbawa yang bertahan terus hingga ajal di Ende. Bila harus ditulis semua nama, wah bisa panjang jadinya nanti.

Hidup Apa Adanya…

Yakinlah, anak-anak kolong itu hidup apa adanya. Lukisan sederhananya adalah tak banyak menuntut ini itu. Bisa bergaul akrab dengan siapa saja, walau sering disegani oleh anak-anak lain seperti ‘kumpulan anak-anak sopir’ atau ‘anak-anak guru’ (pasti ada yang terganggu dengan pernyataan ini). Geliat hidup di tangsi sudah tebalkan mental anak-anak kolong untuk mudah adaptasi. Kapan dan di mana saja.

Lahir dan dibesarkan dalam kebersamaan sudah memberikan gairah keluwesan tersendiri. Tetapi tentu dalam sapaan harian biasa, ‘kata-kata kurang enak’ sering terdengar. ‘Baku maki’ itu normal untuk satu komunikasi. Hanya kata-kata aneh saja yang selalu terdengar. Namun itu sebatas suara. Tak keluar dari hati. Tidak karena baku tengkar sengit apalagi hingga bakalai yang berujung tidak baku omong.

Bagaimanapun hidup apa adanya, itu tadi, telah jadi satu kekhasan yang kuat. Belum lagi bila harus alami satu kebersamaan bela rasa dan sama rasa. Bayangkan, satu buah mangga saja bisa dimakan bersama dengan ‘gigit baku over.’ Sepertinya amat pemali bagi anak-anak kolong untuk bersikap ‘sekikir’ atau disebut, seingat kami, ‘mi’i mati punya.’ Satu ungkapan populer yang menjelaskan sikap pelit, mungkin bahasa lainnya ialah kurang solider atau tak rela berbagi. Mungkin saja nafas dan jiwa bersama anak-anak kolong terpengaruh kuat oleh ‘beras karung hasil pembagian bulanan.’

Bagaimanapun, hidup apa adanya sudah membawa sukacita. Terkadang ramai-ramai kejar layang-layang dengan celana benglon yang itu-itu saja, juga sudah menyenangkan.

Di antara persekutuan anak-anak kolong, hampir tak ada yang tampil sekian elitis atau stel mo bagaya lebih dari yang lain. Walau ia anak level perwira sekalipun. Gara-gara tangsi, anak-anak  kolong mesti tampil sama dan seragam sepertinya. Terhitung dari potongan rambut yang ‘pendek-pendek tipis dan lepas sedikit rambut di bagian ubun-ubun’ hingga cara berpakaiannya. 

 

Sudah Dekat Hari Bhayangkara

Jelang satu Juli adalah pesta meriah bagi anak-anak kolong. Satu Juli itu hari lahirnya Kepolisian Republik Indonesia (Hari Bhyangkara). Dari sejarah, pada 1 Juli 1946, institusi Kepolian RI  lepas dari Kementerian Dalam Negeri dan Jaksa Agung. Oleh Penetapan Pemerintah Tahun 1946 No 11/SD, Polri bertanggung jawab langsung kepada Kepala Pemerintahan. Tetapi, mari kita lepas dulu sejarah Polri itu.

Jelang Satu Juli, di tangsi selalu ada keramaian. Ada banyak sekali kegiatan, perlombaan ini, perlombaan itu. Inilah gelanggang sukacita tersendiri bagi anak-anak kolong. Bukankah permainan dan atau perlombaan apa saja selalu menyenang. Ya, walau sebatas lomba lari karung atau tarik tambang..

Namun, di atas segalanya, segala kisah menarik di hari-hari silam di tangsi itu terlalu indah untuk dilupakan begtiu saja; terlalu sedih dikenangkan tanpa makna… Setelah anak-anak kolong itu ‘jauh berjalan’ di ziarah hidup masing-masing.’ Harus jauh satu dengan lain. Memang seperti itulah hidup. Iya, teringat  dalam memori yang sulit terlupakan. Kini, hanya sekedar mendengar kabar berita sana-sini. Sekedar mau tanya kabar, misalnya, KK Frans Duka di tanah Papua, atau KK Mien Ratoe Oedjoe di Kupang, atau KK Valen yang di Australia sana. Tentu ada sekian banyak pula yang telah pulang ke keabadian ilahi.

Anak-anak kolong tetap teringat alam tangsi dan suasana asrama. Salam hormat dan dirgahayu untuk institusi Polri pada Hari Bhayangkara ke 75, 01 Juli 2021. Tetaplah dalam semangat Tribrata…

Tetapi, entahkah keramaian jelang Hari Bhayangkara 1 Juli masih ramai oleh berbagai kegiatan? Tak apalah, lain doleoe, lain sekarang. Setiap waktu punya kisahnya sendiri.

Verbo Dei Amorem Spiranti

*   Rm Beni Lalo, Pr, anak kolong, Bapa Asrama Seminari Mataloko, Ngada

* * P. Kons Beo, SVD, anak kolong, Bapa Asrama di Collegio San Pietro-Roma

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *