Ketua Presidium Kopearad Mabar: “Tugas Kami Adalah Menenangkan Pancasila”

  • Whatsapp

LABUAN BAJO KABARNTT.CO— Ketua Presidium Komunitas Pemuda Anti Radikal (Kopearad) Manggarai Barat (Mabar), Agustinus Umar Hagianto, SH, memberikan pesan bahwa sebagai masyarakat wajib memenangkan Pancasila.

Hal itu ia sampaikan saat ditemui kabarntt.co di Labuan Bajo, Manggarai Barat (Mabar), Senin (31/5/2021) petang.

Bacaan Lainnya

“Sebagai warga negara, tugas kami adalah memenangkan Pancasila,” tegas Hagianto yang akrab disapa Spitho tersebut.

Menurutnya, Pancasila merupakan kesepakatan dasar bangsa Indonesia untuk hidup dalam suatu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam Pembukaan UUD 1945 Pancasila menjelma menjadi visi atau pandangan hidup yang mendasari dan menjadi tujuan segala hukum dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Negara Indonesia, kata  Spitho, tidak menganut paham radikalisme, komunisme, sosialisme atau kapitalisme.

“Indonesia adalah Pancasila, yang sumbernya dari kepribadian bangsa kita. Cuma Pancasila yang menyatukan kita semua, semestinya kita harus bersyukur kepada pendiri dan pahlawan yang mewariskan nilai Pancasila kepada kita,” lanjutnya.

Selaras dengan itu, ungkapnya, sebagai warga negara yang baik tugas sebagai warga negara sebenarnya hanya memahami, menghayati dan mengamalkan Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan Perwakilan dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia secara utuh.

Dalam kenyataan selama ini, katanya, banyak dijumpai perilaku para elit maupun masyarakat yang menyimpang dari Pancasila itu sendiri.

Praktek kapitalisme sering mewarnai investasi, kaum buruh hanyalah obyek pabrik, yang melahirkan kesenjangan antara kaya dan miskin.

“Sehingga radikalisme menghadirkan kekerasan fisik dan psikis, agama hanya dijadikan barang dagangan untuk kepentingan kursi kekuasaan. Aksi anarkis dilakukan sebagai strategi gerakan sosial, disintegrasi dan separatis menjadi komoditi politik sekelompok orang,” tandas Spitho.

Ditambahkannya, terorisme terus mempertontonkan aksi kekejaman kepada sesama anak bangsa. Korupsi tumbuh subur di lingkungan pemerintah, wakil rakyat bersuara mewakili kepentingan pemodal dan aparat penegak hukum  tidak mampu memberikan keadilan bagi rakyat kecil.

Karena itu, menurutnya, boleh dikatakan bahwa Pancasila sudah tidak lagi menjadi pandangan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dengan tegas Spitho menyampaikan Komunitas Pemuda Anti Radikalisme Manggarai Barat (Kopearad) yang merupakan bagian dari generasi penerus bangsa, terus berupaya memenangkan Pancasila dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia.

Kopearad  Mabar  meyakini bahwa persoalan-persoalan di atas bisa terselesaikan hanya dengan mengembalikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dirinya berharap, Pancasila harus menjadi pandangan dan pedoman hidup pribadi dan kolektif masyarakat  Indonesia. Pancasila yang lahir dari keberagaman agama, suku, budaya dan ras  tentu menjadi batu penjuru yang kuat melawan segala bentuk penindasan, radikalisme dan intoleransi keberagaman.  (obe)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *