Kadar Nasionalisme Partai Golkar

  • Whatsapp

Oleh Lasarus Jehamat

Bacaan Lainnya

Tulisan ini berawal dari rasa kuriositas penulis terkait fenomena kemenangan Partai Golkar dalam setiap kali suksesi tingkat lokal maupun nasional selama ini. Data menunjukkan, dalam setiap kontestasi, posisi Partai Golkar selalu berada di tingkat lima besar, terutama sejak era reformasi. Padahal, Partai Golkar masih berada di bawah bayang-bayang Golongan Karya Orde Baru.

Seperti yang telah menjadi rahasia umum, Golongan Karya digagas Presiden Soekarno sisa-sisa masa kepemimpinannya. Orde Baru kemudian menjadikan Golkar sebagai kendaraan politik jauh dari yang diharapkan Soekarno. Eksistensi Golkar memang penuh dengan sejumlah kegaliban. Sebab, baru terjadi di Indonesia, sebuah lembaga nonpartisan dapat mengikuti pemilihan umum.

Menariknya, fakta tersebut hanya berpengaruh kecil dalam perolehan suara Partai Golkar pasca reformasi. Faktanya, Partai Golkar selalu berada di  lima besar partai pemenang (Abidin dan Sultan, 2011). Dalam perjalanan waktu, faksionalitas antarpenyokong Partai Golkar tidak serta merta menjadikan partai ini lemah (Nurjaman, 2018). Sebaliknya, faksionalitas itu menguatkan Partai Golkar untuk mencari jalan konsensus agar setiap masalah di internal organisasi partai dapat diselesaikan dengan pendekatan win-win solution (Hafid, 2018).

Pertanyaan yang muncul kemudian ialah mengapa Partai Golkar tidak pernah mengalami kekalahan yang agak besar? Pertanyaan ini diajukan terutama karena realitas kemenangan Golkar dalam kategori lima besar selama proses kontestasi politik nasional dan beberapa kontestasi di tingkat lokal. Jawaban utamanya terletak pada kemampuan Partai Golkar mengelola nasionalisme. Bagi partai ini, nasionalisme kebangsaan berada di atas segala-galanya. Partai lain boleh berkonflik dan berseteru karena berbagai sebab, Golkar tetap kokoh dan kuat.

Konflik bukannya absen di Partai Golkar. Ini menarik. Sebab, setiap konflik muncul, selalu saja muncul gerakan tokoh Golkar yang bisa menjadi penengah bagi setiap elemen yang berbeda kepentingan (Hafid, 2018).

Membaca riak dinamika politik secara internal dalam tubuh Partai Golkar, sulit untuk tidak mengatakan bahwa ada satu nilai bersama yang dipegang dan dipraktikkan oleh setiap eleman partai. Itulah nasionalisme kebangsaan.

Nasionalisme Kebangsaan

Dalam On Nationality, Miller (1995) tegas menyatakan bahwa nasionalitas merupakan kekuatan yang mendominasi dalam politik kontemporer. Disebutkan, setiap elemen boleh saja menyebut nasionalis tetapi itu semua hadir karena ada nasionalisme kebangsaan yang telah dibangun bersama. Karena itu, setiap elemen yang memegang teguh nasionalisme kebangsaan akan dapat bertahan dalam proses perjalanan hidup individu dan sosialnya.

Atas alasan demikian, Dumbrava (2014) menyebutkan bahwa keterkaitan antara nasionalitas, kewargaan, dan rasa memiliki sebagai sebuah bangsa dapat menjadi pengikat atas semua bentuk perbedaan, termasuk perbedaan politik dan perbedaan lainnya. Dalam konteks kelembagaan, nasionalisme dan nasionalitas sebuah lembaga sangat ditentukan oleh bekerjanya elemen kewargaan dan besarnya rasa memiliki sebuah lembaga pada keutuhan bangsa.

Di titik itu, benar yang disampaikan Mandelbaum (2020) dalam The Nation/State Fantasy: A Psychoanalytical Genealogy Of Nationalism. Bahwa fantasi kebangsaan harus diubah menjadi sebuah imaji bersama dalam mengikat semua bentuk perbedaan. Di sana, perbedaan tidak selalu dilihat sebagai elemen perpecahan. Setiap perbedaan adalah kekuatan yang dapat dipakai untuk mengikat berbagai bentuk perbedaan lain. Dalam kerangka itu, menurut Mandelbaun, terjadi reproduksi imajinasi terkait kebangsaan. Karena itulah, mereka yang bisa mereproduksi kebangsaan dan mengubah fantasi kebangsaan menjadi imajinasi kebangsaan pasti mampu bertahan dalam semua bentuk persoalan hidup kebangsaan.

Merujuk pada tiga kerangka teoritik di atas, mudah kiranya membaca alasan mengapa Partai Golkar selalu masuk di deretan lima besar pemenang pemilu atau pilkada. Sebab utamanya ternyata ialah kemauan elite partai ini mempertahankan imaji bersama terkait kebangsaan itu. Di sana, nasionalisme menjadi nilai yang tidak saja abstrak tetapi menjadi amat material.

Lalu, bagaimana dengan Golkar? Membaca rekam jejak Partai Golkar di ruang politik Indonesia, dinamika selalu muncul dalam tubuh partai ini. Dengan kata lain, Partai Golkar bukanlah entitas statis. Karena itu, beragam dinamika ada di sana. Dalam kata pengantar buku Jejak Karya Golkar NTT (Sarong, Eds. 2018), Ketua Golkar NTT, Melki Laka Lena menyampaikan tiga perkara besar yang masih ada dalam tubuh Partai Golkar saat ini.

Pertama, kelemahan ideologis. Yang dimaksud ialah kehampaan ideologi dalam diri setiap elemen partai. Elite Partai Golkar tidak mampu menopang kelemahan partai akibat cercahan banyak pihak atas realitas sosial dan politik Indonesia. Golkar akhirnya berjalan tanpa ideologi.

Kedua, pragmatisme politik di kalangan pengurus dan elite Partai Golkar. Oleh beberapa pihak, Partai Golkar dijadikan arena mencari uang dan bukan untuk membumikan ideologi serta visi partai. Banyak pihak dalam Partai Golkar menjadi tukang catut dan pialang politik. Uang merupakan jawaban final atas soal besar tersebut.

Ketiga, banyaknya kepentingan yang ada di dalam Partai Golkar. Semenjak Golkar berubah wujud menjadi partai politik, kepentingan pun muncul di mana-mana.

Ketiga masalah yang dijelaskan di atas bukannya mengada-ada. Meski masalah demikian menghinggapi semua partai di Indonesia saat ini. Galibnya, Golkar tetap tumbuh dan terus berkarya demi bangsa ini.

Materialitas nasionalisme Golkar terletak pada kemauan partai ini untuk tidak pernah menggugat dan mengganggu Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika. Empat pilar kebangsaan itu justru dipelihara dengan sangat baik di Golkar.

Konteks Golkar

Setiap orang yang memeriksa nasionalisme dalam waktu bersamaan harus pula memeriksa identitas ras, alienasi dan retorika politik (Gordon, 2003). Sebab, untuk mengukur kadar nasionalisme seseorang atau sebuah lembaga tiga aspek itu menjadi sangat imperatif sifatnya.

Di sana, beragam anasir primordial sedapat mungkin dihindari baik secara ideologis maupun dalam praktiknya di masyarakat. Maka, kalau pun sebuah partai mengaku diri nasionalis, tetapi jika sebuah partai kerap mempertontonkan watak primordial dalam praktiknya di masyarakat, partai tersebut sulit mendapatkan suara rakyat.

Di titik yang lain, sebuah partai nasionalis ialah mereka yang sungguh menempatkan rakyat sebagai entitas subyek dan mau dengan sungguh mengeluarkan masyarakat dari berbagai masalah sosial. Ketika partai tidak melakukan itu, apa pun ideologinya, partai itu akan ditinggalkan pemilih.

Partai Golkar berada dalam bentangan itu. Bahwa nasionalisme kebangsaan tidak bisa digadaikan hanya untuk kepentingan kontestasi sesaat. Elemen Partai Golkar telah belajar banyak dari berbagai pengalaman konflik di Indonesia. Faktanya, setiap konflik yang didasar pada kepentingan, menyebabkan bangsa ini jatuh ke lubang hitam peradaban.

Ketika partai politik bersuara dan bekerja hanya untuk kepentingan dirinya, partai itu jelas masuk ke dalam kubangan retorika dirinya sendiri. Parpol demikian tidak laik disebut sebagai alat penyambung lidah dan instrumen perumusan kebijakan bagi rakyat.

Di sana, terdapat pembelajaran penting yang bisa diambil oleh lembaga politik seperti partai politik. Yang mesti diperhatikan ialah sebuah partai memang wajib memiliki ideologi dan mematerialkan ideologi yang dianutnya dalam praksis kehidupan berbangsa dan bernegara.

Konsistensi Partai Golkar dalam bekerja untuk kepentingan rakyat tanpa embel-embel kepentingan tertentu menjadi hal yang patut dicatat. Golkar rupanya tahu bahwa partai tidak boleh tunduk di bawah ketiak kepentingan diri dan kelompok. Partai harus menjadi lembaga yang bisa mewakili semua kelompok jika telah mendapatkan mandat untuk memimpin.

Dengan demikian, keberadaan ideologi dalam sebuah partai sejatinya tidak hanya menjadi pajangan administratif. Ideologi harus bisa diwujudkan dalam praktik hidup politik kebangsaan. Sebab, dalam beberapa kasus, partai politik gemar menyebut berideologi tetapi gagap dalam bertindak untuk kepentingan rakyat.

Kadar nasionalisme Partai Golkar jelas tidak bisa dibaca setengah-setengah. Kualitas nasionalisme partai ini ditentukan ketika Golkar mampu menjaga amanah pendiri bangsa untuk terus memertahankan empat pilar kebangsaan. Nasionalisme termaktub kuat di sana. Nasionalisme kebangsaan. *

 

Penulis, Dosen Sosiologi Fisip Undana Kupang

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *