Renungan Minggu, 10 Oktober 2021

  • Whatsapp

Oleh P. Kons Beo, SVD

Bacaan Lainnya

Bacaan I Kebijaksanaan 7:7-11

Mazmur 90:12-13.14-15.16-17.

Bacaan II Ibrani 4:12-13

Injil Markus 10:17-30

“Unum tibi deest…”

Mrk 10:21 (Hanya satu lagi kekuranganmu…)

ADA banyak hal yang kita peroleh di hidup ini. Dari pengalaman, kita dapati aneka pengetahuan dan rupa-rupa pelajaran kehidupan.

Dari situ, wawasan kita meluas. Isi pikiran kita beragam. Kebijaksanaan  hidup tampak cemerlang. Secara rohani, kita menjadi tegar dan enteng dalam mengikuti irama kehidupan. Pun dalam menghadapi tumpukan dan litania tantangan hidup ini.

Tak lupa, kita bukannya  tak punya bakat, potensi dan modal hidup. Dalam usaha, kerja keras dan perjuangan, semuanya berkembang! Ada sekian  banyak hal yang kita gapai dan kita miliki. Sungguh membanggakan. Hidup tanpa kepastian jaminan materi, memang sulit dibayangkan.

Tetapi, ada satu yang jadi titik fokus Yesus. Saat Ia didatangi seorang yang mendapatiNya. Orang itu sudah punya orientasi hidup kekal. Ia pun telah hayati jalan menuju hidup kekal itu. Karena toh, ia BUKAN: pembunuh, pezinah, pencuri, pendusta, perampok hak sesama, atau pendurhaka terhadap orangtua.

Tetapi, saat harus berhadapan dengan blok yang ada dalam dirinya sendiri? Inilah yang menjadi ganjalan teramat berat. Ingatlah! Orang itu bisa saja tidak menjadi penyebab sesama menjadi menderita, serba kekurangan dan melarat. Tetapi apakah ia tulus ikhlas dan rela berkorban demi memerangi kenestapaan  yang dihadapi sesama?

Yang ingin dibongkar Yesus adalah sikap keterikatan hatinya pada harta. Hati orang itu terikat luat pada apa yang ia miliki. Hatinya didera oleh virus kelekatan.  Jadinya, terasa beratlah hatinya untuk merelakan, untuk melepaskan, untuk memberikan. Iya, untuk bersolider.

Perkara harta, materi, uang, kekayaan bukanlah hal yang gampangan! Sekali ia membutakan mata dan terlekat pada hati, rasanya teramat sulit untuk terbebaskan. Orang itu harus merasa sedih andaikan ia berbagi dengan yang lain. Hal ini tentu berlawanan dengan  semangat Yesus.

Orang itu sulit masuk Kerajaan Allah, karena ia tetap terlekat pada harta kekayaannya. Tanpa berbagi. Siapapun kita  tak bisa mengalami alam Kerajaan Allah, andaikan keterikatan hati pada harta sungguh tak terurai.

Lalu apa yang sepatutnya dilakukan? Apakah yang mesti diusahakan? Kitab Kebijaksanaan berikan petunjuk: agar roh kebijaksanaan senantiasa ada dalam diri. Agar tak diutamakan sekian tongkat, takhta, permata, emas, perak… (cf Keb 7:8-9).

Sepatutnya takhta kemuliaan dan kedamaian hati-lah yang mesti diperjuangkan.

Damai, keakraban, rasa kekeluargaan, kepolosan, keceriahan, segala spontanitas kita tak boleh sekalipun disenyapkan oleh rasa kecewa dan sedih oleh kehilangan yang fana (cf Mrk 7:22).

Saat kita terbuai dan keasyikan dalam mengumpulkan, dalam menimbun, dalam amankan diri dengan sekian banyak hal fana, tanpa berbagi dan bersolider, sepantasnya kita mendaur ulang suara hati untuk ingat akan kata-kata Yesus, Tuhan dan Guru:

“Hanya satu kekuranganmu……”

Verbo Dei Amorem Spiranti

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *