Pramuka NTT Ajak Semua Pihak Atasi Masalah Pendidikan Anak di Pengungsian

  • Whatsapp
?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

LEWOLEBA KABARNTT.CO-Kwarda Pramuk NTT mengajak semua elemen masyarakat di Lembata untuk membicarakan kolaborasi pembangunan gedung sekolah darurat untuk anak-anak di SDK 1 Lewotolok, Kecamatan Ile Ape, sesudah dihantam banjir bandang awal April lalu.

Dalam dialog orangtua siswa sekolah ini dengan Ketua Kwarda Pramuka NTT, Petrus Sinun Manuk, Senin (27/9/2021), di lokasi pengungsian warga di hamparan Kalabahi dan Koliwokor, Petrus Manuk mengajak semua elemen masyarakat berkolaborasi membangun sekolah darurat untuk anak-anak sekolah di pengungsian.

Bacaan Lainnya

Setelah sekolah mereka dihantam banjir bandang awal April 2021 lalu, para siswa SDK I dan II Lewotolok terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar di bawah pohon dan tenda darurat di lokasi pengungsian.

Piter Manuk mengatakan, pihaknya telah membangun komunikasi dengan beberapa donatur dan LSM di Lembata untuk membicarakan kolaborasi pembangunan gedung sekolah darurat ini.

“Saya mengumpulkan beberapa teman yang selama ini menjadi pemerhati dan ajak mereka. Selama ini kan kami kerja sendiri-sendiri. Tapi sejak hari Sabtu (25/9/2021) kami sudah bersepakat untuk ke depan kami kolaboratif, kerja bersama-sama untuk memukul satu sasaran supaya cepat selesai,” kata Petrus Manuk.

Mantan Kadis Pendidikan dan Kebudayaan NTT ini mengatakan, saat ini pihaknya fokus pada pembangunan dua gedung sekolah di lokasi pengungsian, yakni SDK 1 Lewotolok dan SDK II Lewotolok.

“Tanahnya sudah ada, tinggal bagaimana semuanya berkolaborasi,” ucapnya.

Mantan Penjabat Bupati Lembata ini mengaku prihatin dengan kondisi anak-anak sekolah di pengungsian. Dia mengharapkan pemerintah mesti serius memikirkan nasib pendidikan anak-anak yang berada di pengungsian.

Para siswa di sekolah ini terpaksa duduk di alas terpal. Meski tetap semangat, namun mereka tampak kesulitan menyesuaikan diri dengan KBM di bawah pohon dan tenda darurat.

“Anak tidak boleh tidak sekolah. Karena sejak erupsi November tahun lalu sampai banjir bandang dan longsor saat ini, anak tidak pernah sekolah dengan baik karena tempat belajar mereka tidak ada,” jelasnya.

Membantu mengatasi kemelut, kata Piter, Pramuka Kwarda NTT siap berkolaborasi dengan semua pihak untuk menuntaskan persoalan pendidikan bagi anak-anak di pengungsian.

Saat ini beberapa pihak sudah mulai menyatakan bantuan untuk pembangunan sekolah darurat bagi anak-anak di Desa Amakaka dan Lamawara yang sekolah di SDK I dan II Lewotolok. Satu di antaranya adalah anggota DPR RI, Sulaeman Hamzah, yang akan menyumbangkan seng dan uang tunai senilai Rp 20 juta.

Saat ini Pramuka Kwarda NTT bersama Pramuka Kwarcab Lembata melakukan survei lokasi untuk pembangunan gedung sekolah ini. (tim)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *