Sovia Onas, Janda Pengidap Kangker Mulut Butuh Belas Kasihan

  • Whatsapp

BORONG KABARNTT.CO— Mama Sovia Onas(58  tahun), seorang janda asal Kampung Watu Lambur, Desa Bea Ngencung, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur, Flores Nusa Tenggara Timur,  membutuhkan uluran tangan donatur.

Kepada kabarntt.co, Senin (11/4/2021), Sovia Onas  menuturkan dia sangat membutuhkan uluran tangan donatur untuk biaya operasi kangker di mulutnya.

Bacaan Lainnya

Sovia Onas  mengaku ditinggal suaminya semenjak tahun 2013 silam. Suaminya meninggal akibat kecelakaan kerja.

“Suami saya meninggal jatuh dari pohon pada saat mencari madu di hutan. Saat itu nyawanya tidak terselamatkan,” tutur Sovia sembari meneteskan air matanya.

Kini Mama Sovia bersama putra bungsunya tinggal di rumah akan lelakinya yang kedua.

Mama Sovia memiliki empat orang anak. Putra sulungnya telah lama merantau ke Kalimantan dan sampai saat ini hilang kabar.

Mama Sovia kini tinggal bersama anak keduanya. Pasalnya Mama Sovia tidak memiliki rumah tinggal.

Ia mengaku hingga saat ini kesulitan untuk mendapatkan uang untuk biaya pengobatan penyakit kangker mulut yang dideritanya.

“Saya mengalami sakit kangker mulut ini semenjak empat bulan lalu. Awalnya sakit dan semakin hari semakin bertumbuh besar kangker yang terletak di bagian bibir atas,” tutur Mama Sovia.

Lebih lanjut ia mengatakan, dirinya belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah maupun orang lain.  Bantuan dari BPJS Jamkesda juga tidak pernah didapatnya.

Ia berharap pemerintah dan donatur lain lain bisa menaruh belas kasihan kepadanya.

Sementara anak keduanya, Siprianus Baru, mengatakan bahwa dirinya pasrah dengan keadaan ibunya.Sipri juga menderita sakit sejak pulang merantau.

“Jangankan untuk mengobati ibu di rumah sakit, untuk membeli makan pun kami agak sulit. Saya sakit batuk berdarah setelah kerja keras. Hal itu terjadi semenjak pulang merantau di Kalimantan,” tutur Sipri.

Ia mengaku sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah untuk membantunya membiayai pengobatan ibunya di rumah sakit.

Sementara  putra bungsu Mama Sovia, Yuvensius Lagut  mengaku dirinya merasa sangat sedih ketika ibunya jatuh sakit.  Sambil menangis Yuven berharap ibunya bisa sembuh.

Yuven  nekad sekolah dengan biaya sendiri dari hasil sebagai buruh tani setelah pulang sekolah. Saat ini Yuven duduk di bangku kelas I SMAN 1 Borong.

Yuven kerap memanfaatkan waktu sisa setelah pulang sekolah untuk bekerja di kebun orang yang membutuhkan jasanya.

“Hasil dari bekerja di orang saya biayai sekolah dan beli beras untuk kehidupan di rumah,” ungkap Yuven.

Sebagai anak yatim, Yuven  mendapat keistimewaan dari sekolah dengan mendapat potongan uang sekolah.

“Kami membayar SPP sebesar Rp 1.100.000 rupiah setiap tahun. Saya mendapat pemotongan yaitu Rp 300.000, sehingga saya hanya membayar sebesar Rp 800.000 setiap tahun,” tutur Yuvens.  (adi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *