Timor dan Sumba Sumbang Paling Banyak Orang Bodoh dan Miskin, Ini Penjelasan Karo Humas

  • Whatsapp

KUPANG KABARNTT.CO—Kepala Biro (Karo) Humas dan Protokol Setda NTT, Dr. Jelamu Ardu Marius, mengajak masyarakat NTT untuk  berubah dalam mewujudkan NTT Bangkit Menuju Sejahtera.

Butuh kerja sama dan sinergi semua komponen masyarakat agar NTT bisa keluar dari  kemiskinan dan provinsi dengan literasi terendah di Indonesia.

Bacaan Lainnya

“Terkait pernyataan Bapak Gubernur yang viral tentang dua pulau besar yakni Timor dan Sumba dengan penduduk miskin dan bodoh yang banyak di NTT. sebenarnya di balik diksi dari Bapak Gubernur ini  terkandung ajakan, ayo mari  kita berubah dan memperbaiki diri supaya kita tidak tertinggal,” jelas Marius Jelamu dalam keterangan pers di Ruang Media Center Kantor Gubernur NTT, Selasa (18/8/2020).

Sebelumnya ketika menghadiri acara Syukuran HUT ke-9  SMP Negeri 6 Nekamese, Kecamatan  Nekamese, Kabupaten Kupang, Sabtu (15/8/2020).  Gubernur NTT,  Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL), mengatakan Pulau Sumba dan Timor menyumbang orang bodoh dan miskin paling banyak di NTT.

Karo Humas dan Protokol Setda NTT, Dr. Marius Ardu Jelamu (kanan)

Karena itu, Gubernur VBL akan lebih banyak berada di Pulau Timor dan Sumba.

“Gubernur akan banyak ada di Pulau Sumba dan Pulau Timor. Karena dua pulau itu penyumbang terbesar orang bodoh dan miskin di NTT,” ujar Gubernur VBL ketika itu.

Menjelaskan pernyataan Gubernur VBL itu, Marius Jelamu mengatakan, kemiskinan dan kebodohan tidak hanya ada di dua pulau itu tapi juga ada di daerah-daerah lainnya di NTT.

Apa yang dikatakan Gubernur NTT terkait hal tersebut didasarkan  pada data statistik.  Berdasarkan data penduduk miskin yang dirilis BPS tahun 2019, total penduduk miskin yang ada di 10 kabupaten di dua pulau tersebut adalah  619.400 jiwa. Pulau Flores yang terdiri dari delapan kabupaten mempunyai penduduk miskin sebanyak 367.800 jiwa. Sisanya sebanyak 159.000 jiwa tersebar  di Sabu Raijua, Rote Ndao, Lembata dan Alor.

“Bila kita melihat lebih spesifik lagi data statistik BPS pada tahun 2019,  enam kabupaten dengan jumlah penduduk miskin tertinggi (dalam ribuan jiwa) masing-masing TTS 130, 3, Sumba Barat Daya 96,3, Kabupaten Kupang 92,0, Sumba Timur 77,4, Manggarai Timur 75,8, Manggarai 69,3.  Untuk 6 kabupaten dengan indeks kedalaman kemiskinan tertinggi mencakup Sumba Timur 8,57, Sumba Tengah 7,57, TTS 6,68, Sabu Raijua 6,20, Sumba Barat 5,11 dan Rote Ndao 5,08. Sementara 6 kabupaten dengan indeks keparahan kemiskinan tertinggi yakni Sumba Timur 3,14, Sumba Tengah 2,20, TTS 2,09, Sabu Raijua 1,78, Sumba Barat 1,37 dan Rote Ndao 1,33. Rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dari masyarakat NTT adalah Rp 373.992 , berada di bawah batas garis kemiskinan yang ditetapkan nasional pada Maret 2020 sebesar Rp. 454.652,” papar Marius.

Lebih lanjut Marius mengungkapkan, kemiskinan tidak berdiri sendiri. Kemiskinan terkait juga dengan indikator-indikator lainnya seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, sosial budaya dan indikator lainnya.

“Orang menjadi miskin bisa karena kemampuan untuk kelola potensi dirinya kurang maksimal, atau karena sumber daya alam yang ada di sekitarnya kurang, ataupun karena tanahnya tandus sehingga tidak bisa dikelola secara manual, butuh teknologi dengan cost tinggi,” jelas Marius.

Dikatakan Marius, Pemerintah Provinsi NTT seperti yang ditegaskan Gubernur NTT dalam peringatan HUT Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2020 tetap berupaya keras untuk mewujudkan visi NTT Bangkit Menuju Sejahtera walaupun dalam situasi pandemi Covid-19.

Juga terus berjuang mengurangi angka kemiskinan dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pendidikan, membangun infrastruktur, memajukan pertanian, peternakan, perikanan dan kelautan serta pariwisata  untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.

“Kita bersyukur ketahanan ekonomi NTT terhadap dampak pandemi covid-19 sangat kuat. Kalau di triwulan kedua ekonomi nasional terkontraksi pada minus 5,32 persen, NTT justru tumbuh 0,96. Sekali lagi, kami mengajak masyarakat Nusa Tenggara Timur  untuk membaca dan memaknai pernyataan Bapak Gubernur secara positif sebagai motivasi. Kita harapkan para bupati/walikota tetap menjaga trend pertumbuhan ekonomi yang positif. Semua komponen terkait lainnya seperti tokoh masyarakat, tokoh agama, perbankan, kalangan industri dan pemangku kepentingan lainnya di momentum 75 tahun Kemerdekaan RI agar bergandengan tangan membangun NTT menuju kesejahteraan dan meningkatkan semangat literasi,” jelas Marius. (aven/biro humas setda ntt/den)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *