Masyarakat Adat Terlaing Nilai Penyerobotan Tanah di Labuan Bajo Liar dan Brutal

  • Whatsapp

LABUAN BAJO KABARNTT.CO–Aksi penyerobotan tanah adat di kawasan pantai  utara (Pantura) Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, kian marak dan cenderung liar dan brutal.  Dalam aksi penyerobotan ini para mafia menggunakan strategi dengan  menghancurkan tatanan adat.

Demikian disampaikan disampaikan  Hendrik Jempo (Tu’a Gendang masyarakat adat Terlaing) kepada kabarntt.co di Labuan Bajo, Rabu (13/1/2021) malam, diamini Bone Bola (Tua Golo Terlaing) dan Gabriel Gambar (tokoh adat Lancang).

“Dari situasi tersebut saya bersama beberapa tokoh adat lainnya antara lain Bone Bola (Tua Golo Terlaing), Gabriel Gambar (tokoh adat Lancang), Bene Bedu (tokoh adat Lancang) Haji Ramang (fungsionaris Nggorang), Theodurus Urus (Tua Golo Lancang), dan Yosep Yakop (tokoh adat) sepakat untuk melakukan somasi terhadap ahli waris DG Turuk atas kasus tanah di Lingko Menjerite dan Nerot.

Hendrik menjelaskan, masyarakat adat Terlaing dan Lancang membuat pernyataan bersama terhadap ahli waris Daniel Gabriel Turuk, perihal pengosongan lahan di Lingko Nerot dan Menjerite.

Bersama rekan tokoh adat lainnya, mereka mengirim surat peringatan pada 12 Desember 2020 lalu ditujukan kepada Moses H Fono, Eduardus W Gunung, Blasius Aman dan Naldo.

“Ini surat peringatan yang kedua, sedangkan bulan November lalu kami juga sudah memberi peringatan pertama. Surat somasi itu dibuat setelah serangkaian peristiwa yang dilakukan oleh ahli waris DG Turuk di Lingko Menjerite dan Nerot, Labuan Bajo,” jelas Hendrik.

Menurutnya, beberapa peristiwa dan nyaris menimbulkan gejolak sosial dan pertumpahan darah seperti pada Oktober 2020 ketika lahan ulayat Terlaing dan Lancang ditanami plang (papan nama) oleh Kodam Udayana dan hibah tanah 20 hektar oleh Moses H Fono kepada Kodam Udayana.

“Perbuatan Saudara Moses H Fono  ini benar-benar menginjak martabat masyarakat adat dan menghancurkan nilai-nilai adat, terutama menyangkut hak ulayat tanah,” kata Hendrik diamini Bone Bola, Tu’a Golo GendangTerlaing, Desa Pota Wangka, Kecamatan Boleng, Manggarai Barat.

Bagi masyarakat adat Terlaing dan Lancang, tindakan Moses H. Fono ini sungguh meresahkan dan berpotensi terjadi gejolak horizontal.

Bene Bedu, petani tokoh adat Lancang, yang tanahnya ditanami plank TNI, menilai kasus ini menimbulkan  ketegangan masyarakat luar biasa, tapi tak berdaya karena soal ini  berhadapan dengan TNI.

Kekhawatirkan mereka, jelas Bone Bola, adalah Moses H Fono ini  mencatut nama TNI dan mengadu domba masyarakat adat dengan TNI hanya karena kepentingan pribadi.

Oleh karena itu, merekapun segera bersurat  minta klarifikasi kepada Pangdam Udayana  dan surat tembusan kepada Presiden, Wakil Presiden, Panglima TNI, Bareskrim Polri, Satgas Anti mafia Tanah Mabes Polri.

Sementara itu Theodorus Urus, tu’a Golo masyarakat adat/ulayat Lancang, menjelaskan, kemarahan masyarakat Adat Lancang dan Terlaing mencapai puncak, karena Moses  H Fono  ahli waris (Alm) DG Turuk bukan warga adat Lancang atau Terlaing dan tidak mempunyai hak ulayat atas tanah di kawasan itu. Bahkan kedua orang tuanya berasal dari luar wilayah Manggarai Barat.

“Dia (Moses H Fono –Red) dan ayahnya bukan warga adat, kok secara preman menguasai wilayah kami?” ujar Theodorus Urus.

Sementara itu Mikhael Antung, Tu’a Dusun Lancang, Kelurahan Wae Kelambu menegaskan, klaim pemilikan ahli waris DG Turuk selalu dikaitkan dengan pernyataan Tua Mukang Rangko, Abdulah Duwa  (bukan tua Golo) dan Haji Ramang, pemangku adat Dalu Nggorang.

“Dalam dokumen peta ulayat Terlaing, Bapak Abdulah Duwa sudah menyatakan dan menandatangani dokumen itu bahwa tanah Lingko Nerot dan Menjerite adalah milik masyarakat adat Terlaing dan Lancang (dokumen peta ada),” tegasnya.

Pernyataan Mikhael Antung diperkuat lagi Hendrik Jempo (Tu’a Gendang masyarakat adat Terlaing). Hendrik menyatakan tentu Bapak Abdulah Duwa menyadari bahwa ia bersama warga di Rangko bukan warga asli Manggarai. Mereka merupakan pendatang dan tidak memiliki hak ulayat.

Ia melanjutkan, bagi masyarakat Adat Terlaing dan Lancang, kehadiran mereka sudah dianggap saudara, sehingga ada lahan yang mereka garap sejak dahulu kala.

Di Lingko Nerot dan Menjerite, misalnya, ada  ahli waris keluarga Rabani yaitu Kamarudin, yang menggarap sawah garam di sana dan pihak ulayat Terlaing pun memberi alas hak untuk mereka.

“Kehadiran ahli waris Rabani diperkuat oleh surat pernyataan Kepala Desa Tanjung Boleng Agustinus Ngada tahun 2002 dan ditanda-tangani juga Abdulah Duwa, yang menjabat Tua Golo Rangko kala itu sebelum beliau mundur jadi tua golo. Demikian penjelasan Kamarudin, pejabat pemerintah yang bertugas membagi tanah kala itu,” ujarnya mengulang.

Kemudian pada tanggal 11 Desember 2020 tokoh masyarakat Terlaing dan Lancang bertemu dengan Haji Ramang, fungsionaris Kedaluan Nggorang, di rumah kediamannya.

Dalam pertemuan itu Haji Ramang menegaskan bahwa Lingko Nerot dan Menjerite milik masyarakat adat Terlaing dan Lancang. ” Justru Haji Ramang sendiri bingung jika ada ahli waris DG Turuk kuasai kawasan itu,” tanya Ramang. (obe)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *