Kemenkum-HAM, Bank NTT Dorong UMKM Mabar Daftarkan Merek

LABUAN BAJO KABARNTT.CO–Dengan ditetapkannya Labuan Bajo sebagai pariwisata super premium, Bank NTT dan Bidang Pelayanan Kekayaan Intelektual Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan HAM NTT mendorong pelaku UMKM di Labuan Bajo untuk mendaftarkan merek produknya.

Dorongan ini terungkap dari sosialisasi yang melibatkan 57 para pelaku UMKM dan tergabung dalam Asosiasi Kelompok Usaha Unitas (Akunitas) di Hotel Jayakarta , Labuan Bajo, Manggarai Barat, Senin (2/11/2020).

Bacaan Lainnya
tonykleden

“Hari ini kami bermitra dengan Bank NTT dan fungsi kami melaksanakan sosialisasi terkait dengan kekayaan intelektual agar ada perlindungan merek bagi UKMKM yang ada di Labuan Bajo,”  jelas Dra. Dientje E.Bule Logo, M.Si. Kepala Sub Bidang Pelayanan Kekayaan Intelektual Kanwil Kementerian Hukum dan HAM NTT.

Logo mengatakan, kebanyakan orang tidak mengetahui haknya, padahal dia melakukan fungsi menghasilkan produk dan memiliki nilai kekayaan intelektual.

Kekayaan intelektual itu sendiri menambah nilai ekonomi terhadap produk yang dikeluarkan.

“Salah satu contoh ketika Jepara menjiplak motif tenunan Sumba NTT. Masyarakat NTT semua pada ribut terhadap isu tersebut, bahkan cenderung mempersalahkan pihak Kemenkumham. padahal kami sudah melakukan sosialisasi melalui tahapan perumusan kebijakan sesuai tugas pokok kami,” bebernya memberi contoh.

Menurutnya, perumusan kebijakan itu sudah diterbitkan melalui aturan-aturan Kemenkumham secara internasional berkaitan dengan hak kekayaan intelektual agar memberikan perlindungan terhadap kekayaan intelektual itu sendiri.

Bahkan, kata Logo, perlindungan itu sudah diratifikasi dalam bentuk undang-undang seperti cipta, merek paten, desain industri, dan lain-lain.

Logo mengatakan,  ekspresi budaya tradisional di NTT seperti tarian-tarian dari daerah-daerah saat ini belum terdaftar sebagai hak kekayaan komunal. Pihak Kemenkumham sendiri yaitu Dirjen Kekayaan Intelektual bekerja sama dengan Dirjen Kebudayaan, menginventarisasi semua potensi kekayaan budaya sebagai warisan leluhur agar dicatatkan dalam database Kemekumham.

“Kami sudah menyebarkan format-format ke pemeribtah daerah. Akan tetapi hingga saat ini responnya sangat kecil. Oleh karena itu kemitraan hari ini dengan Bank NTT tidak hanya fokus di bidang rezim merek. Kami juga menjelaskan bidang-bidang lain sebagai upaya untuk mensosialisasi ini semua,”  jelas Logo.

Logo berharap agar sosialisasi merek dan pendaftarannya yang sudah disediakan kuotanya oleh Bank NTT dapat memberi efek baik bagi pelaku UMKM.

Sementara itu Kepala Divisi Mikro, Kecil dan Konsumer Bank NTT, Yohanis Tadoe, menjelaskan, kegiatan tersebut bertujuan agar pelaku UMKM terkhusus Asosiasi Akunitas memiliki merek yang legal.

“Hari ini sosialisasi sekalian pengajuan pendaftaran merek ke Kemenkumham. Kebetulan Kelompok UMKM Akunitas Manggarai Barat yang hadir saat ini bekerja sama dengan Bank NTT. Karena mereka salah satu debitur kami,” kata Tadoe.

Dari hasil pantaunnya selama ini, kata Tadoe,  situasi riil pelaku UMKM hanya pedagang merek sembarang. Oleh karena itu Tadoe berharap agar setiap pelaku UMKM harus memiliki merek sendiri.

Ketua Asosiasi Kelompok Usaha Akunitas di Labuan Bajo, Maria Srikandi Mayangsari, sangat mengapresiasi kemitraan Bank NTT dan pihak Kemenkumham.

“Kami dari pihak Akunitas sangat berterima kasih terhadap program-program kemitraan ini. Dari 157 yang terdaftar yang lolos baru 57 pelaku UKM dan diharapkan semuanya lolos disertifikasi,”  kata Srikandi. (obe)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *