Atasi Belalang: Barter Belalang dengan Beras

  • Whatsapp

TAMBOLAKA KABARNTT.CO—Salah satu cara membendung belalang di Sumba adalah dengan membarter belalang dengan beras. Masyarakat menangkap, mengumpulkan dan menukar belalang dengan beras yang disiapkan pemerintah.

Pendapat alternatif ini dikemukakan anggota DPRD NTT dari Fraksi Partai Golkar, Hugo Kalembu Rehi, menanggapi hama belalang yang menyerang tanaman petani di Sumba Tengah.

Bacaan Lainnya

Sudah ratusan hektar lahan pertanian di kabupaten yang bulan lalu dikunjungi Presiden Jokowi ini diserang jutaan belalang. Di kabupaten ini juga sedang dibangun food estate (lumbung pangan)  yang diproyeksikan bisa menjadi salah satu sumber pangan untuk ketahanan pangan nasional.

Terkait serangan hama belalang, Bupati Sumteng sudah  menyatakan darurat hama belalang.

Hugo Kalembu sepakat dengan status darurat hama belalang. “Oleh karena itu  perlu tindakan ekstra cepat oleh Pemda Sumteng,” kata Hugo, wakil rakyat dari Daerah Pemilihan Sumba ini kepada kabarntt.co, Kamis (18/3/2021) pagi.

Hugo menawarkan dua solusi cepat dan nyata yang bisa dilakukan. Pertama, gerakan penyemprotan dengan  insektisida secara masif pada hamparan sabana yang luas.

“Dan itu buruh obat-obatan yang banyak, alat semprot serta air yang langka juga di Lenang dan Tanah Mbanas, yaitu lima desa terdampak. Tapi ini kan tidak ramah lingkungan. Dampak destruktif ekologisnya besar,” kata Hugo.

Karena solusi pertama ini merusak lingkungan, maka Hugo menwarkan solusi kedua, yakni belalang dibarter dengan beras.

“Satu kg belalang bisa setengah kilo atau sekilo beras atau setara dengan  enam ribu atau dua belas ribu rupiah per kg belalang. Ini akan menjadi insentif bagi bagi masyarakat siapa saja untuk berburu belalang,” jelas Hugo.

Ke depan, kata Hugo, belalang harus diubah dari hama jadi komoditas. “Balitbang pertanian harus meneliti kandungan gizi dan nutrisi belalang ini sebagai alternatif pangan, atau setidaknya untuk bahan pakan ternak,” kata Hugo.

Hugo menegaskan, hama belalang tidak boleh dilihat sebagai soal kecil dan dianggap sepele.

“Ada ancaman serius terhadap Program Nasional Food Estate, Program  Provinsi  NTT TJPS (tanam jagung panen sapi) dan  rencana pembangunan pabrik pakan ternak  di Sumteng tahun 2021. Bahkan juga ada ancaman serius bagi ketahanan pangan di empat  kabupaten di Pulau Sumba,” kata Hugo.

Dari informasi yang didapatnya, kata Hugo,  belalang sudah mulai migrasi ke Sumba Barat dan Sumba Barat Daya.

“Karena sudah lintas kabupaten,  maka Pemprov NTT harus turun tangan, baik untuk koordinasi maupun tindakan eksekusi langsung. Gubernur dapat menggunakan pos belanja dana  tidak terduga untuk kondisi darurat,” kata Hugo. (den)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *