Matematika Sulit? Gunakan Alat Peraga

PANDEMI Covid 19 tidak dapat dijadikan alasan untuk berdiam dan pasrah. Hidup harus tetap dijalani. Semua manusia dituntut untuk tetap survive dalam kondisi ini. Dampak dari pandemi Covid 19 sangat terasa dalam berbagai bidang kehidupan termasuk dalam dunia pendidikan. Pembelajaran dilakukan secara online memberikan warna tersendiri dalam dunia pendidikan, khususnya bagi siswa Sekolah Dasar. Mereka dituntut untuk memahami konsep-konsep dasar  tanpa tatap muka dengan gurunya.

Hal ini dapat menyebabkan terjadinya kesulitan siswa memahami konsep matematika yang pada dasarnya dikenal sebagai mata pelajaran abstrak, rumit dan membosankan.

Bacaan Lainnya
tonykleden

Siswa SD tidak luput dari pelaksanaan pembelajaran secara online. Pembelajaran semua mata pelajaran dilakukan secara online. Begitu pula mata pelajaran matematika. Mata pelajaran matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang kurang disukai anak, bahkan menjadi momok sebagian orang. Masih banyak guru  juga yang belum maksimal mencari upaya agar keadaan demikian dapat berkurang atau bahkan berubah.

Pada dasarnya perkembangan intelektual siswa SD termasuk dalam tahap operasional konkrit, sebab logika berpikirnya didasarkan atas manipulasi fisik dari obyek-obyek.

Dr. Maria Agustina Kleden, M.Sc memaparkan materinya

Dengan kata lain, penggunaan media (termasuk alat peraga) dalam pembelajaran matematika di SD memang sangat diperlukan. Hal ini bukan hanya disebabkan sesuai dengan tahap berpikir anak tetapi juga tahap perkembangan mental anak. Melalui penggunaan media/alat peraga tersebut anak akan lebih menghayati matematika secara nyata berdasarkan fakta yang jelas dan dapat dilihatnya. Kegiatan ini membantu siswa untuk lebih mudah memahami topik yang disajikan.

Namun kenyataannya, pada beberapa SD di Kecamatan Larantuka, Flores Timur, guru tidak menggunakan media/alat peraga dalam pembelajaran matematika. Hal ini disebabkan karena tidak tersedianya alat peraga dan juga guru belum memiliki pemahaman dan keterampilan menggunakan alat peraga dalam pembelajaran matematika.

Akibatnya, guru tidak bisa mengembangkan diri dalam pemanfaatan dan pengembangan media/alat peraga sehingga pembelajaran matematika menjadi tidak menarik. Kondisi ini bermuara pada menurunnya pemahaman siswa tentang konsep-konsep yang diajarkan ataupun pemahaman konsep dasar yang tidak kuat pada siswa.

Guru sebagai ujung tombak keberhasilan siswa SD perlu menyadari keterbatasan dalam pembelajaran online dan berupaya semaksimal mungkin mencapai indikator yang telah ditetapkan. Berbagai persoalan akibat keterbatasan guru dan sekolah dalam pembelajaran online menyebabkan pembelajaran tidak maksimal. Kondisi ini pasti berdampak pada rendahnya pemahaman siswa SD terhadap konsep-konsep  seperti konsep penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian pada bilangan pecahan dan luas bidang datar.

Menyadari hal ini, tiga dosen dari Program Studi Matematika Fakultas Sains dan Teknik  Undana Kupang  memberi pelatihan bagi guru-guru SD Gugus Larantuka II. Tiga dosen itu yakni Dr. Maria Agustina Kleden, M.Sc, Astri Atti, S.Si, M.Si dan Maria Lobo, M.Maths.Sc, PhD.

Kegiatan ini dikemas dalam tema Program Kegiatan Masyarakat (PKM) Dosen Program Studi Matematika Fakultas Sains dan Teknik Undana. Tujuan kegiatan PKM adalah membuat berbagai alat peraga sederhana yang dapat digunakan sebagai media belajar sehari-hari. Juga akan dilakukan pelatihan penggunaan alat peraga, serta pendampingan dalam proses belajar mengajar saat penggunaan alat peraga bagi para guru matematika SD.

PKM ini diharapkan dapat memperbaiki sistem pendidikan dan peningkatan partisipasi masyarakat, yaitu menghasilkan berbagai jenis alat peraga matematika; akan meningkatkan pemahaman siswa terhadap mata pelajaran matematika dan memberikan kemampuan berpikir matematika secara kreatif.

Juga melalui pengunaan alat peraga, guru SD dapat memperoleh tambahan wawasan tentang pemanfaatan dan pengembangan media/alat peraga untuk meningkatkan kelancaran pelaksanaan tugas profesionalnya sebagai pembimbing peserta didik di sekolah, memperbaiki sistem pendidikan di sekolah, khususnya di sekolah dasar untuk mata pelajaran matematika.

Pelatihan pembuatan dan penggunaan alat peraga pembelajaran matematika dilaksanakan 3 hari yaitu pada tanggal 23 dan 24 September 2021. Kegiatan ini dibuka oleh John Ukat, S.Pd, Kabid Pendidkan Sekolah Dasar dan Menengah yang mewakili Kepala Dinas PPO Kabupaten Flores Timur.

Dalam sambutannya, Ukat menegaskan bahwa banyak guru tidak mengajar dengan baik materi-materi matematika yang sulit. Bahkan ada guru yang karena kurang mampu memahami materi tersebut sehingga tidak diajarkan kepada siswa atau dengan kata lain dilewatkan.

Konsep-konsep dasar matematika, kata Ukat, perlu ditanamkan secara kuat sejak dini sehingga mereka mampu memahami konsep yang lebih tinggi. Pelathan pembuatan dan penggunaan alat  peraga ini diharpakan dapat diikuti dengan baik oleh guru sehingga dapat dterapkan di sekolah masing-masing.

Para peserta, yakni para guru, telaten menyiapkan alat peraga

Ukat sangat berharap dengan adanya kegiatan ini pemahaman guru terhadap konsep matematika semakin baik sehingga percaya diri untuk mentransfer konsep tersebut kepada siswanya.

Pada kesempatan acara pembukaan tersebut, Ketua Gugus Larantuka II, Palan Bolen Paulina, S.Pd.SD dalam sambuatannya menyampaikan limpah terima kasih kepada tim pelaksana PKM yang memilih Gugus Larantuka II sebagai tempat berbagi ilmu yang dimiliki.  Kegiatan ini dihadiri oleh 38 guru dari 7 sekolah dalam wilayah Gugus Larantuka II.

Ketua Tim Pelaksana, Dr. Maria Agustina Kleden, M.Sc, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi yaitu pengabdian.

“Kalau ditanya kenapa gru-guru di Gugus Larantuka yang menjadi mitra program pengabdian ini, maka jawabannya adalah ini salah satu bentuk pengabdian untuk lewotanah. Walaupun anggota tim yang lain berasal dari luar Flores Timur tetapi kami sepakat untuk melaksanakan ini di Flores Timur. Ibu Astri Atti, S.Si, M.Si dan Ibu Maria Lobo, M.Maths.Sc, PhD masing-masing berasal dari Makasar dan  Ngada, namun mereka memiliki kepedulian tinggi terhadap mutu pendidikan di Flores Timur. Ini bukan kesempatan pertama kami bertiga melakukan kegiatan di Flores Timur. Tahun 2019 dan 2020 kami laksanakan PKM di Gugus Larantuka I Wilayah Waibalun,” kata Agustina Kleden.

Ketiga dosen ini menyertakan juga 4 orang mahasiswa yaitu Maria Roslin Ito, Klaudia Kelen, Lusi Kolihar dan Resty Waton. Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini bertujuan untuk melatih mahasiswa menghadapi kehidupan nyata dari teori-teori yang telah mereka peroleh pada masa kuliah.

Pendampingan demonstrasi pembelajaran matematika menggunakan alat peraga untuk 7 kelompok peserta. Kelompok dibagi berdasarkan jumlah sekolah. Hal ini dilakukan agar hasil karya alat peraga yang dibuat oleh kelompok masing-masing dijadikan milik sekolah. Diharapkan hasil karya alat peraga ini dapat dijadikan contoh untuk pengembangan lebih lanjut sesuai dengan konsep matematika yang akan diajarkan.

Pada penutupan kegiatan, Benediktus Timu mewakili peserta pelatihan mengungkapkan bahwa kegiatan ini sangat membantu karena selama ini guru mengajarkan hal abstrak.

“Saya bangga. Materi yang diberikan serta diajarkan sangat membantu, sehingga kami mendapat wawasan tambahan. Harapan saya setelah mendapat banyak hal dari pemateri kami bisa menerapkan di bumi Flores Timur sehingga dapat berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan di Flotim,” kata Timu.

Dalam pelaksanaan pelatihan terungkap pula bahwa para guru mengalami kesulitan menyusun dan menentukan alat peraga yang tepat untuk mengajar suatu konsep matematika. Mereka sadar bahwa siswa mereka berada pada perkembangan kognitif yang membutuhkan hal-hal konkrit untuk memahami suatu konsep. Namun keterbatasan pengetahuan mereka akan alat peraga maka mereka mengajar hanya menggunakan metode ceramah. Siswa disuruh menghafal konsep penjumlahan pecahan dengan trik-trik yang sederhana.

Begitu pula tentang bangun datar dan bangun ruang. Para guru kesulitan menjelaskan konsep luas bangun datar dan volume bangun ruang. Diakui bahwa pembelajaran dengan menggunakan alat peraga dalam bentuk permainan mempercepat pemahaman siswa akan konsep dan tidak sekadar menghafal. (*/den)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.