Football Is Coming to Rome Dan Arena Politik Kita

  • Whatsapp

Oleh P. Kons Beo, SVD

Bacaan Lainnya

Kalaulah Inggris Raya mesti meratap di Wembley, Senin pagi hari, 12 Juli 2021, ini gara-gara ulah ketiga anak muda. Di hadapan Gianluigi Donnarumma, il portiere dari gli azzuri, tiga anak muda itu gagal buahkan hasil.

Memang semula, misalnya, Markus Rashford sudah bikin ancang-ancang penuh harapan. Ada  ‘gaya ombeng-ombeng ambil haluan’ sebelum eksekusi pinalti. Sayangnya, bola membentur tiang gawang.

Bola tembakan Jadon Sancho pun gagal. Mudah terhadang oleh firasat jitu dari Donnarumma.

Dan wajah Bukayo Saka sebelum ‘ambil 12 pas’ kelihatannya sudah sedikit down. Gugup-guguplah tampaknya.

Inggris benar-benar terkubur di stadion kebanggaannya. Mimpi meraih trofi berkelas internasional tak tiba pada kenyataan. Terlalu jauh jarak waktu sejak 1966 saat ia meriah juara dunia. Gareth Southgate , pelatih Inggris gagal persembahkan trofi bagi segenap pencinta tim Inggris.

Donnarumma memang sudah jadi monster bagi tim-tim lawan Italia. Jelas, tak terkecuali Inggris di laga final Euro 2020 ini. Dia pun jadi pemain terbaik di ajang Euro 2020.

Football is coming to Rome” jadi ramai sejagat. Itu slogan milik para tifosi Italia. Katanya, kalimat itu sesungguhnya mau menantang jargon milik fans Inggris, “Football is coming home.”

Dibayangkan saja, andaikan Inggrislah yang jadi juaranya. Itu artinya, sepakbola benar-benar telah kembali ke ‘rahim sumber kelahirannya.’ Sungguh membanggakan. Nyatanya? Terlalu sadis rasanya melihat Leonardo Bonucci, sang kapten Italia, mengangkat tinggi Piala Eropa itu, justru di hadapan Pangeran William, istri dan putranya Pangeran George dari British royal family itu.

Dari Roma, rekan-rekan saya orang Italia, langsung video call. Ramai-ramai ungkapkan rasa sukacita mereka. Intinya “Abbiamo vinto! Siamo campioni d’Europa” – Kami menang; kamilah juara Eropa!” Saya hanya bayangkan saja betapa eforia-nya anak-anak muda Kota Roma yang ramaikan piazza del popolo untuk nonton bareng. Dan hasilnya, itu tadi, Juara Eropa 2020. Untuk nonton ramai-ramai di piaza di San Pietro (lapangan Santo Petrus) tentu tak mungkin! Walau akhirnya ada komen jenaka gembira hatinya Paus Fransiskus: Negara asalnya juara copa america latin; tempat di mana dia tinggal itu juara eropa.

Tapi, mari kita kembali ke Inggris lagi. Ada berita lanjut seputar skuad Inggris. Roy Keane kecam hebat pemain senior Inggris yang tak nongol di adu penalti. Sepertinya ia bereaksi hebat atas tidak tampilnya Sterling atau Grealish untuk jadi eksekutor akhir. Dan malah biarkan Saka, anak muda yang masih berusia 19 tahun. Masih ingusan malu-malu, untuk tendangan terakhir. Tapi komen dan kecaman  si mantan kapten Machester Unted ini masih mendingan dibandingkan dengan serbuan amat tak etis di instagram.

Ada nada-nada rasialis yang ditembakkan di dunia maya. Akun instagram pribadi milik Rashford, Sancho dan Saka diterobos dengan kata-kata dan lukisan ‘yang tidak enak punya.’ Maaf, saya sendiri tak sanggup mengulangi lukisan itu. Disinyalir PM Inggris, Boris Johnson, dan pihak FA akan koperatif dengan kepolisiaan untuk sikap rasialis ini. Seringkali, begitulah dunia olahraga atau di kompetisi manapun. Siap menuju hero, tetapi jangan lupa siap batin untuk di-zero-kan bahkan ditelanjangi hingga ke titik minus ‘tidak ada sisa memang.’

Sementara itu ternyata tetap ada jiwa satria pada Southgate. Pelatih Inggris itu bertanggung jawab penuh atas kekalahan timnya. “Menyangkut penalti, itu keputusan saya dan sepenuhnya berada di tangan saya,” katanya.

Di balik tekanan yang sekian berat tetap ada dukungan. Pemain Inggris, terutama yang masih muda-muda itu tetap butuh motivasi, pengalaman serta ketenangan hati terlebih di turnamen-turnamen besar dan amat krusial. Tentu, gagalnya ketiga anak muda itu tetap jadi kenangan dan pelajaran amat berharga. Bagaimanapun, mereka mesti lewati saat-saat gelap nan gagal untuk menatap harapan di kompetisi mendatang.

Tetapi mari kita menikung ke dunia ‘atur kehidupan masyarakat’ secara praktis (politik). Sepantasnya kita renungkan pentingnya faktor pengalaman dan faktor ketenangan di pentas politik pula. Terkadang imperium dinasti itu secepat kilat daulatkan putra mahkota yang masih belia sebagai pemimpin. Katakan saja, misalnya, Jokowi, yang dengan cara-cara tertentu, dituding sudah siapkan arena bagi anaknya untuk punya kedudukan di Solo dan bahkan untuk anak mantunya di Medan. Atau seperti Puan Maharani, Ketua DPR RI, yang tentu tak lepas dari pengaruh sang Ibu, Megawati.

Barangkali contoh yang lebih telak itu juga dipertontonkan oleh Partai Demokrat. Secepat kilat di Kongres V PD pada Maret 2020, AHY terpilih jadi Ketua Umum gantikan SBY yang ‘kebetulan’ adalah ayahnya sendiri. AHY, memang waktu itu, katanya, sudah punya dukungan 93% suara dari DPD dan DPC. Walau belakangan kelompok KLB sudah mengobrak-obrak posisi AHY sebagai Ketum di luar jalur AD-ART. Tentu ada suara dan sikap apologetik dari segala tundingan miring ini.

Tetapi entah senior, medior atau pun yunior, siapapun warga Indonesia punya hak politiknya. Seperti sekian tenang-tenang mendayung saat seorang mantan jenderal jadi presiden, maka seluruh tumpah darah Indonesia tak boleh panik bagai kebakaran jenggot saat seorang tukang meubel jadi presiden pula. Mungkin bandingannya bagai AHY yang mesti dimantankan dari TNI berpangkat Mayor untuk  tiba-tiba diarahkan jadi Ketua Umum Partai Demokrat atau Ibas, anak  yang ‘masih muda’ namun sungguh melejit mulus jadi Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR melewati para senior lainnya. Intinya semua mesti diterima dengan akal sehat walau hati tetap merasa bahwa ada yang aneh. Katanya, namanya panggung politik, di situlah letak ‘seni permainannya.’

Bagaimanapun, komen dari Wembley-Final Euro 2022 penting untuk disimak. Dibutuhkan apa yang disebut belajar dari pengalaman untuk merumput di lapangan keseharian. Dalam pelbagai rana hidup. Harga kemenangan hidup bersama dalam kedamaian, keadilan dan kesejahteraan miliki ongkos amat mahal. Ini belum lagi bila harus bicara tentang faktor ketenangan (batin) dalam berujar, bersikap atau bertindak. Suara seorang politisi biasanya bergemuruh atau diupayakan untuk ‘bunyi membias ke sana-ke mari.’ Gawatnya bila tanpa ketenangan maka yang terdengar adalah suara gemuruh yang menjadi sumber kegaduhan sana-sini.

Para pemain sepakbola pasti tak hanya fokus pada latihan fisik sejadinya. Pasti ada latihan demi mentalnya yang prima. Maksudnya agar tidak muncul ‘emosi sembarang,’ demi kuasai diri untuk jaga posisi sendiri dan pantau pergerakan lawan. Dan bagaimana pada saat yang tepat, dengan penuh ketenangan, ambil keputusan untuk passing, assist demi goal, bikin umpan teroboson, atau ‘potong tidur’ lawan.

Pada titik ini, saya jadinya teringat akan pendapat seorang teman. Dia sekian yakin akan pentingnya sisi kontemplasi bagi para politisi. Seperti di stadion sepakbola yang penuh sorak sorai keributan, seperti itulah kegaduhan dalam arus politik. Politisi perlu hati yang tenang dan batin yang teduh. Bukan terutama dipenuhinya pikiran kasak-kusuk untuk bagaimana takcling lawan untuk merebut posisi dengan cara ‘tak beradab.’ Tetapi bagaimana sebuah ketenangan yang elok dalam perjuangan demi bonum commune. Iya, demi kebaikan bersama.

Sepertinya politisi kita mesti belajar dari ketenangan hati dari seorang Andrea Pirlo. Dia bukan type pemain yang ‘kuda kayu sembarang’ seperti Genaro Gattuso di masanya, yang sedikit-sedikit suka cari kacau. Atau seperti Pepe, di lini pertahanan nasional Portugal, yang sulit sekali luput dari kartu kuning dalam setiap pertandingannya.

Tetapi, lihatlah di semifinal Piala Dunia 2006 kontra Jerman. Berawal dari satu sontekan terukur Pirlo, begitu indahnya tercipta gol Fabio Grosso  di gawang Jens Lehmann. Atau ketika Joe Hart, kiper Timnas Inggris, yang keduluan jatuh mati langkah, dan melongo saksikan bola masuk. Pirlo,  di pertandingan melawan Inggris di Piala Eropa 2012 itu, tampaknya tenang, dingin dan sungguh percaya diri dalam adu pinalti itu.  Itulah alam ketenangan yang selalu membawa keteduhan…

Verbo Dei Amorem Spiranti.

P. Kons Beo, SVD tinggal Collegio San Pietro-Roma

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *