Antara Terusan Suez dan Paskah Kita

  • Whatsapp

Oleh : P. Kons Beo, SVD

Bacaan Lainnya

Hari-Hari Kelabu Terusan Suez

Badai pasir itu memang bikin ulah. Betapa tidak? Ever Given (Evergreen), kapal berbobot raksasa itu disapu badai gurun. Dipaksa ‘tersangkut’ dengan posisi diagonal di Terusan Suez. Kapal dengan ukuran panjang 400 meter, lebar 59 meter, berbobot 200.000 ton itu, di Selasa 23 Maret 2021, mulai jadi momok! Akibatnya, Terusan Suez terblokade. Kapal berbendera Panama itu tak sanggup berlayar ke Rotterdam, Belanda. Pelabuhan tujuannya.

Kisah Evergreen, nama lain dari Ever Given itu, bukanlah kisah tunggal bagi dirinya sendiri. ‘Derita’ Evergreen punya dampak  signifikan. Tentu ini bicara tentang dampak kemacetan ekonomi yang selangit nilainya. AFP  melaporkan di saat itu saja ada lebih 200 lebih kapal yang siap antre masuk terusan. Semuanya dipaksa harus bersabar menanti pembebasan si Evergreen itu. Agar tak merugi terus tanpa kepastian,  perusahaan-perusahaan mesti putar otak. Ambil jalur alternatif demi pengiriman barang.

Tentu, tak mungkin ramai-ramai harus putar haluan jauh lewati Tanjung Pengharapan di Afrika Selatan sana.  Dikabarkan Jonathan Owens, dari spesialis logistik di Universitas Salford Business School, ada taksasi sekitar 3 milliar dollar AS, setara Rp 43,22 triliun. Lain pula perkiraan Lloydd’s List dari publikasi pengiriman maritim Inggris. Menurutnya, nilai harian lalu-lalang kapal-kapal dari dua arah ditaksir sekitar 9,6 milliar dollar AS (Rp 138,33 triliun).

Syukurlah. Kini, kabar tak sedap Terusan Suez telah berakhir. Ever Given berhasil dinyamankan kembali posisinya. Satu milliar US Dollar, setara Rp 14,5 triliun bukanlah angka kecil untuk ongkos pembebasannya. Ada laporan di Nile TV, “Kapal keluar dengan utuh dan tidak ada masalah…..” Ya, kapal berhasil diapungkan kembali. Ada berita di amp.kontan.co.id, “Terusan Suez tak terblokir lagi, ratusan kapal mengantre untuk lewat,” tulis Berratur Taqiyyah Rafie.

Sebuah kabar pembebasan  bagi sekitar 400 lebih kapal yang terpalang dan tersumbat. Tentu, inilah kisah pembebasan bagi sekian banyak kapal dalam jalur pelayaran tersibuk di dunia antara Eropa – Asia atau sebaliknya. “Pada Senin malam, 29 Maret 2021, pengiriman barang kembali bergerak di Terusan Suez, Mesir.”

Hidup Yang Bergerak dan Beralih

Hidup adalah kumpulan kisah-kisah perjananan. Dalamnya kita bergerak dan terus bergerak. Dari satu titik tuju menuju titik tuju  berikutnya. Gairah perjalanan indah pasti berkiblat pada satu destinasi yang orientatif. Di situ, kita tak sekadar bergerak dan berziarah. Ada apa yang disebut sasaran. Itulah cita-cita hidup. Heraklitus tentu benar! Segala sesuatu itu baginya adalah mengalir dan terus mengalir. Tesis panta rei-nya ingatkan kita bahwa tak ada sesuatu apapun yang abadi di alam semesta. Segalanya terus mengalir, berubah dan terus berubah!

Tak bermaksud mempersoalkan seperti apa arti terdalam dari mengalir dan berubah dari si Filsuf Yunani kuno itu (600-540 SM). Bagaimanapun, hidup itu tetaplah mengalir, bergerak dan berubah. Bukanlah sesuatu yang ekstradordinaria. Tetapi, akan menjadi keutamaan yang serius bila panta rei digiring kepada area duc in altum. Itulah satu pergerakan hidup untuk masuk dan bertolak ke tempat yang dalam. Demi meraih arti kehidupan yang sebenarnya.

Tetapi, adalah benar pula bahwa sepantasnya manusia tidaklah mengalir sebatas mengalir. Bergerak dan sebatas bergerak.  Ziarah hidup ini adalah perjalanan yang ‘berbuah.’ Menggairahkan untuk kobarkan api nilai-nilai kehidupan itu sendiri. Teringatlah kita akan pewartaan Nabi Yesaya tentang Sabda yang mengalir dan pasti kembali dan berbuah (cf Yes 55:11). Dalam kita yang hidup, ada talenta kehidupan itu sendiri yang mesti digandakan. Dan tak pernah boleh berada di lintasan hidup yang mengalir sambil membenamkan talenta (cf Mat 25:14-30).

Paskah Yang “Terblokade”?

Hidup yang mengalir dan berubah. Itulah makna Paskah sesungguhnya! Pesakh Israel maknai pembebasan dari tirani Firaun di Mesir bergerak menuju Tanah Terjanji. Paskah Kristiani merujuk pada beralihnya Kristus dari kegelapan makam menuju terang cahaya kemenangan! Dari pintu makam yang tertutup ke batu penutup makam yang sudah terguling.

Pada intinya Pesakh, paskah selalu berarti passover. Satu peralihan dari satu masa ke masa berikutnya; dari satu tempat ke tempat selanjutnya; dari satu atmosfer ke atmosfere berikutnya; dari satu tampilan ke tampilan selanjutnya. Tetapi tentunya yang dimuliakan adalah satu passing-over menuju keadaan yang hidup lebih baik. Bahwa dalam iman akan Kristus yang bangkit, selalu ada harapan menuju satu era kehidupan yang lebih bercahaya. Paulus dari Tarsus punya keyakinan bahwa adalah satu kesia-siaan iman jika Kristus tak dibangkitkan. Bahkan segala usaha pewartaannya menjadi sia-sia pula (cf 1 Kor 15:14).

Tetapi, seyogyanya, kita mesti maklum! Paskah keseharian kita bukannya selalu berjalan mulus. Tak ber-pesakh-nya kita lahir dari cara pandang kita yang distortif, sempit, bahkan di ambang kebutaan.  Prahara Ever Given di Terusan Suez tak sekadar badai pasir penuh daya kekuatan! Tapi bahwa butir-butir pasir padang gurun itu adalah simbolisme blokade yang mempersempit cara pandang. Butir-butir pasir padang gurun adalah petaka terhadap kesempitan ratio (akal budi) serta sumpeknya alam batin yang melumpuhkan mindset akan kehidupan yang lebih luas dan inklusif.

Di balik sulitnya Indonesia ber-passingover, tentu ada butir-butir pasir padang gurun yang terus tertiup hanya untuk sebuah alam narrow-minded! Kita dicengkram arus fanatisme gila. Diberondong oleh gejolak fundametalisme tak berakhlak. Kita benar-benar hidup dalam alam sungguh edan. “Dan di dunia yang gila”, kata  Akira Kurosawa, sutradara film dari Jepang, “hanya orang gila yang waras.” Iya, hanya orang gila yang merasa diri ‘waras’ ketika ia merasa damai dan bersahabat dengan teror, kekerasan, kehancuran serta aneka tindakan penuh kejam di dunia fana, dan yakin mengalami kenikmatan dan kepuasan  di dunia seberang sana.

Blokade ‘Paskah’ Nasional tentu tetap terjadi saat kita malah ‘bergembira’ menyambut segala yang membutakan dari butir-butir pasir yang tertiup dari padang gurun. Hegemoni ide-ide maut menjadi semakin leluasa dalam ramuan kata-kata, sorakan dan pekikan untuk menghancurkan terhadap ‘yang bukan kita.’ Entahlah, sampai kapan kita merasa bosan bersahabat dengan butir-butir pasir maut padang gurun? Sekurang-kurangnya si Ever Grade telah merasakannya di Terusan Suez.

Dari ‘Terminal Death’ menuju ‘Paschal Death’

 Akhirnya, apakah ada sesuatu yang terblokir demi sebuah kematian tanpa harapan? Itulah ‘terminal death.’ Ia dipahami sebagai kematian akhir dari segala ritme dan dinamika kehidupan. Saat sirna serta musnahlah segala kemungkinan harapan! ‘Terminal death’ adalah gambaran kematian yang sia-sia. Kematian konyol akibat terkaburnya akal sehat dan struktur kejiwaan  akibat indoktrinasi palsu dan ilutif.

Sepantasnya kita berlayar menuju alam ‘paschal death’. Ketika kematian itu sungguh menjadi satu gita kehidupan. Kisah kematian yang menghasilkan buah. ‘Paschal death’, oleh Rolheiser (1998), ditangkap sebagai kematian yang menghasilkan dan mewariskan buah-buah kehidupan. Itulah gambaran kematian biji gandum yang jatuh ke tanah, lalu menghasilkan serta mewariskan banyak buah (cf Yoh 12:24).

Kita tentu tak pernah alami Paskah ketika kita hanya terkurung dalam blok-blok yang sempit! Karena dengannya, kehidupan kita sendiri jadinya sungguh terblokir.

Si Ever Given, kapal raksasa itu, sudah mengapung! Ia mungkin saja telah dilayakkan untuk kembali berlayar menuju Rotterdam. Kita pun mesti berlayar dan beralih menuju alam yang lebih menjanjikan. Dan janganlah pernah lagi  untuk tetap dalam “tinggal aku sendiri terpaku menatap langit….” Bila sekadar ingin bertanya, “Mengapa di tanahku terjadi bencana…”. Iya, bencana kemanusiaan. Yang mesti diperangi bersama.

Marilah segera beralih….

Verbo Dei Amorem Spiranti

Collegio San Pietro – Roma

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *