Antara Cokro TV dan Gelagat PD di Arus Covid-19

  • Whatsapp

Oleh P. Kons Beo, SVD

Bacaan Lainnya

Jokowi Dikepung Ramai-Ramai?

Di tengah pandemi Covid-19 yang semakin meningkat, kegaduhan suasana tanah air juga seakan tak mau kalah. Iklim politik tetap mendebarkan.  Sekian kasat bahwa pemerintahan Jokowi terus dikepung dan diserang. Pandemi Covid-19 dan dianggap sudah salah urus untuk luputkan seluruh tumpah darah Indonesia sudah jadi lahan basah untuk bersuara. Bukan hanya Partai Demokrat (PD) yang dinilai cerewet mengeritik pemerintah. Bahkan lebih ‘genting’ lagi kini disinyalir bahwa kaum buzzer medsos pro-Jokowi mulai berseberangan pandangan akan solusi tangani dan hadapi wabah Covid-19.

Tetapi apakah dengan ini Jokowi lantas ditinggalkan sungguh oleh pembelanya? Bahwa misalnya Denny Siregar atau Ade Armando telah berkhianat terhadap pemerintahan Jokowi? Benarkah bahwa pegiat medsos, yang sering ditampar dengan sebutan buzzer-Rp ini, telah menarik dukungan terhadap pemerintah?

Bila publik jeli, maka cukup terang untuk melihat bahwa ada hal lain yang lagi diseriusi para pegiat medsos itu. Ini bukan soal pro Jokowi atau tidak. Sekadar like or dislike murahan! Yang diterawang adalah soal kebijakan terakhir pemerintah demi masyarakat di tengah situasi pandemi Covid-19 yang makin menggarang ini. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) itu telah merugikan rakyat kecil. Terasa sulitlah bagi masyarakat sederhana yang mesti bergerak cari makan harian. Mereka hanya bisa hidup kalau boleh keluar rumah,kata Ade Armando.

Kritik Armando atau hantaman Siregar tentu punya ruang lingkup lebih kecil dan sempit akan kebijaksanaan pemerintah. Ya, itu tadi, agar PPKM dipertimbangkan sungguh agar tidak menambah derita masyarakat sederhana. Tentu kritik berdua itu berbeda level dari hantaman Partai Demokrat, misalnya, yang terkesan punya amunisi tak terbatas untuk menyerang apapun kebijaksanaan pemerintah (Jokowi).

Cokro TV memang sebatas suara ‘kelompok kecil’ yang berikan pendapat dan tebarkan sekian banyak pencerahan publik. Medsos itu bukanlah sebuah partai politik seperti Demokrat yang kokoh dalam struktur leadership, AD-RT serta visi, misi dan komitmennya.

Momentum PD untuk Kembali?

Bila mesti bersuara tentang  kelantangan cuitan keluarga besar Partai Demokrat terhadap berbagai kebijakan pemerintah, maka publik bisa menduga-duga sekian banyak rationale di baliknya.

Kisruh PD dan Pemerintah (Jokowi) sudah tak tersembunyikan lagi. Perseteruan terang-terangan antarkeduanya memang sudah tak terelakkan. PD sepertinya mesti lepaskan kepercayaan diri sebagai ‘penyeimbang, yang mendukung sekaligus yang mengkritisi pemerintahan era Jokowi-Ma’ruf Amin’ seperti ditegaskan SBY pada awal era Jokowi Jilid II.

Dominasi serangan PD terhadap pemerintah sudah jadi massif dan amat terstruktur, terutama di saat pandemi Covid-19 ini.  Failed nation telah ditembak oleh Ibas. Tingkat pendapat per capita yang kedodoran telah dibom oleh AHY. Herzanky Mahendra (Koordinator Jubir PD) sudah ingatkan serius pemerintah untuk jangan anti-kritik. Bahkan ia menyasar pula para pembantu presiden, perangkat pemerintahan, pendukung presiden dan para buzzer medsos.

Ada lagi Andi Arief (Kepala Badan Pemenangan Pemilu PD) punya ketegasan seruan yang bukan basa basi, “Parta-partai koalisi pendukung Jokowi diharapkan tidak ABS (asal bapak senang). Jangan menjadi Harmoko ke-2 dalam sejarah republik Indonesia.”

Tetapi bila harus berpendapat lain, seyogianya PD tak sedang serius mengeritik pemerintah. Sasaran positifnya tetap pada suara rakyat. Pemerintah sebatas via negativa yang dibongkar-bongkar borok plus malum-nya. Bukankah legitimasi vox populi sangat dibutuhkan demi meraih kuasa? Anjlok drastisnya suara PD di Pemilu 2014 dan 2019 sudah bikin pusing tujuh keliling keluarga besar PD. Bayangkan saja dari 20,85 % suara di Pileg 2009, jatuh ke 10,19 % di Pileg 2014, dan lalu tersungkur tanpa ampun ke 7,77 % suara di Pileg 2019. Sekarang bukankah PD harus merancang strategi agar jangan kedodoran nantinya di linea eliminatif?

Rakyat mesti terus disadarkan bahwa sungguh ada yang salah di negeri ini. Dan adalah tugas mulia PD untuk bangunkan kesadaran publik. Karenanya bertahan di posisi penyeimbang, antara mendukung dan mengkritisi pemerintah sangatlah neutrum yang abu-abunya sungguh terang-menderang. Tak menguntungkan. Mesti tampil percaya diri yang autonomous dengan penuh tegas mengkritisi pemerintah, pro patria et sentire cum populo, adalah keharusan. Apalagi dalam situasi pandemi Covid-19 ini, yang mesti dilihat sebagai peluang pasar politik agar tak sia-sia untuk dilirik publik. Karena toh, hanya mayoritas suara rakyatlah yang menentukan keabsahan untuk bertakhta dan memegang kendali untuk berkuasa. Cara lain? Seperti penggulingan pemerintahan terlalu riskan rasanya untuk disebut sebagai perbuatan makar.

Tetapi patut diduga adanya hal lain yang mendesak PD untuk semakin menderas mengkritisi pemerintah demi mendulang suara rakyat. PD tak mungkin lepas pisah dari sosok SBY sebagai mentornya. Kelahiran tahun 1949 sudah dipastikan bahwa di Pileg-Pilpres 2024, SBY sudah genap berusia 75 tahun. Di usia yang semakin senja itu, dibayangkan saja bahwa ada aura antiklimaks gairah politik pada SBY. Sebagai ayah yang baik dan penyayang, formasi politik telah ditata pada kedua putranya, AHY dan Ibas (EBY).

Keluarga besar PD, bersama SBY, mesti mampu tunjukkan ketajaman dalam bersuara. Dapat diandaikan adanya risiko politik tak menguntungkan bagi PD dan terlebih bagi AHY-Ibas (EBY) tanpa kekuatan dan pengaruh signifikan dari SBY. Fondamentasi PD bersama SBY sepantasnya mesti terus berlangsung. Apalagi bahwa AHY dan Ibas, di usia baru kemarin sore itu, sudah duduk di kerangka jabatan politik yang mumpuni. Kedua ‘pangeran’ ini memang mesti dipayungi dan dicas terus-menerus untuk memahami dan bisa beradaptasi dalam hingar bingarnya dunia politik ini.

Jokowi: Tetaplah Duri Dalam Daging

Tetapi pula ada banyak sekali ‘kelakuan buruk’ Jokowi yang telah menjadi andil lahirnya arus deras kritik (kemarahan) PD terhadap era pemerintahannya. Sejak Jokowi berkuasa (2014), PD sudah mengambil tempat rakyat pada umumnya. Di luar lingkar kekuasaan.

Tetapi, apa benar bahwa SBY (PD) tak sungguh mengharapkan agar AHY bisa terhitung sebagai orang penting pada kekuasaan Jokowi? Ya, sekurang-kuranganya pada Jokowi periode II itu? Bahwa setidak-tidaknya AHY, misalnya, diangkat menjadi seorang menteri? Agar pelan-pelan belajar untuk lebih paham bagaimana berada dalam kuasa dan kepemerintahan? Semuanya sebagai tangga naik ke alam kekuasaan.

Sayangnya Jokowi sedikitpun sudah tak melirik AHY. Setidaknya hingga Juli 2021 ini. Sudah tak melirik, lalu muncul lagi gerak mengobok-obok PD oleh Moeldoko, orang dalam lingkaran istana lagi. Ini bisa lahirkan kecurigaan, kemarahan dan bahkan dendam politik. Ya, sudahlah itulah kisruh yang sudah berlangsung dan belum berujung putus.

Pandemi Covid-19: Musuh Kita Bersama

Namun, di atas segalanya, hari-hari ini seluruh tumpah darah Indonesia lagi bertarung hadapi pandemi Covid-19. Situasi lagi mencekam. Terlalu penting adanya kesadaran dan perjuangan bersama berbagai komponen masyarakat dan institusi mana pun demi keluar dari situasi pelik ini. Stop tembakkan suara yang hanya bikin gaduh pada publik. Hanya demi kepentingan sepihak dan sesaat belaka.

Tetapi, perjuangan bersama ini hanya bisa bertolak dari kedisiplinan pribadi yang handal. Satu dinamika mental yang tak gampang bagi masyarakat Indonesia yang sekian majemuk ini. Ada teman saya begitu yakin bahwa kisah Covid-19 hanya dibesar-besarkan saja. Di Singapura sana Covid-19 dilihat sebagai flu biasa saja. Bahkan di Euro 2020, sekian banyak suporter sepak bola masuk stadion dan terlihat tanpa masker.

Kita mungkin tidak tahu atau mungkin saja tidak mau tahu bahwa kisah  tanpa masker itu telah lewati proses panjang penuh kedisiplinan dalam setiap tahapan prokes melawan Covid-19. Dan pada saatnya  pemerintah tak mewajibkannya. Dan bukannya sebuah proklamasi: Covid-19 hanyalah dibesar-besarkan.

Verbo Dei Amorem Spiranti

Penulis, tinggal di Roma

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *