SBS dan Quantum Leap Malaka

  • Whatsapp
Bupati SBS melihat melihat warga yang menggiling jagung

Oleh Tony Kleden

Intro

Saya masih ingat baik ketika memandu talk show di sebuah stasiun televisi di Kupang, Juni 2013 silam. Talk show dengan tema tentang Pemilihan Gubernur NTT itu menghadirkan dua narasumber (maaf saya tidak sebutkan nama mereka) yang sangat sering menjadi narasumber media-media lokal ketika itu.

Yang satu barusan  meraih gelar doktor di bidang politik. Yang lain sudah lama menyabet gelar MA di bidang politik juga. Yang pertama masih muda. Yang kedua sudah senior, bahkan pernah menjadi anggota DPRD di zaman Orde Lama. Keduanya sama-sama mengajar di perguruan tinggi di Kupang. Dengan demikian reputasi, kapasitas dan kompetensi keduanya menjadi narasumber di acara itu tepat.

Pertanyaan pamungkas yang saya ajukan itu berbunyi, “Mana yang lebih baik, kepala daerah berlatar birokrat atau berlatar politisi yang bakal menakhodai birokrasi?”

Kedua narasumber itu kaget, tak menduga muncul pertanyaan ini. Masing-masing mengemukakan argumen masing-masing. Yang senior yang condong agar politisi memimpin birokrasi pemerintahan mengatakan, negara ini didirikan hasil dari konsensus politik. Karena itu, sangat tepat kalau politisi sebaiknya menjadi pemimpin atau kepala daerah.

Sebaliknya yang yunior memberi alasan sebaiknya birokrat  yang memimpin pemerintahan. Merujuk dan berkaca pada situasi riil di NTT ketika itu, dia menegaskan kepala daerah dengan latar belakang birokrat lebih baik mengelola tata pemerintahan dengan segala seluk beluk dan sekian banyak aturannya.  Kepala daerah dari kalangan birokrat jauh dari kecenderungan ‘politicking’.

Talk show menjadi ramai. Keduanya menjual argumen  dengan pendasaran masing-masing. Saling menggugat dan membantah. Saya kemudian menengahi, mengambil kesimpulan agar perdebatan tidak menjadi ‘panas’ dan bisa  berlanjut di luar studio. Saya katakan,  jabatan itu bukan simbol kekuasaan, tetapi simbol tanggung jawab.  Keduanya sepakat dan talk show berakhir happy ending.

Bupati SBS melihat warga yang menggiling jagung

 

Sosok SBS

Terus terang, saya tidak terlalu mengenal secara pribadi sosok bernama dr. Stefanus Bria Seran, MPH yang lebih kondang dengan panggilan SBS, Bupati Malaka saat ini (dalam tulisan ini selanjutnya dipakai SBS). Tetapi dalam rentang hampir 30 tahun menekuni profesi wartawan, saya bisa ‘menangkap’ sosok SBS dengan melihat penampilannya, mengikuti sepak terjangnya, mengamati gaya kemimpinannya, juga dengan mencermati pernyataan-pernyataannya.

Dengan merujuk pada beberapa  referensi sekenanya ini,  saya membidik tiga keutamaan yang menggambarkan sosok SBS dan kepemimpinannya. Pertama, SBS adalah pemimpin berkarakter tegas. Harus diakui SBS adalah sosok seorang pemimpin dengan karakter tegas. Ketegasannya tampak dalam hampir semua langgam kepemimpinannya.  Bicaranya to the point, tegas, dengan nada suara tinggi.

Tetapi karakter tegas tidak selalu identik dengan keras. Pemimpin berkarakter keras hampir selalu tegas. Sebaliknya pemimpin berkarakter tegas tidak selalu keras. SBS menampilkan diri sebagai pemimpin berkarakter tegas, tetapi tidak keras. Dia sangat tegas dengan semua staf, terutama para aparatur sipil negara (ASN), tetapi berhati lembut.

Ketegasannya tentu hanya untuk kemajuan dan demi kebaikan Malaka.  Ketika memimpin Dinas Kesehatan NTT, SBS menunjukkan karakter tegas itu.  Hasilnya,  semua bidang di dinas ini total bekerja. Para ASN siaga penuh setiap saat.  NTT berkibar tenar dengan Revolusi KIA yang digagasnya.

Pemimpin dengan karakter tegas sangat dibutuhkan untuk memajukan sebuah daerah baru, apalagi daerah yang masih serba kurang dengan fasilitas serta infrastruktur seadanya. Ketegasan SBS mengakibatkan nama Malaka berkibar menembus batas kabupaten.  Kabupaten Malaka beruntung di awal tualangnya dipimpin SBS. Beruntung karena dengan SBS tatanan pemerintahan diletakkan secara baik dan benar dan tonggak-tonggak pembangunan mulai dipatok secara proporsional.

Revolusi Pertanian Malaka (RPM) menjadi program unggulan yang menjadi tagline  SBS

Kedua, tekad untuk maju. Sejak memimpin Malaka berduet dengan Daniel Asa (Alm) sebagai Wakil Bupati,  SBS menabuh gendang membangun Malaka. Dia seperti ingin membawa Malaka terbang merengkuh masa  depan yang gilang gemilang. Kita perlu membayangkan kondisi Malaka ketika lepas dari Kabupaten Belu.  Ruas jalan rusak parah dan bopeng di mana-mana. Sarana pendidikan, terutama gedung sekolah seadanya. Letaknya di selatan Pulau Timor mengakibatkan akses ke luar Malaka sungguh sulit.

Setelah empat tahun memimpin Malaka, lihat hasilnya. Malaka tampil ke panggung merebut perhatian  dengan Revolusi Pertanian Malaka (RPM).  Dengan mayoritas masyarakat sebagai petani, tidak salah pertanian jadi titik bidik di awal pembangunan.

Di sektor pertanian, harus diakui Malaka punya segala-galanya. Hasil bumi dari Malaka luar biasa. Pisang Malaka menguasai pasar-pasar tradisional di Kota Kupang. Bawang merah Malaka tembus hingga ke Timor Leste. Dan, pemerintahan di bawah kendali SBS punya tekad kuat memajukan sektor pertanian.  Revolusi Pertanian Malaka (RPM) adalah strategi yang sangat tepat dan bahkan menjadi priortas.

RPM didesain menjadi program prioritas agar rakyat berkelimpahan makanan.  SBS punya alasan jelas dan tegas ketika menelorkan RPM. Pertama, Malaka adalah tanah tersubur di Pulau Timor, musim hujan dua kali dalam setahun.  Kedua, 80 persen rakyat Malaka adalah petani, yang tentu saja saban hari berurusan dengan kebun dan ladang. Ketiga, sedari dulu Malaka dikenal dengan hasil pertanian. Keempat, kebutuhan akan pangan selalu bertambah seiring pertambahan penduduk.

Jika disimak secara saksama, RPM mirip dengan ONH (operasi nusa hijau) dan ONM (operasi nusa makmur), program  Ben Mboi ketika memimpin Provinsi NTT dulu. ONH dan ONM tidak cuma meninggalkan jejak sejarah tetapi juga dan terutama mewariskan jambu mete, kakao, kopi, kelapa, kemiri, vanili, cengkeh, tanaman pakan ternak seperti gamal, lamtoro gung dan lain-lain.

Nama Besikama pernah mewangi pada era tahun 1970-an ketika tebu-tebu di Malaka diolah menjadi gula. Meski sekarang tidak beroperasi lagi, tetapi Besikama telah menyibak tirai bahwa potensi pertanian Malaka memang luar biasa dan karena itu sangat diandalkan.

Di awal abad lalu, ketika tarekat SVD mengambil alih secara resmi karya misi Sunda Kecil (Kepulauan Nusa Tenggara) dari tangan Serikat Jesuit (SJ), 1 Maret 1913, SVD yang meneruskan pusat misi Timor di Lahurus hendak menjadikan Betun, Ibukota Malaka, sebagai pusat perkebunan dan pertanian misi.  Ahli pertanian dan ahli tanah didatangkan dari Eropa untuk mempelajari tanah di Timor. Dana besar disiapkan untuk membuka perkebunan berskala besar. Tetapi karena pusat misi dipindahkan ke Ende, Flores maka niat menjadikan Betun sebagai pusat perkebunan ikut dialihkan ke Flores. Dan hari ini kita tahu Mataloko (Ngada) dan Hokeng (Flores Timur) menjadi episentrum perkebunan SVD di Flores.

Revolusi Pertanian Malaka didukung dengan traktor untuk menggarap lahan warga secara gratis

Cerita ini mengandung pesan bahwa Malaka sudah dari sononya mempunyai lahan pertanian yang sangat menjanjikan untuk sektor pertanian dan perkebunan. Maka RPM yang dicetuskan SBS mengandung makna dalam, implikasi luas dan jauh ke depan.  RPM mengandung makna politik pertanian, mengandung makna relasi antara lahan dengan petani pengguna lahan, dan juga mengandung makna klimatologis.

Masyarakat Malaka harus berterima kasih dengan kehadiran RPM. Meski seorang dokter, SBS serius membidik sektor pertanian sebagai leading sector membangun Malaka dengan RPM sebagai pirantinya. Keseriusan itu ditandai antara lain dengan mengundang para ahli pertanian dari kalangan kampus menjadi tim pendamping, juga menyiapkan alsintan (alat dan mesin pertanian) untuk menggarap lahan warga. Pemkab Malaka bahkan menyiapkan 60 unit traktor besar untuk memacul tanah rakyat secara gratis. Biaya pacul tanah  ditanggung oleh pemkab. Setiap tahun sekitar 3000 hektar lahan warga dipacul traktor secara gratis.

Hal lain yang patut diapresiasi adalah penanganan banjir yang telah menjadi penyakit menahun. Kecamatan Malaka Tengah,  Malaka Barat, Weliman, Wewiku adalah kecamatan langganan tetap banjir setiap kali musim hujan. Di bawah SBS orientasi penanganan tidak lagi pada efek banjir seperti selama ini, tetapi pada sebab banjir.  Setelah mempelajari terjadinya banjir, jalan keluar yang dipakai adalah penguatan tebing, tanggul dan normalisasi aliran sungai. Hasilnya, sejak tahun 2016, banjir bandang  dengan efek yang sangat merusak tidak terjadi lagi di Malaka. Kalau pun terjadi banjir, itu hanya karena tanggul jebol akibat intensitas hujan yang tinggi. Tetapi pemerintah selalu siaga, sehingga manakala terjadi banjir, dalam satu hari segera ditangani.

Negara kecil bernama Dubai itu sekarang menjadi pusat turisme Timur Tengah.  Tanpa banyak minyak mentah,  pertumbuhan ekonomi Dubai melejit jauh dan sekarang menjadi negara dengan pendapatan paling besar di Timur Tengah. Siapakah tokoh di balik keberhasilan itu? Dia adalah Sheik Mohammed bin Rashid al-Maktoum  yang telah mengelola negaranya seperti mengelola sebuah perusahaan. “Hu runs the emirate like  a corporation,” tulis Majalah Time ketika mengulas keberhasilan Dubai di Timur Tengah.

SBS bukan Sheik Mohammed bin Rashid al-Maktoum. Kondisi Malaka juga berbeda dengan Dubai. Tetapi tekad SBS untuk membawa Malaka terbang mirip dengan Sheik Mohammed bin Rashid al-Maktoum membawa Dubai meninggalkan negara-negara lain di Timur Tengah.

Mengunjungi puskesmas di desa, SBS ingin memastikan pelayan masyarakat bekerja

Tekad SBS memajukan Malaka itu terbaca dari gayanya memimpin dan mengelola pemerintahan. Aturan pemerintah wajib hukumnya ditaati, tetapi aturan itu jangan pernah menghambat pekerjaan untuk maju.  Aturan itu alat bantu saja, yang berguna sebagai pemandu dan pegangan ketika mengeksekusi program-program pemerintah di lapangan.

Ketika pandemi  Covid-19  menyerang, tidak ada kepala daerah di NTT yang seaktif dan segiat SBS  menghadapi Covid-19. Nyaris setiap hari SBS terjun ke tengah masyarakat, menembus  batas desa dan kampung  untuk memastikan keberadaan posko-pokso di desa-desa dan para petugas di posko-posko. Dia rela terjun ke desa-desa untuk memeriksa apakah paramedis siaga di puskesmas dan polindes? Nyaris setiap hari juga SBS menggelar dan memimpin rapat lintas sektor untuk mengevaluasi dan merencanakan langkah lanjutan mengganyang Covid-19.

Inilah tipe pemimpin yang ingin agar roda  pemerintahan berjalan dan bergerak bersama dan seirama. Tipe pemimpin yang tidak mau hanya duduk manis di kursi empuk di kantor dan hanya mendengar laporan dari bawah yang terkadang asal bapak senang (ABS).

Sebagai kabupaten baru, Kabupaten Malaka sangat beruntung memilih dan memiliki  SBS menjadi kepala daerah pertama. Orang bilang, langkah pertama menentukan ribuan langkah berikutnya.

Ketiga, membranding Malaka. Tampilnya SBS di pucuk pimpinan Malaka tentu bukan terutama ingin mengejar kekuasaan dan dengan kekuasaan itu melipatgandakan kekayaan pribadi.  Untuk urusan ini, boleh dibilang SBS sudah ‘selesai’. Sudah selesai dengan dirinya. Sudah selesai dengan keluarganya. Motivasi untuk memimpin Malaka, dengan demikian, tidak karena dorongan mengumpulkan harta guna mengamankan hidup dan kehidupan pribadi dan keluarga. Tanpa menjadi bupati, SBS sudah masuk dalam kalangan the happy few, kalangan berpunya.

Lantas apa yang ingin dikejar SBS ketika nekad merebut kursi  Bupati Malaka?  SBS bertekad merebut kursi panas itu karena ingin agar Malaka punya branding di NTT, bahkan juga di Indonesia. SBS ingin agar Malaka punya merek sendiri, punya sesuatu yang dikenal, yang menjadi cirinya sebagai sebuah kabupaten.

Di dunia pemasaran (marketing), branding itu sangat vital dan penting mendongkrak kepercayaan dan nilai jual.  Handphone merek nokia sebenarnya sangat bagus dan jauh lebih unggul. Tetapi nokia kalah branding dan tergilas oleh handphone merek samsung yang kemudian menguasai pasar dunia. Pemilik kendaraan bermotor pasti  memilih oli merek top-one, sementara ahli mesin (montir) tidak mau memilih oli mesin merek ini.

Dengan branding sesuatu dikenal. Sama seperti itu, SBS ingin agar Malaka mempunyai nama besar dan dikenal luas. Ketika bertekad menggelar pertandingan El Tari Memorial Cup di Malaka tahun 2019 silam,  semua orang terperangah dan  ragu. Keraguan itu wajar. Malaka ketika itu belum punya apa-apa. Lapangan bola kaki berstandar PSSI tidak ada. Hotel kelas melati saja masih bisa dihitung dengan jari tangan. Para pemain dan kontingan dari semua kabupaten  menginap di mana?

Tetapi dengan tekad yang kuat dan keberanian yang membaja, pemerintah di bawah SBS menjawab keraguan itu. Semua persiapan dilakukan. SBS tanam kaki, mengikuti dari hari ke hari semua tahapan dan langkah persiapan. Tiga lapangan bola kaki berstandar PSSI di sekitar Betun disiapkan. Lapangan Bola Kaki Betun bahkan bisa digunakan untuk pertandingan malam hari.

SBS langsung terjun memeriksa kondisi  lapangan saat bencana datang

Yang luar biasa semua kontingen disiapkan penginapan gratis. Di mana? Ruang  kelas di sekolah-sekolah disulap menjadi penginapan lengkap dengan tempat tidur spring bed, kamar mandi menggunakan shower.  Acara pembukaan El Tari Memorial Cup  dilukiskan sebagai yang paling meriah selama ini berkat tampilnya 25 ribu pemuda pemudi menari likurai dan ronggeng.   El Tari Memorial Cup akhirnya sukses digelar di Malaka, bahkan tuan rumah keluar sebagai pemenang.

Dengan menggelar El Tari Memorial Cup dan mengekspor bawang merah ke Timor Leste, Malaka merangsek naik ke panggung pembangunan di NTT.  Malaka tampil ke permukaan dan merebut perhatian luas.

Harus diakui banyak fasilitas publik, terutama gedung-gedung perkantoran, belum dibangun. SBS sadar sungguh bahwa kantor-kantor pemerintah belum dibangun. Meminjam bahasanya sendiri SBS memberi alasan, “Saya ingin meletakkan dasar-dasar pembangunan dulu, saya ingin rakyat Malaka sejahtera dulu.  Kantor-kantor akan menyusul.”

Yang dibangun lebih dahulu adalah fasilitas yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat  seperti jalan raya. Maka, wajah Malaka hari ini jauh berbeda dengan wajah Malaka lima tahun lalu.  Jalan-jalan kabupaten dan desa yang selama ini tak tersentuh aspal, bahkan memprihatinkan, kini berubah mulus dan dihotmix licin.

Hingga akhir tahun 2019 panjang keseluruhan jalan yang dibangun mencapai 330,23 kilometer.  Dari ruas sepanjang ini, jalan dengan konstruksi hotmix mencapai 105,55 kilometer,  konstruksi lapen 126,43 kilometer, dan pengerasan 93,25 kilometer.

Hasil dari pembangunan ruas jalan ini mulai nyata. Geliat perubahan mulai terlihat. Transportasi  antaradesa dan antarkampung mulai terhubung.  Lalu lintas barang dan manusia mulai hidup. Seterusnya, roda ekonomi pun bergerak.

Penutup

Empat tahun sudah SBS memimpin Malaka. Mantan Kepala Dinas Kesehatan NTT ini sudah meninggalkan banyak jejak.  Hasil program pembangunannya sudah mulai dirasakan masyarakat Malaka.

Tidak salah SBS menjadi bupati pertama yang memimpin Malaka. Di tangan SBS, Malaka mengalami quantum leap, lompatan yang jauh. Dari tidak ada apa-apanya menjadi ada apanya. Yang kurang atau belum dikerjakan pasti akan dibereskan.

Empat  tahun memimpin Malaka, tentu ada yang kurang. SBS sadar tidak mungkin dia bisa menjawab semua kebutuhan masyarakat. Mustahil dia bisa memberi pekerjaan kepada semua warga Malaka. Dia sadar tidak mudah membawa masyarakat Malaka keluar dari gua garba kemiskinan. Tetapi  kehadirannya, tampilnya di pucuk pimpinan dan di panggung kekuasaan membawa kesadaran ini dalam diri SBS, “I cannot give them jobs, but I can ensure that they have the core skill and competences to create them.”

Inilah hakikat dasar dari setiap gerak dan program pembangunan: memanusiakan  manusia pembangun. Dan, SBS menjadikan jabatan bupati bukan sebagai simbol kekuasaan, tetapi simbol tanggung jawab. (*)

Wartawan, Pemimpin Redaksi kabarntt.co

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Ulasan yg sangat menarik. Malaka masih membutuhkan seorang SBS. Terus bergerak untuk memajukan Malaka.