Cacat Kaki, Rolan Dipapah Teman-Temannya ke Sekolah

  • Whatsapp

BORONG KABARNTT.CO—Suratan  tangan Claudius Rolan Emolse  sungguh tidak seenteng teman-teman seusianya. Siswa kelas satu SD asal Desa Benteng Pau, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini harus dipapah teman-temannya jika berangkat ke sekolah.

Kedua kaki Rolan sangat lemah jika berjalan jauh. Sejak lahir, kakinya sangat lemah dan tidak bisa bertahan untuk berjalan jauh. Untuk menjalankan aktivitasnya sehari-hari, ia terkadang menggunakan kedua tangannya untuk berjalan.

Bacaan Lainnya

“Tumpuan kakinya sangat lemah dan tidak bisa bertahan untuk berjalan,” tutur Damasus Rapas, ayah Rolan.

Damasus mengisahkan, saat dilahirkan tahun 2013 silam, dia dan isterinya, Maria Dadas, tidak mengetahui kelainan fisik yang terjadi pada awal pertumbuhan anaknya.

“Pada awalnya tidak ada tanda yang menunjukkan anak ini tidak normal. Namun memasuki usia tiga tahun ia belum bisa berjalan dengan lancar. Tumpuan kakinya tidak terlalu kuat sama seperti pada awal dilatih untuk berjalan,” tutur Damasus kepada kabarntt.co, Kamis (19/8/2021).

Bersama istrinya, Damasus hanya bisa pasrah menerima nasib anaknya. “Sampai dengan saat ini kami hanya bisa pasrah dengan keadaan fisik pada anak kami,” kata Maria Dadas.

Keadaan ekonomi orangtua sangat berat. Pendapatan orangtua sangat terbatas. Ayah dan ibunya bekerja sebagai petani. Hasil pertanian yang mereka miliki sangat sedikit, bahkan  tidak cukup memenuhi kebutuhan keluarga.

Damasus berusaha mencari pekerjaan sampingan dengan menjadi tukang bangunan.

Pekerjaan sampingan itu ia lakukan ketika memasuki musim kemarau dimana hasil pertanian sudah selesai dipanen.

“Kalau ada warga yang hendak bangun rumah baru, saya melamar untuk menjadi kepala tukang. Tapi tidak semua orang yang bangun rumah baru mempercayakan saya untuk kerja. Terkadang dalam setahun saya tidak dapat sama sekali,” kata Damasus dengan raut wajah sedih.

Meskipun kondisi ekonomi keluarganya sangat memprihatinkan, kata Damasus, mereka belum pernah mendapat bantuan seperti PKH dan Sembako dan bantuan sosial lainnya dari pemerintah.

“Kami hanya terima dana BLT yang diberikan pemerintah melalui desa. tetapi kalau pandemi Covid-19 sudah berakhir pasti kami tidak lagi mendapatkan bantuan,” kata Damasus sedih.

Damasus berharap Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur bisa memperhatikan  kehidupan keluarganya lebih khusus pada anaknya yang mengalami cacat di kakinya.

Yang dibutuhkan Rolan, kata Damasus, adalah sebuah kursi roda. (adi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *