Peduli Pantai, Sahabat Mangrove Melolo Tanam Bakau di Umalulu

  • Whatsapp

WAINGAPU KABARNTT.CO—Sahabat Mangrove Melolo mewujudkan kepedulian mereka akan lingkungan pesisir pantai dengan menanam anakan bakai di pesisir pantai Umalulu, Kelurahan Lumbukore, Kecamatan Umalulu kabupaten Sumba Timur.

Aksi peduli lingkungan ini dilakukan, Rabu (20/1/2021) lalu dengan penuh semangat dari sejumlah anggota Sahabat Mangrove Melolo. Aksi ini dilatari kepedulian terhadap ekosistem pesisir yang rusak akibat abrasi maupun ulah manusia yang suka merusak tanaman mangrove sehingga semakin berkurang setiap tahun.

Bacaan Lainnya

Penanaman 300 anakan mangrove oleh Sahabat Mangrove Melolo didukung oleh Mangrove Nusantara bekerja sama dengan jajaran pemerintah, Koramil, dan Polsek Umalulu dalam kegiatan bertajuk ‘Praktek Konservasi Mangrove’.

Diketahui pesisir tanah Melolo telah mengalami abrasi kurang lebih 30 meter dari tahun 90 sampai sekarang. Masyarakat di pesisir pantai pun sudah membangun pengaman untuk menahan laju abrasi, meskipun memang akan sangat riskan dengan tumpukan sampah.

Samuel Haru Radjah, perwakilan Sahabat Mangrove Melolo, usai penanaman anakan Mangrover mengatakan, tanaman mangrove merupakan pelindung alami pantai. Kesadaran bersama untuk menjaganya  akan membantu mengurangi risiko abrasi, badai gelombang pasang dan penumpukan sampah di pesisir.

“Kami siapkan 300 anakan mangrove untuk ditanam di pesisir Umalulu yang sudah terjadi abrasi. Memang ini sebagai uji coba praktek konservasi yang kami lakukan, sehingga 300 tanaman ini nantinya diamati dan dipelajari perkembangannya, sehingga menghindari kematian massal akibat salah tanam atau yang lainnya,” jelas Samuel.

Menurut Samuel, ada beberapa jenis bibit mangrove yang berhasil dikembangkan, yakni mangrove jeni rhizophora mucronota, ceriops zippeliana, bruguiera gymnorrhiza, bruguiera sexangula dan xylocarpus granatum.

Cara menanamnya pun, kata Samuel, sangat berbeda, mulai dari rumpun  berjarak hingga mengembangkan metode tutup bambu untuk menjaga anakan mangrove dari terjangan ombak.

“Ya, ada beberapa jenis mangrove dan juga metode tanamnya juga berbeda. Karena terjangan ombak sangat besar, maka kami harus punya lebih banyak ide agar anakan mangrove ini tidak mati oleh terjangan ombak atau ternak yang berkeliaran di sekitar pesisir,” kata Samuel.

Kegiatan ini juga tidak luput dari aturan protokol kesehatan yang ketat yang telah menjadi syarat dalam kegiatan apapun yang dilakukan, mengingat kasus Covid-19 di Kabupaten Sumba Timur meningkat secara signifikan dari akhir Desember 2020 hingga awal Januari 2021.

Semoga kita tetap memperketat protokol kesehatan dalam memutuskan rantai penyebaran Covid-19. (yc/np)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *