“Hati-Hati, Bro! Post Power Syndrome Diam-Diam Merayap”

  • Whatsapp

Oleh P. Kons Beo, SVD

Bacaan Lainnya

Seolah-olah Masih….

 Ada yang aneh di sekitar kita. Terkadang bisa‘umpan emosi’. Tetapi banyak lucunya juga. Sering pula kita hanya menatap dengan ‘perasaan kasihan lagi’ dan berusaha memahami keadaannya saja. Yang aneh-aneh itu misalnya “mudah tersinggung, pemarah, tidak diterima dibantah oleh orang lain, tidak mau kalah saat berdebat, terus-menerus menceritakan kondisinya saat masih berjaya, menghindari bertemu dengan orang lain, kerap menyerang pendapat orang lain, selalu saja mencari cara untuk mengeritik orang lain, dan merasa depresi.” Bisa alami pula kesulitan dalam istirahat malam.

Apa yang dilukiskan di atas adalah beberapa gejala yang tampak dalam diri seseorang yang mengalami Post-Power Syndrome, disingkat PPS (Azelia Triviana, 2019).

Dapat dibayangkan, seseorang yang dulunya begitu di atas angin dalam kuasa, tiba-tiba saja harus berhenti dari kuasa serta dari segala hak dan wewenang karena kuasa jabatannya. Segala sesuatu, kini,  terasa redup dan suram. Tak punya alasan dan judul lagi untuk bertitah, bersuara, mengatur ini itu, bergerak leluasa ke sana-sini, senyap dari lingkaran elitis, ataupun tak terhitung lagi dalam protokol-protokol resmi. Dari area main celebran menuju group con-celebran.

Telaah psikologis tandaskan bahwa PPS adalah “satu gejala yang terjadi di mana penderita tenggelam dan hidup di dalam bayang-bayang kehebatan, keberhasilan masa lalunya sehingga sulit menerima keadaan yang terjadi sekarang. Maka, amat tak sulit sebenarnya untuk menelisik gejala PPS pada diri seseorang. Katakan saja secara sederhana dalam menangkap kalimat, “Ya, ketika saya masih menjabat sebagai pemimpin, sudah banyak hal yang dibuat. Sebenarnya yang sekarang ini tinggal lanjutkan saja. Tetapi nyatanya….”

Demikianlah si penderita PPS pasti larut dan berulang-ulang akan narasikan segala kelebihannya dalam framing komparatif. Artinya, ia pasti selalu berusaha agar terdengar lebih unggul dan cemerlang dari siapapun yang lain di masa kini atau masa sebelum ia berkuasa. Segala masa lalu itu telah ia lewati dengan jerih payah yang luar biasa. Dan lagi, ‘cerita hebat masa lalunya’ dibuatnya jadi dagangan ke sana-ke mari. Dari satu tempat ke tempat lain. Tentu dengan kiat menistakan yang bukan di masanya.

Segala alam kejayaan itu, de facto et de iure, memang telah berlalu. Namun sayangnya, si penderita PPS tetap gagal juga untuk bisa menerima dan mengakui kenyataan itu dalam keteduhan batin. Ia bisa saja bertindak tampaknya atau  seolah-olah masih sebagai orang berkedudukan dan masih menjepit tongkat komando.

Di sisi lain lagi, misalnya, sebagai akibatnya, rasa mau terus berkuasa dan terlebih ingin tunjukkan pengaruh, menggiring penderita PPS untuk membentuk group atau perhimpunan apa saja. Katakan saja ini dilihat sebagai kelompok tandingan.  Tentu dengan harapan tebal: mesti tetap tampil sebagai orang nomor satu, didengarkan, serta menjadi rujukan untuk segala soal di kelompoknya.

Sayangnya, seringkali ajang kebersamaan ini hanya dipakai sebagai medium agar si penderita PPS tetap didengar dengan segala lika-liku nostagianya. Dan lebih riskan andaikan reunian itu dipakai sebagai saluran bagi si penderita PPS untuk menyalurkan pengaruh negatif dan deviatif yang berafiliasi pada gerakan dan tindakan anarkis.

Kenapa Ini Mesti Terjadi?

Sejatinya, ada hal sederhana yang menyebabkan seseorang terjebak dalam PPS itu. Berkenaan dengan kesehatan mental, Trifiana menjelaskan bahwa, “Akar masalah dari PPS adalah saat seseorang tidak siap menerima perubahan dalam dirinya.” Perubahan itu sepertinya terasa sekian mendadak dan tergesa-gesa. Penderita PPS tak cekatan untuk menerima dan mengalami keadaan tanpa kuasa dan tak menjabat lagi. Lebih lanjut, ia terpaksa untuk hidup dalam bayang-bayang kuasa dan otoritas yang pernah dimiliki.

Ilusi seolah-olah masih berkuasa pada titiknya mengiring pasien PPS kepada beberapa gangguan serius. Ada perubahan fisik yang drastis yang berakibat pada sering mudah sakit dan tanpa gairah hidup. Terasa pula akibat dari adanya ketidakstabilan dalam emosi, yang ditandai dengan mudah menyala tak karuan. Ditelusuri pula bahwa ada gangguan sikap atau perilaku yang ditandai dengan kemurungan berkepanjangan, atau sebaliknya akan tetap berceloteh panjang tentang segala kejayaan di masanya. Teramati  pula bahwa si penderita PPS bahkan memperlihatkan sikap memberontaknya.

Pasien PPS ingin menjadi orang yang tak tersentuh di bawah segala ketentuan dan alam kuasa yang baru. Karena toh, di bawah alam bawah sadar, bagi pasien PPS berada di luar jalur yang seharusnya, justru hendak  menunjukkan “Saya masih punya kuasa.” Walau tentunya kuasa itu  ilutif sifatnya, dan umumnya kontra produktif untuk satu kehidupan bersama! Padahal, ketika masih bertaji dalam kuasa dan jabatan, ia sekian loyal, dedikatif, serta penuh seruan-seruan demi kebaikan

atau kesejahteraan bersama (bonum commune). Apakah para penderita PPS ini hadir hanya untuk memperpanjang daftar nama pada kolom barisan sakit hati karena segala harapan demi kepentingannya tak tercapai? Hal ini tentu menuntut survai atau telaah serius. Tapi, sudahlah! Kasihan juga ya, para pasien PPS ini? Mungkin ini ada di lingkaran sekitar kehidupan Anda? Atau malah Anda sendiri tengah mengalaminya?

Apakah Yang Mesti Disikapi?

Tentu tak semua orang selepas kuasa dan jabatan, langsung terseret arus PPS. Karena toh, ada sekian banyak yang nampak ceriah dan hidup-hidup setelah selesai masa kuasa dan jabatannya. Ada yang ceriah karena bisa bersahabat dengan alam. Hidupnya kini sungguh bebas merdeka. Tanpa ada lagi ikatan resmi  dengan aroma kuasa dengan segala kewajiban di baliknya. Memelihara bunga, perhatian pada sawah-ladang serta kolam ikan ataupun ternak piaraan, punya banyak waktu untuk relaks, bertekun pada hoby seperti membaca adalah jalur-jalur sehat serta bijak untuk tidak dimakan rayap PPS. Jelas, ada sekian banyak mantan penguasa yang tetap produktif, serta tahu mengolah hidupnya dalam keteduhan batin atau memilih yang terbaik di ziarah hidup selanjutnya. Dan demi kebaikan yang lebih luas.

Tetapi repotnya, bila bayang-bayang kejayaan hari silam masih mendera! Di luar self-control akan berakibat pada reaksi-reaksi buruk dalam hidup. Dapat menimbulkan malapetaka dan bisa melahirkan derita dalam hidup. Pada penderita PPS pada level serius tentu dibutuhkan penanganan ekstra. Namun, tetap ada hal praktis untuk mengakrabi. Menjaga komunikasi, tetap mendengarkan, masuk dan terlibat pada apa yang dilakukan serta memberi apresiasi, menawarkan kerja-kerja ringan yang mengesankan bagi kaum tak berkuasa lagi adalah tindakan-tindakan praktis yang menceriahkan dan melegahkan!

Sepatutnya kita sadari pula, soal PPS, kata para ahli, bukan soal menyangkut kuasa dan jabatan yang ‘hilang’ atau ‘terlepas.’ Tetapi juga bisa merambah pada siapapun yang tetap berada bayang-bayang kejayaan dan popularitas di masa lalu seperti karir, kecantikan atau ketampanan, bakat luar biasa, atapun kepintarannya. Sayangnya, segalanya telah berlalu! Orang menjadi tak siap untuk masuk dan mengalami atmosfer baru tanpa kuasa dan tiada wewenang. Telah redup dan bahkan punah segala ketenaran di hari silam, yang dulunya penuh dengan segala hiruk pikuk standing ovation. Penuh pujian.

Menghadapi si pasien PPS tentu mesti bertolak dari pengetahuan akan latar belakangnya. Setiap orang yang terdampak PPS tentu berbeda satu dengan yang lainnya. Triviana mengingatkan, “Bagaimanapun, mereka adalah orang yang pernah berjasa untuk hidup orang-orang di sekitarnya.  Sekali lagi, tetap menjalin komunikasi adalah jalan terbaik. Di sudut hati terdalam, tetap ada kerinduan kecil untuk mengharapkan pengakuan pada batas kewajaran.

Pada Akhirnya…

Hidup ini adalah satu ziarah yang menggembirakan. Tak cuma asal hidup.  Siapapun menginginkan satu forma dan isi kehidupan yang melegahkan! Tetapi, selalu peganglah keyakinan bahwa hidup ini miliki irama, atau katakanlah rahasianya sendiri. Misalkan saja, apa yang di hari itu dianggap sebagai kejayaan dan sukacita , hari ini sudah  berubah jadi keterpurukan dan kesedihan. Sebaliknya  apa yang saat itu dialami sebagai kesuraman dan kesedihan, dalam kuasa Tuhan, kini bisa berubah jadi cahaya terang penuh sukacita.

Benarlah kata Pengkotbah dalam Alkitab Kristen, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah kolong langit ada waktunya(Pkh 3:1).

Ada saat kita berkuasa, ada saatnya kita mesti meletakkan kuasa dan jabatan itu. Kita hanya perlu hati yang tak boleh mati-matian terlekat pada kuasa, jabatan dan segala ketenaran di hari silam. Tentang kuasa, dan tentang ingin jadi yang pertama dan terbesar, ingatlah kata-kata Yesus dari Nazaret, Tuhan dan Guru, Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya. Barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu(Mat 20:26-26).

Beruntunglah orang yang memeterai kuasa dan jabatannya dengan ketulusan dalam kepelayanan, dan terutama dengan kerendahan hati. Yakinlah ia pasti tak terjebak dalam rawa-rawa Post-Power Syndrome.

 

Verbo Dei Amorem Spiranti

Collegio San Pietro – Roma

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *