Judul Buku ‘Jalan Sambil Berjalan’ Membingungkan, Begini Penjelasan Penulisnya

KUPANG KABARNTT.CO—Buku tentang Pater Amans Laka, SVD, misionaris asal NTT di Amerika Latin berjudul “Jalan Sambil Berjalan, Narasi Hidup dan Karya P. Amans Laka, SVD” membingungkan sejumlah pembaca.

Kebingungan dan juga rasa penasaran ini terungkap saat  bedah buku ini di Auditorium Unwira Kupang, Sabtu (7/5/2022), pagi. Bedah buku ini menghadirkan tiga pembedah, yakni Wagub NTT, Josef Nae Soi,  yang karena harus terbang ke Surabaya maka hanya membuka dan memberi komentar singkat terkait buku ini.

Bacaan Lainnya

Dua pembeda lain adalah Pater Dr. Philipus Tule, SVD (Rektor Unwira) dan Frans Skera (tokoh umat), dengan moderator Tony Kleden (wartawan senior, pemimpin redaksi kabarntt.co).

Penulis buku, Robert Bala, dalam  penjelasannya menjawab kebingungan terkait judul buku ini.

Menurut Robert, judul buku digunakannya untuk melukiskan kehidupan Pater Amans sebagai seorang misionaris di tanah misi.

“Judul buku ini terinspirasi dari seorang penyair asal Spanyol. Dia bilang, kalau belum ada jalan, kita jalan saja dan nanti jalan berulang-ulang akan terbentuk jalan,” kata Robert.

Menurut Robert, Pater  Amans Laka tidak pernah bermimpi jika diberikan hadiah atau penghargaan Namanya menjadi nama jalan oleh pemerintah dan masyarakat Argentina.

“Nama jalan hanya diberikan bagi seorang pahlawan. Namun Pater Amans dalam waktu 5 bulan berhasil mematrikan karya yang luar biasa di tempat misi yakni Argentina dengan membangun sekolah,” kata Robert.

Robert menceritakan, tempat di mana Pater Amans mendirikan sekolah merupakan tempat yang tidak ada misionaris mau kerja.

Tempat itu hanya diambil kekayaannya oleh orang dari luar daerah, perusahaan-perusahaan besar yang bergerak di bidang penggergajian kayu.

“Mereka bilang ke Pater Amans, sampai kucing bertanduk pun tidak akan ada jalan yang dibangun. Pater Amans bilang saya mau bangun sekolah di situ, jalan akan dibangun. Kalau bangun sekolah, maka kayu-kayu untuk pembangunannya kalian yang tanggung,” jelas Robert.

Dan, terjadilah. Jalan dibangun, licin mulus. Dan perusahaan-perusahaan besar di kawasan itu menyumbang kayu-kayu untuk pembangunan sekolah. Tidak heran, hanya dalam waktu lima bulan dua  sekolah pertanian di kawasan itu selesai dibangun.

Menurut Robert, Pater Amans mempunyai kekuatan hebat di jalur diplomasi.

“Hal ini Pater Amans lakukan di Argentina dan mendapat apresiasi dan penghargaan dari Pemerintah Indonesia, Kementerian Luar negeri dan Kedutaan Besar RI di Argentina,” tambahnya.

Pater Amans selalu mencari jalan bagaimana menghadapi situasi yang ada. “Dia bangun sekolah dan asrama. Tempat tidur belum ada. Pater Amans ke Kedutaan Besar meminta bantuan tempat tidur. 500 tempat tidur dikirim ke asramanya,” kata Robert.  (np)

Pos terkait