Penggunaan Pukat Cincin di Lewoleba, Thomas Tiba Minta Pemerintah Tegas

  • Whatsapp

KUPANG KABARNTT.CO—Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mesti menindak tegas nelayan yang menggunakan pukat cincin (purse seine) di Teluk Lewoleba, Lembata. Alasannya, perairan Teluk Lewoleba adalah kawasan konservasi.

Sejauh ini Dinas Kelautan dan Perikanan NTT belum dapat menindak tegas nelayan yang menggunakan pukat cincin saat mencari ikan di perairan Teluk Lewoleba.

Bacaan Lainnya

“Sanksi yang diberikan kepada nelayan yang  menggunakan pukat cincin saat mencari ikan di perairan Lewoleba sampai saat ini masih sebatas peringatan dan pembinaan,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTT, Ganef Wurgiyanto, melalui Kepala Cabang Dinas (KCD) Wilayah Lembata,  Flores Timur dan Sikka, Budi Kabosu, Minggu (21/3/2021), melalui pesan singkat kepada kabarntt.co.

Menurut Kabosu, untuk menindaklanjuti persoalan tersebut, Dinas Kelautan dan Perikanan telah melakukan rapat koordinasi dengan instansi terkait dan akan mengggelar operasi terpadu pengawasan di laut. Apabila ditemukan atau didapati nelayan besar yang menggunakan pukat cincin, maka harus segera keluar dari wilayah perairan Teluk Lewoleba sejauh dua mil.

Menanggapi persoalan tersebut, anggota DPRD NTT dari Fraksi Golkar, Thomas Tiba, mengatakan harus ada ketegasan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT dengan  tetap mengacu pada aturan yang ada.

“Untuk penanganan persoalan penggunaan  pukat cincin oleh nelayan besar di wilayah perairan Teluk Lewoleba harus dilakukan dengan aturan yang ada, tanpa mengabaikan aturan,” tegas Thomas Tiba, Senin (22/3/2021) di Kupang.

Menurut anggota Komisi II DPRD NTT yang biasa disapa Toti ini, kesepakatan lokal yang dibuat pada tahun 2018 lalu meliputi areal penangkapan yang dimulai dari ujung Pulau Siput sampai Awalolong, dan dalam kesepakatan itu tidak diperbolehkan ada penambahan armada kapal nelayan untuk melakukan penangkapan di Teluk Lewoleba.

Toti menjelaskan, sebagai mitra kerja dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT, Komisi II DPRD NTT telah melakukan koordinasi dengan pihak DKP dan meminta Pemerintah Provinsi NTT harus segera turun dan melihat langsung keadaan di wilayah perairan Teluk Lewoleba.

Menurutnya, untuk kapal penangkap ikan jenis lampara yang melakukan aktivitas penangkapan di wilayah Teluk Lewoleba hanya sebatas antara dua sampai empat mil laut.

“Sedangkan untuk nelayan kecil tetap mengacu pada Permen KP Nomor 17 Tahun 2008 tentang Konservasi Wilayah P3K dan Permen KP Nomor 30 Tahun 2010 Tentang Rencana Pengelolaan dan Zona Kawasan Konservasi Perairan,” jelasnya.

Menurutnya, kawasan konservasi hanya untuk nelayan kecil yang menggunakan alat tangkap pancing,  giilnet,  bagan dan lampara. Namun khusus lampara harus di atas 2 mil laut dari garis pantai.

Toti juga menambahkan, sebelum diusulkan sebagai kawasan konservasi telah ada kesepakatan lokal bahwa untuk perairan Teluk Lewoleba dibagi menjadi dua,  bagian luar khusus untuk nelayan lampara dan bagian dalam untuk nelayan kecil.

“Itu sudah dibuat kesepakatan tahun 2018 lalu dan kami sudah mengadakan pertemuan dengan Polres Lembata. Dalam kesepakatan itu ada pertimbangan bahwa nelayan lampara akan kesulitan bahan bakar dan biaya operasional yang besar apabila beroperasi di atas 2 mil. Namun apabila didapati menggunakan pukat cincin maka harus keluar dari kawasan Teluk Lewoleba dan beroperasi di luar sejauh dua mill,” jelasnya.

Menurut ketentuan dan aturan tentang konservasi perairan, dasar yang dipakai oleh DKP sebagai acuan adalah Permen KP Nomor 17 tahun 2008 Tentang Konservasi Wilayah P3K dan Permen KP Nomor 30 Tahun 2010 Tentang Rencana Pengelolaan dan Zona Kawasan Konservasi Perairan.

“Untuk Kabupaten Lembata sudah ada pembagian zonasi yaitu zona inti atau zona perlindungan yang tidak boleh ada kegiatan kecuali penelitian,  zona pemanfaatan untuk pariwisata dan nelayan kecil,  zona perikanan berkelanjutan untuk  penangkapan dan bududaya,  serta zona lainnya seperti alur pelayaran,” jelasnya. (lia)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *