Kunker Gubernur NTT ke  Sikka:  Dari Maumere ke Jepang

  • Whatsapp

HARI Minggu, 26 Juli 2020. Dari dalam pesawat TransNusa terlihat jelas para penari. Lengkap dengan pakaian khas Sikka. Sarung tenun motif Sikka. Rambut disanggul ke atas. Tangan penuh gelang gading.  Di pergelangan kaki melingkar giring-giring.

Mereka berbaris rapi di landasan. Di depan pintu masuk ruang tunggu Bandara Frans Seda Maumere. Posisi siap menyambut Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL), dan rombongan.

Bacaan Lainnya
Gubernur VBL (pake topi putih) menggunting pita menandai ekspor tuna ke Jepang

Sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) Provinsi NTT ikut dalam rombongan. Ada Kadis Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT, Ir. Wayan Darmawa. Kadis Kesehatan NTT, Dr. drg. Domi Mere, M.Kes (ketika itu). Kadis PUPR NTT, Maksi Nenabu. Kadis Perindag NTT, M. Nasir Abdullah,  Kepala Bappelitbangda NTT, Lecky Frederich Koli (ketika itu). Kadis Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu NTT, Marsianus Jawa. Kadis Sosial NTT, dr. Meserasi D.P. Ataupah (ketika itu). Karo Humas dan Protokol Setda NTT, Dr. Marius Ardu Jelamu, M.Si. Karo Organisasi Setda NTT, Bartol Badar.

Dua anggota DPRD NTT juga ikut serta. Thomas Tiba dari Fraksi Golkar dan Alex Ofong dari Nasdem.

Beberapa staf khusus Gubernur NTT juga mendampingi. Pius Rengka, Rocky Pekujawang, David Pandie, Tony Djogo, dan Anwar Pua Geno. Plt. Direktur Utama Bank NTT, Alex Riwu Kaho, juga bergabung.

Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo Idong, Wakil Bupati Sikka, Romanus Woga, bersama para pejabat setempat menyambut di bandara.

Berjalan menuju ruang tunggu,  rombongan gubernur disambut gong wani. Spontan para penari menghentakkan kaki. Menggerakkan tangan menari hegong. Tarian khas Sikka.

Kunjungan Gubernur VBL ke Flores bagian timur ini adalah lanjutan rangkaian kunjungannya ke seluruh kabupaten di NTT. Sebelumnya Gubernur VBL sudah mengunjungi seluruh daratan Timor, daratan Sumba, dan Flores bagian barat yakni Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo dan Ende.

Kunjungan sepekan kali ini dimulai dari Sikka, seterusnya ke Flores Timur, Lembata dan berakhir di Alor.

Di Sikka, dari Bandara Frans Seda, Gubernur VBL langsung menuju perusahaan pengolahan ikan, PT KCBS (Karya Cipta Buana Sentosa) di Wailiti, Kecamatan Alok Barat. Ini perusahaan asing. Milik Jepang. Meski milik asing, hampir 90 persen karyawan orang NTT. Manejernya bahkan orang Indonesia juga.

Gubernur VBL dan pimpinan PT KCBS Maumere ‘salam komando’ mendukung pengiriman tuna ke Jepang (foto: sam babys/biro humas setda ntt)

Dari PT KCBS, Gubernur VBL menyambangi kebun contoh yang digarap Yan Maring. Gubernur ingin menyaksikan kebun ini karena ada yang hebat dan luar biasa. Yakni penerapan teknologi penyiraman sistem tetes jarak jauh menggunakan SMS (short message service).

Selain melihat  teknologi ini, Gubernur VBL juga ingin menjumpai dan mendengar langsung dari Yan Maring. Yan Maring ini anak muda yang ‘keluar’ dari  pakem, gaya dan pola hidup anak muda zaman now. Dia meretas jalan berbeda. Jalan petani. Menjadi seorang petani. Tapi petani yang profesional. Ilmu teknologi pertanian di bangku kuliah, plus magang beberapa bulan tentang  pertanian di Israel adalah bekal dan modal mahal miliknya.

Beberapa titik lagi dikunjungi Gubernur VBL. Di antaranya meresmikan Balai Latihan Kerja (BLK) PT Langit Laut Biru. BLK ini milik Keuskupan Maumere. Juga menyerahkan satu unit mobil tangki air untuk Biara SSpS Kewapante.

Ketika melepas ekspor  sashimi tuna ke Jepang Gubernur VBL bangga luar biasa. Sashimi ini dikirim PT Karya Cipta Buana Sentosa (KCBS) di Maumere. Bangga karena Sikka luar biasa. Kekayaaan lautnya sangat prospektif. Dari dulu.

Gubernur VBL (topi putih) didampingi Bupati dan Wakil Bupati Sikka sebelum tatap muka dengan para pimpinan OPD Sikka di Sea World Club Waiara, Maumere

 

Bangga karena terdapat sejumlah perusahaan perikanan di Sikka. Tanam modal di Sikka, di NTT. Bangga karena banyak tenaga kerja terserap. Bangga karena pasar ikan jelas dan pasti.

“Hari ini seluruh dunia susah karena Covid-19, tetapi kita di Maumere ekspor sashimi ke Jepang. Ini luar biasa,” kata Gubernur VBL ketika menggunting pita tanda melepas ekspor sashimi ke Jepang.

Sashimi tuna yang dikirim ke Jepang  hari itu 12 ton. Beberapa minggu sebelumnya perusahaan ini mengirim 19 ton ke Korea Selatan.

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sikka, Paulus Hilarius Bangkur, penuh semangat membeberkan potensi, prospek dan juga hambatan dunia perikanan Sikka.

“Sesuai dengan arahan dan harapan Bapak Gubernur dalam rapat di Labuan Bajo agar Sikka menjadi daya ungkit perikanan di NTT, bahkan di  Indonesia, kami terus memajukan dunia perikanan di Sikka,” tegas Bangkur.

Di Sikka, jelas Bangkur, terdapat 559 KK nelayan. Kebun mereka adalah laut. Hidup mereka sepenuhnya dari laut. Tetapi kapal tangkap mereka, kata Paulus, masih kecil. Jelas kekuatan dan daya jangkau terbatas. Pergi pagi pulang malam. Atau pergi malam pulang. Tidak bisa lama di laut.

Menurut Bangkur, ini rugi. Kalau saja kapal tangkap para nelayan lebih besar lagi dengan daya jangkau lebih jauh, pasti hasil tangkap mereka lebih banyak. “Kalau Bapak Gubernur bisa bantu nelayan, kami minta kapal tangkap yang lebih besar lagi,” kata Bangkur.

Bangkur menyebut hasil tangkapan ikan para nelayan semakin meningkat. Tahun lalu saja, hasil tangkapan para nelayan sebanyak 16 ribu ton. Hasil tangakapan ini, kata Bangkur, jelas akan terus bertambah sering  peningkatan jumlah dan tonase kapal tangkap yang semakin  baik dan besar.

Bangkur juga dengan antuasi menyebut konsumsi ikan di Sikka melebih rata-rata nasional. “Konsumsi ikan kita di Sikka juga sudah meningkat. Kalau nasional 54 kg/orang/tahun, maka di Sikka 59 kg/orang/tahun,” kata Paulus.

Gubernur VBL merespon positif potensi perikanan di Sikka. Senang dengan hasil tangkapan para nelayan. Antusias Sikka kirim ikan ke Jepang dan Korea.

Berkolaborasi dengan Gereja, Gubernur VBL menemui Pater Heinrich Bollen, SVD

“Ke depan kita akan perkuat sektor perikanan. Betul, masalahnya masih pada sumber daya, terutama kapal yang masih kecil. Kita inginkan agar kapal-kapal para nelayan itu besar sehingga mereka tidak  perlu melaut satu hari dan kembali ke darat. Dengan kapal lebih besar mereka melaut satu minggu baru pulang ke darat,” kata  Gubernur VBL.

Pemprov NTT, kata Gubernur VBL, siap membantu apa saja untuk kemajuan perikanan Sikka, juga di seluruh NTT. Ketika mencicipi sashimi racikan karyawan PT KCBS, Gubernur VBL menikmati. “God, god,” katanya sambil mengacungkan jempol. (tony kleden/kerja sama dengan biro humas setda ntt)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *