Ketika ‘Nafsu Kemurnian’ Menjerat

“Semakin tinggi kita terbang, semakin kecil kita di mata orang-orang yang tidak bisa terbang”

(Friedrich Nietzsche, filsuf Jerman, 1844-1900)

Bacaan Lainnya
tonykleden

Oleh P. Kons Beo, SVD

Saat Rusuh di dalam Batin

Dari hari-hari silam hingga saat kini, sepertinya tak ada yang berubah. Cemas, panik tak karuan jadi tamu tetap di dalam batin. Tampaknya telah terumus satu pikiran baku. Bernada sedikit runtut dan  kaku. Mesti diterima sebagai satu kepastian. Tesis-tesis bernada kepastian itu lalu diprasastikan. Ditoreh dengan ‘tinta-tinta sakral.’

Yang terjadi selanjutnya? Tangan yang ‘menulis’ mesti jadi tangan yang terulur pula. Siap diikat mati oleh semua yang ditulisnya. Terbelenggu oleh hasil pikirannya sendiri. Manusia jadi ‘mati langkah.’ Jauh dari udara kebebasan  yang sebenarnya sanggup membuatnya lebih kreatif dan spontan. Ironi memang.

Namun, sudahlah! Bisa diterima andai semuanya terpola dalam kerangka keadaban. Sebab semua yang tertulis itu bisa jadi kompas di sisi-sisi kehidupan. Terlalu sering kita tidak tertib bicara. Ekspresi berpikir terkadang sekian bebas yang teramat sembrono. Gejolak sikap hidup pun terkadang cenderung norak. Tak terukur.

Murni Milikku (Kami), Palsu Milikmu (Kalian)

Di titik ini, semuanya bisa dipahami. Tetapi, jadi repot sekiranya alam cemas mulai menyergap. Halusinasi liar tentang kemurnian mulai mendera. Semua jadi berubah. Yang semula jadi kompas penuntun hidup, segera berubah jadi ‘milikku yang murni.’ Yang harus dihayati sedetailnya dan serigoristik mungkin.

Gerak dan irama hidup mesti di jalan murni! Dan mulailah, apa semula tertulis sebagai titian menuju keberadaban, segera berubah peran. Semuanya ditakhtakan bagai ‘raja diraja yang berultimatum maut.’ Manusia rela jadi buta untuk ‘diperhamba dan diperalat.’

Dan alam selanjutnya? Harmoni sejuk kehidupan mulai tergoyah. Telah tampil kelompok sektarian puritan yang tak hanya peka mengenai apa yang harus ditaati. Tetapi bahwa ia juga sekian sensitif akan siapapun dan apapun yang dianggap anti kemurnian. Dan di saat ‘nafsu kemurnian’ mulai membara, maka tunas-tunas intoleransi segera bersemi.

Bendera-bendera ‘hanya kami yang murni’ telah dikibarkan. Huru hara dan segala keributan yang bernyawa anarkisme adalah ekspresi dari ‘nafsu kemurnian’ yang brutal. ‘Nafsu kemurnian’ yang dipertebal oleh ‘libido politik identitas’, misalnya, telah membutakannya segalanya. Akibatnya?

Tragedi ‘Nafsu Kemurnian’

“Kalian sepantasnya dijauhkan, berjarak, berseberangan, terpisah, disingkirkan, dipinggirkan, diasingkan, ditekan, dipersulit serta diperkusi, sebab  ‘kalian bukanlah kaum yang murni.’ ‘Nafsu kemurnian’ telah jadi primat yang membenarkan sekelompok orang ‘yang mengaggap dirinya benar (murni).’ Ditilik sebagai senjata ampuh demi pembenaran yang tragis.

Nafsu kemurnian seperti kata Goenawan Mohamad dimaksudkan “agar yang najis habis dan dunia jadi murni.” Maklum! Dunia telah ditatap dalam cemas bahwa  telah ‘bersileweranlah  yang najis, dosa, kepalsuan dan hipokrisi’ (2017).

Tetapi, tidakkah bendera ‘nafsu kemurnian’ telah berkibar di abad-abad silam? Di saat peradaban pribumi Amerika (selatan) ditekan, dicabut dan dirampas dari keasliannya? Tidakkah ‘nafsu kemurnian’ telah masuk jalur miris dehumanisasi yang sungguh tragis?

Mari Pulang kepada Sesama

Di waktu kini, inkultulturasi tak lebih dipandang sebagai ‘pertobatan budaya.’ Keaslian budaya dan kearifan lokal yang (pernah) terbelenggu dan tersekap mesti dipanggungkan (kembali) secara benar dan sehat serta pada tempatnya pula. Demikian pun dialog yang beraroma toleransi dan kerukunan telah dialami sebagai pertobatan hati.

Tetapi, apakah semudah itu ‘nafsu kemurnian’ akan menjadi senyap? Atau hilang untuk selamanya? Tak ada yang indah yang dapat ditangkap dari ‘nafsu kemurnian’ itu. Ia tetap hadir dalam cemas dan gelisah. Yang bisa menggelegar dalam kekerasan, dalam bentak dan hardikan yang bertolaki hanya dari satu titik pandangan.

Selalu lemah di jiwa untuk melihat dan mengakui bahwa ada perbedaan yang memperkaya. Bahwa variasi itu adalah modal paling berharga demi satu mozaik kehidupan. Sebab yang terutama adalah iman yang mempersekutukan. Menyapa semesta dalam kekariban.

Pusaran Arus Etnosentrisme

Tak pernah dinafikan pula bahwa ‘nafsu kemurnian’ pun bertumbuh subur dan cenderung liar dalam lahan etnosentrisme yang kebablasan. Di situ orang mudah menjadi cemas dan tidak percaya diri tentang dari mana ia berasal dan apa sebenarnya yang jadi adat kebiasaan serta tradisi keasalannya. Dan di situ ia menjadi tak cerdas dan bijak untuk menstigmakan yang lain dengan segala kedangkalan dan kesempitan sudut pandang.

Bukankah cemas diri pada pusaran ‘nafsu kemurnian’ dengan mudah mendera yang ‘bukan kita’ atau orang lain dengan segala label yang degradatif sifatnya? Di situlah superioritas ‘nafsu kemurnian’ temukan pembenarannya walau dalam kerangka kosong sebagai motifnya.

Akhirnya

“Jika pola pakaian yang kukenakan, jenis makanan-minuman yang kusantap, pun segala atribut yang tertempel  pada diriku hingga isi dan pola pikirku hanya sebatas di jalan pembedaan penuh cemas dari yang lain, maka segeralah ‘nafsu kemurnian’ menanti sebagai muaranya.”

Sepertinya kita mesti berhenti (total) dari sifat penuh ketamakan akan ‘nafsu kemurnian.’ Sebab jika tidak, style hidup hanya sebatas glorifikasi diri namun penuh rapu. Sebab, jalan hidup setiap kita selalu dalam proses menuju kesempurnaan. Sempurna di dalam Bapa Pencipta semesta.

Iya, itulah yang diajarkan oleh Tuhan dan Guru dari Nazaret, “Estote ergo vos perfecti, sicut et Pater caelestis perfectus est”, Hendaknya kamu sempurna sebagaimana Bapamu di surga sempurna adanya” (Mat 5:48). Jika ingin belajar menjadi sempurna seperti Bapa, maka belajarlah ‘memeluk semesta.’ Sebab Bapa adalah Tuhan dari dan untuk semesta.

Verbo Dei Amorem Spiranti

Collegio San Pietro-Roma

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *