Jalan Berliku Pelajar Manggarai Cari Sinyal

  • Whatsapp

BELAJAR online membutuhkan HP android.  Itu jelas. Tetapi punya HP android belum jadi jaminan pasti bisa belajar online juga. Sinyal internet yang paling sering jadi soal yang menghadang.

Soal inilah yang dihadapi para pelajar mulai dari SD hingga SMA dan beberapa mahasiswa di Kampung Nggalak, Desa Nggalak, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

Bacaan Lainnya

Saban hari mereka keluar rumah berburu sinyal internet di puncak perbukitan Golo Tewa untuk menyelesaikan tugas yang diberikan dari sekolah kepada mereka.

Kampung Nggalak berbatasan langsung dengan Kabupaten Manggarai Barat. Penghuninya sekitar 2.500 jiwa. Lumayan banyak untuk perkampungan di Manggarai yang terkenal bergunung bukit.

Menuju ke sana bisa dengan sepeda motor. Butuh waktu tempuh sekitar 15 menit dari Reok, ibukota kecamatan.

Perbukitan Golo Tewa akhirnya jadi ramai dengan para pelajar dan mahasiswa yang menguber sinyal. Pemandangan yang indah di kawasan pegunungan tidak menarik mata mereka. Mata mereka fokus penuh di layar HP Android.

Sesekali handphone yang digenggam diangkat lebih tinggi. Diputar-putar. Digeser dan diarahkan untuk mencari posisi sinyal terbaik.

Perjuangan itu harus mereka lalui untuk mendapat sinyal yang lebih baik guna sehingga bisa mengakses pelajaran secara online.

Nasib anak kampung memang beda dengan anak-anak di kota. Yang semua serba mudah. Serba gampang. Sebaliknya di kampung serba sulit. Susah.

Salah seorang siswa  SMPN 2 Reok, Richardus T. Sasmijoyo, kepada kabarntt.co,  Senin (30/8/2021), berharap pemerintah memfasilitasi jaringan telekomunikasi di desanya saat pandemi virus corona sekarang ini.

“Kami berharap agar pemerintah cepat mendirikan tower di Nggalak supaya kami tidak susah lagi mencari jaringan untuk mengerjakan tugas dari sekolah tutupnya,” kata Richardus.

Maria Contesa Purnamasari juga mengeluhkan hal yang sama. Sebagai pelajar, tiap hari dari Senin hingga Sabtu pukul 07.00-12.00 Wita Maria bersama teman-temannya mendaki bukit memburu sinyal.

“Sesuai jadwal yang diberikan oleh bapak dan ibu guru dari sekolah, dan kami selalu menghabiskan waktu di tempat ini tiap hari. Apalagi kami yang SMA yang lebih banyak tugasnya. Tak hanya bagi para pelajar, bagi orang tua yang anaknya kuliah dan kerja di luar kampung Nggalak  tidak bisa pulang dari perantauan. Mau video call saja harus kebingungan cari sinyal,” tutur Maria.

Apalagi,  kata Maria, aparat desa dan kepala desa yang seharusnya selalu mendapatkan informasi terbaru dari dinas harus memburu jaringan internet ke Golo Tewa ini.

“Kalau ada keperluan emergensi  terpaksa kita harus malam-malam ke sini (Golo Tewa) untuk bisa mendapatkan informasi maupun memberikan informasi kepada keluarga yang berada di luar Kampung Nggalak,”  tambah Maria.

“Kami berharap agar program pendirian BTS 4G cepat terealisasi sehingga kami tidak susah lagi mencari jaringan tutupnya,” (ady)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *