Pilkada NTT 2020 dan Metamorfosis Golkar Tak Sempurna

  • Whatsapp
????????????????????????????????????

Oleh Robert Bala

Bacaan Lainnya

Hasil Hitung cepat dan penghitungan riil sudah menjuruskan kemenangan Golkar di 5 dari sembilan kabupaten di NTT. Ini hasil yang cukup mencolok. Partai lain seperti PDIP dan Nasdem yang cukup menonjol di NTT malah terseok-seok dan hanya menang di 3 kabupaten. Mereka hanya memperoleh setengah dari pencapaian Golkar.

Apakah kemenangan ini merupakan bukti bahwa Golkar yang dulu kini tengah mengalami proses metamorfosis? Ataukah kemenangan ini terjadi karena gradasi kebosanan yang meningkat terhadap partai besar seperti PDIP dan Nasdem karena gagal menerjemahkan aura perubahan yang digaung-gaungkan?

Secara poistif, perlu diakui bahwa hasil yang dicapai kini bukan sebuah kebetulan. Ia adalah hasil dari sebuah proses. Hal itu sudah dibuktikan, bahkan setelah lengsernya Soeharto, sang arsitek Golkar dari kekuasaan. Logikanya, mestinya suluh Golkar padam bersama perginya Soeharto. Justru yang terjadi tidak demikian.

Memang selama masa Orba, Golkar memang tidak tertandingi sama sekali. Ia bahkan sudah menjadi pemenang pemilu jauh sebelum pemilu dilaksanakan. Para caleg sudah menempatkan diri sebagai ‘caleg jadi’ dan ‘caleg penggembira’.

Tetapi kondisi seperti ini ternyata tidak berubah terlalu drastis pasca reformasi. Golkar selalu menempati posisi 2 dan 3. Malah pada Pemilu 2004, ia tampil sebagai juara. Tentu saja juara di era reformasi tidak seperti era Orba. Kemenangan belasan, apalagi 20-an persen itu sudah hebat sekali. Bisa dipahami. Parpol yang mengikuti pemilu puluhan.

Kenyataan seperti ini menunjukkan bahwa bagi banyak orang, Golkar masih ‘bisalah’ dipercaya. Logika sederhananya, orang sepertinya percaya (sisa kepercayaan) bahwa dalam diri Golkar bisa terkombinasi apa yang dilakukan di Uni Sovyet. Di satu pihak ada ‘glasnost’ (keterbukaan politik) tetapi perlu diwujudkan melalui ‘perestroika’ berupa restrukturasi ekonomi yang berimbas pada peningkatan kesejahteraan rakyat.

Politik dalam rekaman memori masyarakat seperti inilah yang mungkin saja jadi alasan rakyat mendepositokan kepercayaannya pada Golkar. Sebuah partai boleh saja bergaraih melantunkan ide-ide perubahan tetapi perlu realistis. Proses inilah yang bisa saja jadi alasan. Proses itulah yang barangkali tengah digodok juga dalam internal Golkar. Kaum ‘tua’ yang masih ada adalah orang yang punya semangat juang. Mereka tidak tergoda untuk ganti jaket sekadar cepat memperoleh kekuasaan. Sementara itu ruang bagi kaum milenial dibuka selebar-lebarnya.

Cara berpikir dan praksis politik seperti ini mengungkapkan kematangan dalam berpolitik. Sebuah politik yang tidak saja menggantungkan diri pada eforia musiman tetapi membiarkan proses itu terjadi secara perlahan tapi pasti. Ia perlahan mengadakan perubahan meski tetap saja berada dalam aneka godaan yang bisa jatuh lagi.

Tak Sempurna

Analisis di atas mengantar kepada sebuah kesimpulan yang lebih banyak dipenuhi keraguan karena bersifat masih sangat prematur, bahwa kemenangan Golkar merupakan hasil dari sebuah proses metamorfosis. Diungkapkan demikian karena terkesan kesimpulan ini tidak didasarkan pada argumentasi yang kuat dan terbuka untuk diperdebatkan.

Tetapi bila disepakati, telah terjadi proses yang secara analogis dalam biologi disebut metamorfosis. Artinya, telah terjadi proses perubahan penampilan fisik dan atau bahkan perubahan struktur. Jelasnya, perubahan fisik itu terjadi akibat pertumbuhan sel dan diferensiasi sel. Dalam arti ini, kemenangan di 5 atau 6 kabupatan di NTT merupakan contoh representatif tentang telah dilaluinya proses ini.

Yang jadi pertanyaan, apakah metamorfosis itu bersifat sempurna atau tidak? Dari kaca mata biologi, sebuah perubahan metamorfosis dianggap sempurna bila terjadi perubahan yang radikal-drastis. Ia ditandai oleh perubahan yang sangat berbeda antara larva dan imagonya. Jelasnya, yang terbentuk pada saat masih larva sangat berbeda jauh dari imagonya. Contoh metamorfosis sempurna adalah katak, nyamuk, lalat, kupu-kupu. Larvanya sangat beda dari bentuk imago riilnya.

Bila dianalogkan dengan perubahan dalam politik, maka ia menunjukkan perubahan yang radikal. Itu berarti Partai Golkar telah hadir begitu baru. Jargon lama dan julukan korupsi dalam parpol sama sekali tidak terjadi. Ia sungguh menghadirkan decak kagum oleh perubahan bentuk yang dilandasi oleh perubahan struktur internal.

Nyatanya tidak seperti itu. Bayang-bayang korupsi yang ditinggalkan oleh Setya Novanto, Idrus Marhan, sekadar menyebut dua contoh, menunjukkan bahwa ancaman itu masih nyata. Memang dalam penangkapan terakhir 2 menteri, hal itu berkaitan dengan Gerindra dan PDIP, sementara pejabat Golkar masih ‘aman-aman’ saja. Tetapi itu tidak berarti bahwa Golkar sudah ‘lulus’. Barangkali ‘lolos’ tetapi belum sampai ‘lulus’ seratus persen.

Yang terjadi dalam Golkar kini barangkali sebuah metamorfosis tak sempurna. Di sana terjadi perubahan tetapi tidak menghasilkan sesuatu yang sama sekali berbeda sama sekali. Yang ada, bentuk tubuh tetap sama ketika kecil sampai dewasa, dari larva dan imago. Contoh paling kelas terjadi pada walang, kepik, rayap kutu, jangkrik, capung, dan lain-lain.

Perubahan tak sempurna ini menyadarkan bahwa kemenangan yang diperoleh kini bukan segala-galanya. Ia tidak bisa menghadirkan eufori berlebihan agar menganggap diri paling hebat. Yang ada bahwa hanya terjadi perubahan biasa dari yang tidak memiliki kekuasaan kepada memiliki kekuasaan tetapi belum lahir dari sebuah perubahan radikal.

Dalam metamorfosis yang tak sempurna seperti ini, godaan untuk terjebak masih sangat kuat. Orang-orang lama masih tetap ada. Meski ada perubahan tetapi belum begitu mendalam sehingga belum terlalu meyakinkan. Dengan itu pula kemenangan yang diperoleh tidak perlu sampai lupa daratan seakan Golkar sudah begitu meraja. Itu hanya tanda alam yang dihadirkan dalam bentuk ‘gejala’. Tafsiran atas gejala dan tanggapan perubahan itu perlu dikemas lebih lanjut.

Tetapi di atas semuanya, kemenangan yang diperoleh tidak bisa disangkali bahwa ia juga perlu disyukuri. Ia jadi bukti pengakuan akan kader Golkar. Minimal masyarakat masih yakin bahwa kaum ‘tua’ di Golkar adalah orang-orang yang memiliki daya tahan dan komitmen pada perjuangan. Sementara itu kaum milenial diberi ruang cukup fleksibel untuk bergerak mentransformasikan Golkar.

Kalau proses ini terus terjadi, metamorfosis tak sempurna yang ada kini bisa perlahan tertransformasi menjadi metamorfosis sempurna di Golkar.

Penulis, Diploma Resolusi Konflik Asia Pasifik, Facultad Ciencia Politica, Universidad Complutense de Madrid Spanyol

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *