Menderita Hidrosefalus, Agustina Butuh Bantuan

  • Whatsapp

BORONG KABARNTT.CO— Agustina Putri Hartoim  hanya bisa berbaring  di tempat tidurnya. Semua akvitiasnya mesti dengan bantuan tangan kedua orang tuanya.

Gadis kecil 12 tahun asal Kampung Welu, Desa Wejang Mali, Kecamatan Lamba Leda Timur, Manggarai Timur ini sejak umur 5 bulan diketahui mengidap penyakit hidrosefalus. Kepalanya membesar dari waktu ke waktu.

Bacaan Lainnya

Kondisi putri sulung pasangan Fridolinus Hartoim-Yuliana Karni Hayati  yang  memrihatinkan ini jadi perhatian publik  melalui postingan di facebook oleh akun Armandus C Tukeng, Rabu (8/9/2021) lalu.

Sontak saja, warganet di Manggarai Timur memberi perhatian atas nasib Agustina.

“Saya bersama seorang sahabat dari LSM Insan Bumi Mandiri yang bergerak di bidang kemanusiaan saat berkunjung ke rumah Fridolinus Hartoim. Anak sulungnya menderita penyakit hidrosefalus. Sekarang dia berumur 12 tahun, anak ini hanya mengandalkan tangan kedua orang tuanya untuk menjalani hidup. Semoga sahabat sekalian dapat membantu pengobatan anak ini,” tulis Armandus C Tukeng.

Selama 12 tahun, gadis kecil ini menghabiskan hari-harinya dengan berbaring dan bersandar di tempat tidur.

Informasi yang dihimpun media ini, Agustina diketahui lumpuh sejak usia 5 bulan, tepatnya pada tahun 2009 silam.

Di usianya yang masih 12 tahun, dia harus menahan sakit akibat banyak cairan yang membuat kepalanya membesar.

Sang ayah, Fridolinus, mengisahkan  kepala anaknya dari waktu ke waktu terus membesar.

“Anak kami sejak usia 5 bulan sudah menderita penyakit hidrosefalus. Sejak usia 5 bulan tiba-tiba kepalanya mulai membengkak. Hasil pemeriksaan di Rumah Sakit Cancar dia mengidap penyakit hidrosefalus,” tutur Fridolinus kepada  media ini, Rabu (8/9/2021).

Sejak saat itu Fridolinus bersama istrinya, Yuliana, berusaha mencari jalan pengobatan untuk Agustina.  Tetapi, tidak ada perubahan.

Kata Fridolinus, memasuki umur 5 tahun kepala Agustina mulai mengecil. Bersama istrinya, Yuliana, ia sangat menginginkan agar kepala putri sulungnya itu dioperasi. Tetapi saat ini pasangan ini kekurangan dana.

Biaya operasi dan pengobatan, kata Fridolinus,  sangat  mahal. Untuk kebutuhan sehari-hari saja sudah pas-pasan. Penghasilan pasangan suami istri yang sama-sama sebagai guru honorer tidak cukup.

Menurut Fridolinus, putri sulungnya pernah didata oleh Pemerintah Desa (Pemdes) dan pihak kesehatan untuk mendapatkan bantuan. Namun hingga kini belum ada tanda-tanda bantuan itu datang.

Sekarang, Agustina dan kedua orangtuanya hanya bisa mengandalkan uluran tangan para donatur yang berbaik hati.  (adi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *