Anak 8 Tahun di Benteng Pau, Manggarai Timur Ini Butuh Kursi Roda

  • Whatsapp

BORONG KABARNTT.CO—Pasangan suami isteri Vinsensius Jala-Roswita Nelci Nggoweng sama sekali tak menyana anak laki-laki mereka, Yohanes Devilje Laja, mengalami cacat fisik.

Pada usianya yang sudah 8 tahun, Yones, panggilan anak laki-laki buah hati pasangan ini belum juga berjalan. Berbicara juga tidak lancar. Yones cacat sejak lahir.

Bacaan Lainnya

Vinsen dan Roswita pasrah.  Menerima kenyataan.  Berdamai dengan keadaan.  Tetapi warga Desa Benteng Pau, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur ini tidak menyerah. Tekad mereka bulat.  Membawa Yones berobat ke mana saja. Termasuk ke dukun.

Kepada kabarntt.co, Sabtu (7/8/2021), Vinsen membagi kisah. Ketika lahir tahun 2013 silam, kata Vinsen, tidak ada tanda-tanda kalau putra mereka cacat.   Pertumbuhan Yones normal-normal saja.

Menginjak usia dua tahun, kata Vinsen, mestinya Yones sudah mulai belajar jalan. Tahu-tahunya  Yones belum bisa berjalan juga. Berdiri juga tidak bisa. Vinsen dan istrinya mulai cemas. Khawatir Yones tidak berdiri dan berjala.

“Pada waktu lahir kami mengira Yones dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik. Tetapi ternyata kami salah. Sampai saat ini dia belum bisa jalan dan berbicara normal,” tutur Vinsen dengan wajah sedih.

“Isteri saya mulai gelisah. Ia terus memikirkan nasib dari Yones. Sesekali kami pergi ke dukun untuk mengobati anak ini, tapi tidak berhasil,” kata Vinsen sambil mengusap air mata yang jatuh di pipinya.

Meskipun semua usaha yang dilakukan gagal, Vinsen dan Roswita tidak pernah putus asa memperjuangkan nasib anaknya. Tahun 2018 lalu, Vinsen bersama kakaknya, Kuintus Jala, pernah mendatangi sebuah tokoh di Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai hendak membeli kursi roda. Namun, uang tidak cukup, mereka urung membeli kursi roda yang harganya Rp 1,7 juta.

“Waktu itu kebetulan saya punya uang yang saya tabung dari hasil jual pasir. Jumlahnya satu juta rupiah. Kami coba tawar harga kursi roda. Pelayan toko bilang harga kursi roda sekitar satu juta tujuh ratus ribu rupiah, sehingga kami batal membeli,”  tutur Kuintus.

Yones tinggal bersama orang tuanya di sebuah gubuk kecil berukuran sekitar  4×5 meter persegi. Rumah itu  hanya berdinding bambu dan berlantai tanah.

Tinggal di kampung, setiap hari Vinsen melakoni hidup sebagai petani. Tetapi hasil bertani tidak cukup. Dia kerja tambahan. Menjadi tukang gali pasir sungai. Hasil dari penjualan pasir itu ia gunakan untuk menafkahi keluarganya.

“Harga satu ret pasir Rp 250 ribu. Untuk mendapat satu ret pasir saya harus bekerja 4 sampai 9  hari. Sangat sulit untuk menjadi tukang gali pasir. Tetapi dengan keadaan seperti ini, suka tidak suka harus kerja biar keluarga saya bisa hidup,” ungkap Vinsen.

Tetapi semenjak Covid-19  melanda dunia proyek-proyek pembangunan ikut terganggu. Pasir yang sudah digali tidak lagi dijual dengan harga seperti biasanya. Sudah begitu, pembeli pasir juga berkurang banyak.

Sementara Roswita tidak bisa membantu suaminya untuk bekerja. Pasalnya, Roswita harus menjaga Yones ketika suaminya keluar rumah. Beberapa bulan terakhir Roswita  tidak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga sepenuhnya karena sedang mengandung adik  Yones. Ia hanya bisa mendukung suaminya dengan doa yang ia panjatkan setiap hari.

“Yones tidak bisa tinggal sendirian di rumah. Setiap hari kami bergantian menjaga dia. Beberapa bulan terakhir saya tidak keluar rumah dan fokus menjaga Yones,” tutur Roswita. Perempuan asli Manggarai itu lalu  menyodorkan secangkir kopi pahit kepada kabarntt.co.

Vinsen dan Roswia berkisah, mereka tidak pernah mendapat bantuan kemanusiaan dari pemerintah.

Kepala Desa Benteng Pau, Benyamin Rahing,  mengatakan pihaknya pernah mengirimkan data ke kecamatan yang diteruskan ke Dinas Sosial Kabupaten Manggarai Timur terkait keadaan Yones.  Itu sudah beberapa tahun lalu. Sayang, hingga saat ini belum ada jawaban dari Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur.

“Kita akan terus berusaha agar Yones bisa mendapat bantuan sesuai dengan kebutuhannya,”  tandas Benyamin.

Vinsen dan Roswita menanti penuh harap uluran tangan pemerintah. Mereka ingin Yones bisa duduk di atas kursi roda. Adakah pembaca yang peduli dengan Yones? (agustinus ardy)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *