Diversifikasi, Inovasi dan Kreativitas Kunci UMKM di Tengah Pandemi

  • Whatsapp

ROBERT  Waka hanya bisa menerima nasib. Banyak  travel agent di Labuan Bajo, Manggarai Barat sudah tutup. Guling tikar. Banyak pelaku pariwisata di Labuan Bajo  pulang kampung.  Yang lain mencoba peruntungan dengan beralih profesi. Jadi apa saja. Yang penting bisa bertahan menghidupi asap dapur. Menyambung nafas.

Sebagai pengelola travel agent di Labuan Bajo, Robert  merasakan langsung pukulan telak pandemi Covid-19.  “Banyak travel agent yang tutup, karena tidak ada wisatawan yang datang sejak tahun lalu. Yang lain sudah pulang kampung,” kata Robert dalam webinar yang diselenggarakan Partai Golkar NTT,  Kamis (29/7/2021) lalu.

Bacaan Lainnya

Webinar dengan tajuk “Menggerakkan Usaha Mikro, Kecil, Menengah di Era Pandemi” ini menghadirkan Wakil Bupati Sumba Barat Daya, Marthen Christian Taka, Wakil Bupati Manggarai Barat, dr. Yulianus Weng dan pelaku usaha Riesta Ratna Megasari.  Webinar dua jam lebih itu dimoderatori Tony Kleden dari DPD I Golkar NTT.

Sebagai peserta webinar, Robert menyatakan keresahannya.  Resah karena Covid-19 memukul jatuh sektor pariwisata.  Dari hulu sampai hilir. Wajahnya mengekspresikan gunda gulana seorang yang super sibuk mengurus wisatawan.

Kota Labuan Bajo, kota super premium itu sekarang lesuh. Sepi. Pariwisata memiliki rantai panjang. Maka dampak ikutannya juga panjang.   Wajah-wajah wisatawan asing tidak terlihat. Hotel-hotel sepi. Restoran dan rumah makan kosong pengunjung.  Mobil-mobil travel parkir saja. Motor laut, speed boat ditambat di darat.

Eco enzym yang sangat bermanfaat untuk kesehatan dan tanaman. Bahan dasarnya kelor yang banyak terdapat di NTT

Masuk akal Robert menggugat kebijakan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat yang mewajibkan para wisatawan yang datang mesti menjalani test PCR.  Yang jadi soal bukan kewajiban test PCR itu. Soalnya adalah biaya Rp 1,9 juta untuk sekali PCR.  Harga yang sama dengan harga tiket  dari Jawa ke Labuan Bajo.

“Biaya ini sangat memberatkan wisatawan yang mau datang,” kata Robert.

Robert adalah contoh korban  hantaman Covid-19.  Dia hanya satu dari ribuan orang yang bergerak di sektor usaha kecil yang terpuruk di tengah pandemi Covid-19.

Dalam kasus dan contoh lain, banyak pelaku dan penggiat di sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di NTT terpuruk. Jatuh tidak berdaya.

Mereka butuh bantuan. Mereka butuh sentuhan. Baik Wakil Bupati Sumba Barat Daya, Marthen Christian Taka, maupun Wakil Bupati Manggarai Barat, Yulianus Weng, membagi pengalaman.

Kedua pimpinan daerah ini mengiyakan sektor pariwisata benar-benar terpuruk. Keduanya juga memastikan UMKM sudah jadi bagian tak terpisahkan dari geliat ekonomi di level masyarakat.

Sektor ini menyerap tenaga kerja paling banyak. Menyumbang pemasukan sangat besar. Membiayai dan menghidupi nyawa banyak sekali.

Di Sumba Barat Daya, menurut Christian Taka,  sampai dengan akhir Juli terdapat sekitar 28 ribu lebih pelaku UMKM. Mereka bergerak di beragam usaha. “Kalau satu orang membiayai lima orang saja, maka sudah seratus ribu lebih orang yang dibiayai dari satu pelaku UMKM,” kata Christian Taka.

Di Manggarai Barat, kata Yulianus Weng, terdapat lebih dari 2000 pelaku UMKM. Mereka bergerak di beragam sektor dengan fokus pada  pariwisata.  Akibat kebijakan pemerintah pusat yang mewajibkan refokusing dan realokasi anggaran, pemerintah kabupaten mesti piawai mengatur dana-dana yang ada untuk berbagai kegiatan dan kebutuhan.

Saat ini, kata Weng,  pemerintah setempat membranding gula manggarai untuk dilempar ke pasar. “Tetapi ukurannya kita bikin jadi lebih kecil, tidak lagi ukuran seperti dulu. Dengan ukuran lebih kecil gula manggarai mudah dan gampang diterima  sebagai ole-ole khas Manggarai Barat,” kata Weng.

Riesta Megasari, penggiat dan pelaku UMKM  di Kota Kupang, membagi pengalaman. Pengalaman berharga untuk bertahan terus di tengah pandemi. Menurutnya, di tengah pandemi seperti sekarang butuh inovasi dan kreativitas.

Sebelumnya Megasari punya usaha semacam EO untuk acara-acara nikah, seminar dan sebagainya. “Tetapi barang-barang untuk menyiapkan acara-acara ini saya jual dan beralih ke usaha lain,” kata Megasari. Megasari punya sentra UMKM yang diberi nama Apasa di Bundaran Tirosa Kupang.

Menurut perempuan energik ini, pelaku UMKM mesti piawai berinovasi, kreatif dan pintar membaca pasar.  Dia buktikan itu dengan diversifikasi usahanya. Dari makanan ringan, sarapan pagi berupa nasi kuning, hingga eco enzym berbahan kelor.  Eco enzym adalah cairan racikan berbahan kelor baik untuk manusia juga untuk tanaman. Untuk manusia eco enzym untuk berguna untuk kesehatan. Sedangkan untuk tanaman, eco enszym membantu mempercepat pembuahan dan bunga.

Selain diversifikasi usaha dan pintar berinovasi, menurut Megasari aktif di media sosial juga sangat penting di era digital ini. Masuk akal, ketika pemerintah menutup akses ke pasar, membatasi mobilitas manusia, sandaran untuk berjualan produk UMKM adalah internet, yakni media sosial.

Berjualan di media sosial juga diungkap Yesenia Liyanto, perempuan milenial yang tinggal dan bekerja di Jakarta. Menurutnya, pandemi Covid-19 justru meramaikan e-commerce, penjualan/pemasaran melalui jaringan internet.

Maka, kata Liyanto, yang dibutuhkan dari para pelaku UMKM adalah memanfaatkan jaringan internet untuk berjualan produk.

Pandemi Covid-19 boleh memukul nyaris semua aspek dan sendi kehidupan masyarakat.  Jutaan orang mati meregang nyawa direnggut Covid-19. Pariwisata jatuh ke titik terendah. Kejahatan mudah tersulut ketika orang mulai bertarung mencari dan merebut makanan.

Tetapi Covid-19 juga melecut  naluri untuk bangkit dan tidak boleh kalah menerima nasib. Sektor UMKM dalam sejarah panjang bangsa ini menjadi tiang utama menggerakkan roda ekonomi. Sebanyak 88 persen lebih tenaga kerja terserap di sektor ini membuktikan UMKM tetap menjadi sandaran utama ekonomi. Ketika krisis moneter menghantam bangsa ini 1998 banyak perusahaan besar guliing tikar. Tetapi UMKM tampil menyelamatkan sektor ekonomi bangsa ini.

UMKM tidak bakal runtuh di tangan orang kreatif, inovatif dan piawai membaca apa maunya pasar.  (tony kleden)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *