Stunting Masih Tinggi, Pemkab Malaka Perkuat Lintas Elemen

  • Whatsapp

BETUN KABARNTT.CO—Sejauh ini angka stunting di Kabupaten Malaka masih sekitar 21,6 persen. Pemerintah Kabupaten Malaka bertekad menurunkan angka ini melalui kolaborasi  dengan elemen terkait untuk  memperkuat komitmen mengamankan Perbup soal penanganan stunting.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP4D)   Malaka, Remigius Asa, S.H, menyampaikan hal ini pada kegiatan Rembuk Stunting di Hotel Cinta Damai-Betun, Kamis (7/10/2021).

Bacaan Lainnya

Remi menjelaskan, terkait dengan upaya menurunkan angka stunting di Malaka maka pada tahun 2020 telah dikeluarkan Peraturan Bupati (Perbup) tentang stunting.

Perbup ini  dipakai untuk memayungi dengan menyesuaikan ketentuan aturan yang lebih tinggi agar kegiatan di lapangan tidak meyimpang.

Perbup ini juga mengatur masing-masing peran baik pemkab,  kecamatan,  desa, LSM, para  kader soal  dimana dan kapan pelaksanaan kegiatan sehingga penurunan stunting sesuai harapan pemerintah pusat bisa dicapai.

Menurutnya, menurunkan angka stunting  tidak bisa dibebankan pada P4D dan Dinkes saja tetapi semua elemen dikerahkan. Intinya penurunan stunting di Malaka bisa tercapai di 2024.

“Saya tekankan bahwa dalam melaksanakan kegiatan ini jangan ego sektoral. Jangan seperti rel kereta api lurus tapi tidak bisa ketemu. Harus sinerji sehingga sosialisasi terus dilakukan agar tidak tersandung atau terantuk pada persoalan merugikan daerah,” tegas Remi.

“Saya yakin bisa ditekan dan  ini tidak mustahil karena bisa digerakkan semua elemen karena muaranya turun. Makanya rembuk stunting ini penting sehingga bisa saling memberi usul saran dan bersama menekan Stunting,” ujar Remi.

Asisten II Setda Malaka, Silfester Letto, saat membuka kegiatan rembuk stunting meminta seluruh kepala desa agar memanfaatkan dana desa untuk pembangunan infrastruktur yang memberi dampak pada pengurangan potensi penyakit stunting atau kekurangan gizi.

Letto meyakini bahwa dengan dukungan dana desa membangun infrastruktur seperti sarana air bersih,  MCK , PAUD, Polindes, Posyandu, drainase dan lainnya bisa membantu menekan Stunting ini.

Letto menambahkan, terdapat tiga hal yang bisa mempengaruhi stunting di pedesaan, yakni minimnya pengetahuan masyarakat, infrastruktur yang belum tersedia. Saat ini   Kemendes PDTT pun kini turut fokus dalam menangani permasalahan tersebut. Diharapkan dalam kurun waktu lima tahun kedepan  Pemda Malaka bisa  membuat angka stunting menjadi single digit.

“Pemanfaatan dana desa untuk pembangunan infrastruktur di pedesaan perlu terus dilanjutkan. Tidak hanya infrastruktur yang terkait dengan aspek ekonomi untuk mengurangi kemiskinan, melainkan juga infrastruktur yang dapat mengurangi angka penderita stunting,” kata Letto.(yos)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *