Duka NTT dan Duka Saya

  • Whatsapp

Mengenang Korban Badai dan Berpulangnya Tiga Tokoh

Oleh Frans Sarong

Bacaan Lainnya

Duka mendalam sedang menyelimuti Nusa Tenggara Timur. Sumbernya dari badai siklon tropis seroja selama hampir seminggu, sejak Kamis (1/4/2021). Adonara di Kabupaten Flores Timur dan banyak titik lainnya di NTT, luluhlantak.  Badai berupa hujan intensitas tinggi disertai angin kencang dan gelombang ganas, untuk sementara hingga Selasa malam dilaporkan telah merenggut sedikitnya 117 jiwa dan 76 orang lainnya belum diketahui nasibnya.

Khusus korban meninggal sebanyak 117 orang itu, masing-masing warga Adonara, Flores Timur (60), Lembata (28), Alor (21), Malaka (3) dan Sabu Raijua (2). Tiga korban meninggal lainnya masing-masing satu dari Kota Kupang, Kabupaten Kupang dan Ende. Sementara 76 korban yang masih terus dicari, masing-masing warga Adonara (12), Lembata (44) dan Alor sebanyak 10 orang (Kompas  6/4/2021).

Sebut salah satu contoh keganasan badai. Kota Kupang berubah menjadi kota mati. Jaringan jalan sempat menjadi alur sungai menghanyutkan banjir. Berbagai jenis pohon bertumbangan menutupi badan jalan, menindih rumah dan bangunan lainnya. Belum terhitung bangunan roboh. Jaringan instalasi listrik PLN remuk. Listrik pun langsung padam. Dan pada saat yang sama akses internet langsung terputus total.  Hingga Rabu (7/4/2021) siang, listrik PLN baru menyala di sebagian kecil wilayah Kota Kupang. Selebihnya masih padam, seperti di kawasan Penfui dan sekitarnya.

Di tengah perkabungan yang sedang mendera, suasana dukanya terasa bertambah pekat. Itu terjadi menyusul berita berpulangnya tiga putra terbaik NTT. Mereka yang berpulang pada hari yang sama, Selasa (6/4/2021), adalah cendekiawan kawakan, Dr. Daniel Dhakidae dan sastrawan Umbu Landu Paranggi. Satu lainnya adalah Bupati Manggarai periode 2016 – 2021, Dr. Kamelus Deno.

Daniel Dhakidae meninggal sekitar pukul 07.24 WIB di Rumah Sakit MMC Kuningan, Jakarta, akibat serangan jantung. Serangan itu terjadi pada dini hari sekitar pukul 03.00 WIB, kemudian dilarikan ke rumah sakit, namun tidak tertolong.

Pada dinihari hari yang sama, seniman Umbu Landu Paranggi juga berpulang. Sang penyair besar Tanah Air ini meninggal dunia di RS Bali Mandara, Denpasar, sekitar pukul 03.55 wita.

Lalu, Dr. Kamelus Deno, menghembuskan napas terakhirnya sekitar pukul 22.20 Wita di Rumah Sakit Siloam Labuan Bajo, Manggarai Barat. Peristiwa duka itu datang setelah almarhum menjalani perawatan di rumah sakit itu selama dua pekan, sejak Selasa (23/3/2021).

Daniel Dhakidae

Bagi saya, kepergian ketiga tokoh terasa menambah pekat perkabungan akibat badai siklon tropis seroja di NTT. Penyebabnya karena saya memang kenal dekat dengan ketiga almarhum semasa hidupnya.

Kedekatan dengan Daniel Dhakidae ketika kami masih sama-sama aktif di Harian Kompas. Sang cendekiawan setelah merampungkan kuliah S3 di Universitas Cornel di Ithaca, New York (AS), mengemban tugas sebagai Kepala Litbang Kompas (1995 – 2005). Merujuk penelitian serta analisisnya yang tajam dan kritis, Daniel Dhakidae selalu tampil memberikan panduan menjaga eksistensi Kompas selama Orde Baru dan era Reformasi.

Pernah suatu ketika tahun 1990-an kebetulan papasan dalam lift dari lantai 3 Redaksi Kompas  ke lantai dasar. Saya menyampaikan apresiasi karena salah seorang putra Flores mendapat kepercayaan menjadi menteri pada Kabinet Gotong Royong. Reaksi sang cendekiawan justru sangat mengejutkan. “Hei Frans, kepercayaan itu bukan sesuatu yang pantas dibanggakan, tapi justru sebuah pelecehan bagi NTT dan Flores khususnya,” begitu respons Daniel Dhakidae.

Berbagai pihak – di antaranya Ketua Dewan Pengurus Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3S), Didik J Rachbini – melukiskan Dhaniel Dhakidae sebagai intelektual yang egaliter, juga individu yang sangat toleran. Namun pada saat yang sama dikenal sebagai intelektual yang keras menentang feodalisme pemerintahan Orde Baru.

Salah satu contoh gugatannya terhadap kekuasaan otoriter Orde Baru bisa disimak melalui salah satu bukunya yang berjudul: Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru (2003). Di sana, almarhum antara lain menggugat kekejaman rezim Orde Baru yang sampai melenyapkan penyair kerempeng Wiji Tukul. Daniel melukiskan Wiji Tukul tidak hanya piawai merangkai kata menjadi kalimat puitik. Sang penyair dan juga rangkaian kata-katanya terasa berkekuatan dahsyat menjadi penggerak massa yang tertindas. Salah satu puisi karya Wiji Tukul berjudul “Peringatan!” Diduga kuat, puisi itulah yang menjadi pemicu hingga kekuasaan melenyapkan Wiji Tukul sejak 23 Juni 1998.

Masih melalui buku yang sama, Daniel Dhakidae sampai mengutip kritikus sastra yang juga filsuf Prancis, Michel Foucault (1926-1984). Kutipan itu dengan kepentingan menjustifikasi kekuatan sebuah kata, termasuk rangkaian kata puisi karya Wiji Tukul, hingga sang penyair dilenyapkan. Seperti diungkapkan Daniel, kata yang diposisikan secara tepat, apalagi dirangkai secara puitik, akan terasa berjiwa. Bahkan rangkaian kata berjiwa tidak jarang menjelma bagai binatang liar yang tidak terjinakkan!

Umbu Landu Paranggi

Terutama di kalangan budayawan dan sastrawan, nama Umbu Landu Paranggi  memang dikenal luas di Tanah Air. Lahir di Sumba Timur, NTT, 10 Agustus 1943, sang penyair dikenal juga dengan nama lain sebagai Presiden Malioboro.

Umbu Landu Paranggi

Saya akhirnya bisa jumpa secara fisik dengan sastrawan misterius itu, ketika saya bertugas sebagai kepala Biro Kompas Wilayah Bali, NTB, NTT (2003 – 2010). Kantor pusatnya di Denpasar. Kisahnya berawal dari kunjungan ke Taman Air Tirta Gangga di Karang Asem, tahun 2004. Ketika memasuki tempat rekreasi itu, saya terkejut bercampur rasa kagum menyaksikan prasasti pembangunannya justru ditandatangani oleh Umbu Landi Paranggi.

Beberapa hari setelahnya saya mendapat kabar kalau Sang penyair sudah menetap di Bali sejak tahun 1970-an. Namun anehnya, sulit mendapatkan alamatnya. Juga tidak bisa mengontaknya karena Umbu tidak memiliki telepon seluler atau HP.  Akhirnya tiba waktunya, Pemimpin Redaksi Sarad (majalah budaya) di Denpasar, Ketut Sumata, mengontak saya dan memberitahui kalau ia sedang bersama “Presiden” (maksudnya Umbu Landu Paranggi). Dalam nada bisik-bisik, ia meminta saya segera datang dan bergabung. Saya pun langsung meluncur dan terjadilah pertemuan langsung yang ditunggu sejak lama.

Singkat cerita, bersambunglah kontak-kontak akrab hingga sampai pada permintaan-permintaan yang terkesan janggal. Salah satu contohnya, saya diminta oleh-oleh “gula manggarai”.  Gula merah itu memang diproduksi oleh kelompok masyarakat Kolang di Kabuparen Manggarai Barat. Mendapatkannya tidak gampang, karena di Kolang sendiri memang sudah sangat langka. Ketika saya mengusulkan agar digantikan gula merah yang dihasilkan masyarakat Rote atau Sabu, Umbu menolaknya. Kata dia, gula manggarai tidak tergantikan!

Ada lagi contoh lainnya. Budayawan yang juga kritikus sastra Ignas Kleden pada tahun 2004 menerbitkan buku berjudul “Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan”. Umbu mengontak dan mengatakan ingin memiliki buku itu. Permintaannya lagi-lagi janggal. Ia mau memiliki buku itu melalui saya, namun bukan saya yang membelikan. Saya terkejut karena pemintaannya membelikan buku itu harus oleh Maria Hartiningsih (wartawan Kompas di Jakarta). Sebagai buktinya, harus ada tanda tangan Maria dalam buku itu.

Kamelus Deno

Bagi saya, Kamelus Deno tidak hanya kenal dekat. Kami memang sahabat, bahkan sangat dalam. Awalnya sejak aktif di PMKRI Kupang tahun 1980-an. Khusus dari Manggarai Raya, kami yang seangkatan berlima. Tiga lainnya adalah Setus Mitak (Mantan Sekda Manggarai), Alo Sukardan (Mantan Dekan Fakultas Hukum Undana) dan Andreas Agas (Bupati Manggarai Timur).

Deno Kamelus

Kami memang terkadang berbeda terutama terkait pilihan politik. Namun dipastikan perbedaan apa pun tidak memudarkan pesahabatan kami. Bahkan jika kami bersua dan tanpa ada pihak lain, kami selalu menandainya dengan sapaan khas tanda keakraban, meski sesungguhnya bermakna jorok.

Ada sejumlah contoh khusus sebagai tanda keakraban sangat dalam antara saya dengan Kamelus Deno. Salah satunya ketika sedang aktif di Marga PMKRI Cabang Kupang. Kami bisa saling pinjam celana saat bermain voli atau kegiatan lainnya.

Selamat jalan cendekiawan Daniel Dhakidae, sastrawan Umbu Landu Paranggi dan sahabat Kamelus Deno. Saya yakin kalian bertiga lapang menuju kampung damai untuk selamanya, bersama para korban badai siklon tropis seroja. Kepergian kalian semua meninggalkan duka pekat bagi NTT dan juga saya.    (*)

Frans  Sarong,  wartawan senior,  tinggal di Kota Kupang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *