Menulis: Momen Berbagi Informasi

  • Whatsapp

(Apresiasi Peluncuran Buletin Bawaslu Lembata)

 

Bacaan Lainnya

Oleh Steph Tupen Witin

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Lembata telah menerbitkan edisi perdana Buletin Bawaslu Lembata. Buletin edisi berwarna setebal 34 halaman ini menjadi prasasti sejarah menulis di lembaga pengawas pemilu ini.

Tulisan-tulisan dalam beragam rubrikasi yang didominasi warna “Bawaslu” ini kian menyemarakkan wajah peradaban Lembata yang telah sekian lama dideklarasikan sebagai Kabupaten Literasi tapi sangat minim dalam bukti karya literasi yang konkret.

Terbitnya Buletin Bawaslu di Lembata memang pantas diapresiasi karena Bawaslu Lembata menjadi kabupaten ketujuh bersama Bawaslu Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memiliki media informasi publik. Buletin Bawaslu Lembata memang menjadi media intern institusi tapi kontennya mencakup beragam informasi, pengetahuan dan hiburan yang menyegarkan jiwa publik di tengah kemarau karya tulis yang lahir dari institusi-institusi negara.

Di Provinsi NTT, baru 7 Bawaslu kabupaten yang menerbirkan buletin. Masih ada 14 kabupaten lain yang belum menerbitkan media intern yang menjadi titian penyebaran informasi ke ruang publik. Padahal dari sisi anggaran, dana, insitusi negara sesungguhnya tidak kurang apapun. Kita hanya membutuhkan motivasi untuk menerbitkan energi menulis dalam diri segenap aparat negara. Inilah titik krusial bagi institusi yang kaya anggaran ini untuk membuka diri agar informasi dan pengetahuan menulis bisa mengalir ke dalam jiwa.

Penulis berpikir bahwa institusi negara semisal Bawaslu ini mesti terlibat dalam gerakan literasi sebagai respons positif terhadap gerakan intelektual global ini. Kehadiran majalah, buletin dan majalah dinding sekalipun merupakan tuntutan mendesak untuk mengabadikan berbagai momen yang tidak pernah akan kembali lagi.

Eksistensi majalah, buletin dan sebagainya merupakan gerakan kreatif melawan bandang informasi media sosial yang menarasikan berbagai peristiwa secara infantil, terkadang sarat hoaks dan serangan personal yang mengabaikan banyak nilai kehidupan secara intens.

Kehadiran majalah dan buletin di ruang publik serentak menyertakan tanggung jawab sosial untuk menjadikan gagasan sebagai medium pencerahan rasionalitas dan pencerdasan kesadaran. Nilai-nilai ultim ini menjadi “barang mewah” di tengah bandangnya berbagai gelombang media sosial dan media online yang berkelindan dengan media mainstream, buletin dan majalah berkualitas yang tergeser posisinya ke garis pinggir proses pemaknaan hidup. Kondisi ini mendesak setiap kita melibatkan diri dalam memberikan pikiran dan gagasan untuk memperbaikinya, sebisa kemampuan kita.

Gagasan kita, betapa pun sederhana bisa menginspirasi banyak orang untuk berpartisipasi memperbaiki dan mengubah keadaan. Menurut Nelson Mandela, ketika orang yang memiliki pikiran baik bungkam maka jumlah orang bodoh, kejam dan serakah akan bertambah banyak dan ada ruang yang lebih leluasa bagi mereka untuk menghancurkan ruang publik.

Menulis: Titian Partisipasi

Widyamartaya dalam buku Kreatif Mengarang (Kanisius, 1984) menegaskan bahwa manusia adalah makhluk berpikir yang senantiasa dibanjiri ide-ide, gagasan-gagasan, intuisi-intuisi, cita-cita, argumen-argumen, pertanyaan-pertanyaan, kesangsian-kesangsian yang mesti disumbangkan kepada masyarakat luas.

Agama-agama meyakini semua itu sebagai rahmat yang tidak sekadar dipendam dalam benak egoisme tapi mesti dikomunikasikan kepada publik sebagai bentuk tanggung jawab sosial kemanusiaan. Tanggung jawab tidak diukur dari prestise, jabatan, pangkat dan kekuasaan tapi pengabdian dan pengorbanan dengan kiblat kesejahteraan umum (bonum commune).

Agama-agama sesungguhnya mengajarkan bahwa ukuran keselamatan tidak terletak pada kesalehan personal dan “kekayaan” privat yang menghadirkan kenikmatan bagi diri tapi bagaimana kita mempersembahkan nilai pribadi: kedewasaan berpikir, kekuatan kehendak, kejujuran dan keberanian, keterbukaan sikap, kecintaan akan kebenaran dan kesejahteraan bersama ke ruang publik sehingga menjadi sebuah kesalehan sosial.

Keberadaan kita di ruang publik mesti memacu kita menjadi pribadi yang terlibat dalam pembangunan menuju hadirnya masyarakat yang adil dan makmur. Maka kita mesti menjadi pribadi yang peka dan sadar membaca tanda-tanda zaman, kreatif mengembangkan pikiran dan sarat inisiatif merespons realitas. Senjata ampuh andalan kita adalah daya pikir dan sikap kritis. Menulis adalah salah satu kerja intelektual yang menjadi titian kreatif untuk mengkomunikasikan gagasan kita ke tengah rakyat. Kerja intelektual ini menuntut keterampilan khusus yang setia ditempa dengan keuletan.

Melalui tulisan, kita berprtisipasi dalam mengembangkan peradaban kemanusiaan. Ide yang brilian sekalipun jika tidak dikomunikasian dengen jelas, berdaya guna dan bertepart guna akan menjadi sampah di benak kita. Gagasan yang baik dan benar ketika dilemparkan ke ruang publik akan membawa dampak yang besar, entah kapan waktunya. Tulisan yang tercetak di lembaran buku, majalah dan buletin akan mengabdi. Nilai tulisan itu akan terus “berbicara” dalam deretan generasi.

Aktivitas menulis akan menambah wawasan, mempertajam sikap kritis dan mengasah kepekaan kita terhadap realitas sosial. Kita melatih otak untuk membentuk struktur berpikir yang jernih. Kedisiplinan dalam berpikir yang kita ejahwantahkan melalui menulis akan mengasah otak, memelihara kesegaran otak, menajamkan pikiran dan menantang munculnya ide-ide baru dan segar, menjauhkan kita dari demensia (hilang ingatan) dan membuat kita tetap produktif sampai usia lanjut.

Tulisan kita bisa menantang pendapat orang lain dengan argumentasi yang siap diperdebatkan di ruang sosial. Tanpa kita sadari, pikiran yang kita rancang dalam sunyi di kamar memiliki energi spiritual untuk memengaruhi gerak peradaban zaman di ruang sosial. Tulisan kita, betapa pun sederhana akan membuka cakrawala pemikiran (intellectual exercise). Kita bisa “bertemu” dengan semua orang yang membaca tulisan kita, dari beragama latar belakang sosial dan meruntuhkan tembok pemisah antara penulis (kita) dan orang lain (pembaca). Maka aktivitas menulis mesti kita lakukan dengan hati, kesukacitaan, kegembiraan berbagi gagasan serta ilmu pengetahuan.

Terakhir, menulis butuh keberanian menghadirkan gagasan di ruang publik. Keberanian itu berbasis pada amunisi pengetahuan sebagai buah dari kegiatan membaca. Membaca dan menulis adalah dua aksi yang “bersaudara kandung.” Keduanya saling memperkaya, saling menguatkan, saling menyokong. Walau pun gadget sudah menyerbu dunia dan melibas generasi muda kita sejak usia amat belia, biasakan membaca buku karena jembatan emas menuju menulis adalah membaca. *

Perintis Oring Literasi Bukit Waikomo

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *