“Engkau Sudah Makan?”

(Mengayak Kisah Romo Gofil)

 Oleh P. Kons Beo, SVD

Bacaan Lainnya
tonykleden

Imam Yang Ramah Itu

 Namanya Gonçalo Filipe da Cunha. Ia disapa Gofil. Perawakannya sedang. Bahkan sebenarnya tampak fisiknya sedikit di bawah sedang. Berkumis dan pelihara janggut sedikit tebal.

Syukurlah. Dengan tampilan seperti itu si Gofil tampak tak berusia sebaya seorang ragazzo (anak remaja). Kelahiran 29 Juli 1980 di Santa Rosà, Oecusse-Timor Leste, Gofil adalah seorang imam projo dari Keuskupan Agung Dilli-Timor Leste.

Sempat bercita-cita jadi seorang dokter atau guru. Ingin jadi guru untuk lanjutkan pekerjaan kedua orangtua sebagai guru Sekolah Dasar. Namun, dua keinginan ini dibiarkan berlalu. Gofil akhirnya memilih masuk ke Seminàrio Menor Nossa Senhora de Fàtima, Balide, Timor Leste. Jalan menjadi imam tercapai. 8 Desember 2011, Gofil ditahbiskan menjadi imam oleh Mgr Alberto Ricardo da Silva.

Romo Gofil, imam ramah tamah ini, dikenal mudah bergaul. Kini ia jadi penghuni di Collegio San Pietro, Roma sejak tahun 2019. Ia lagi tekuni kuliah Missiologia-Pastoral Catechese dan Evangelisasi di Universitas Kepausan Urbaniana. Romo Gofil kini juga menjadi anggota sukarela kelompok San Egidio. Secara regular pada hari Selasa dan Kamis melayani kelompok senza tetto (tanpa atap, homeless).

Kisah Pilu Yang Berdaya Karitatif

Di suatu saat selepas makan malam, Romo Gofil berkisah, “Padre Roberto Cherubino ajak kami untuk berbuat sesuatu bagi orang-orang yang tak punya tempat tinggal.” Kelompok sukarela binaan Padre Roberto itu kurang lebih telah berlangsung 10 tahun lebih.

Romo Gofil teringat dan terkesan akan cerita pilu Padre Roberto bahwa di suatu hari sekian tahun silam, seorang dari kaum senza tetto (kaum tak punya rumah) ditemukan mati terkapar di halaman kampus Universitas Urbaniana. Dari kisah penuh haru itu para student, kebanyakan para imam, diajak Padre Roberto untuk bergabung dalam kelompok sukarela yang dibentuk itu.

Bagi Romo Gofil ajakan itu adalah peluang mulia baginya untuk menyapa sesama. Ya, terutama yang mengalami bahwa hidup ini tak mudah untuk dihadapi. Di tengah hiruk pikuk kesibukan manusia modern siapapun bisa terjebak dalam style hidup yang mementingkan diri sendiri. Sementara yang kurang beruntung nasibnya sungguh menggantungkan harapannya pada sesamanya berkemurahan hati.

Otak Di Kampus-Hati Di Jalanan

Simaklah apa yang jadi suara hati Romo Gofil, “Saya ingin memupuk iman saya lebih dalam dengan tindakan-tindakan kecil. Apa yang saya imani memang saya temukan dalam tindakan nyata. Bukan hanya melalui banyak teori dan ulasan-ulasan dokrinal, yang kadang-kadang saya sendiri belum pahami betul.”

Syukurlah! Teori dan ajaran di kampus yang membuka cakrawala berpikir, kini terjumpakan secara konkrit di lapangan. Romo Gofil ungkapkan rasa hati penuh syukur. Setidaknya dua kali seminggu pada hari Selasa dan Kamis, pagi-pagi ia tinggalkan komunitas San Pietro. Bergabung bersama teman-teman relawan lainnya untuk memasak dan siapkan apapun untuk sarapan pagi bagi para gelandangan.

Kami keluar ke jalan-jalan, lorong-lorong serta taman-taman di sekitar Vatikan. Makan pagi kami bagikan kepada orang-orang yang tidur di pinggir jalan, di emperan apartemen, juga yang tidur di antara tiang-tiang megah Lapangan Santu Petrus…”

Mereka Tak (Perlu) Tahu Saya Seorang Imam

Saat layani para gelandangan itu, Romo Gofil tak tampil telak dengan baju kolar apalagi dengan jubah imamat. Itulah pakaian kegemaran para klerus pada umumnya. Dia tampil berpakaian apa adanya. Katanya, “Agar mudah bercerita dengan mereka. Dari pada mereka nantinya lebih perhatian pakaian khusus saya… Saya hanya mau bersama mereka sebagai sahabat, sebagai sesama manusia. Kami bisa berbagi kisah lebih terbuka.”

Romo Gofil cukup mengenal wajah-wajah mereka. Katanya, “Ada yang berasal dari Polandia, Romania, Brazil, Bolivia, Maroko, Filipina, dari Afrika, bahkan dari Italia sendiri. Mereka umumnya gagal dalam adu nasib dan tak sukses dalam mencari keberuntungan hidup.”

Ada kisah menarik penuh haru yang dialami Romo Gofil. Katanya di suatu hari ketika berjalan di pusat kota, seorang tunawisma (senza tetto) segera mengenalnya. Sambil mendekati Romo Gofil, si tunawisma itu segera tawarkan makanan, Kamu sudah makan?”  Dan sodorkan sepotong roti.

Apakah itu adalah gambaran hati kaum sederhana? Tak berpunya banyak? Yang sungguh hanya harapkan kebaikan dari orang lain? Tetapi sesungguhnya mereka masih punya kebesaran hati untuk memberi. Untuk melepaskan, untuk tidak menggenggam bagi diri sendiri.  Ya, untuk tulus tidak terganggu untuk melepaskan rejeki  yang diperoleh tidak pasti di sepanjang hari itu. Tanpa banyak kecemasan dan rupa-rupa kekuatiran yang meliliti.

Harapan Tersembunyi

Romo Gofil punya satu harapan kecil. Siapapun terpanggil untuk berbuat baik. Bermurah hati bagi sesama yang kurang beruntung nasibnya adalah satu seni hidup yang menyenangkan. Ada keyakinan dari Romo Gofil, “Tidak perlu selalu dengan tindakan-tindakan besar. Biarlah dengan tindakan sekecil saja, sudah berguna bagi orang lain. Kita patut berbagi dan berbuat baik terhadap sesama.”

Dengan nada sedikit guyon namun bermakna Romo Gofil berkeyakinan, “Sudah ucapkan selamat pagi dan beri senyum sederhana pada sesama sudah membantu sesama untuk menatap dan menjalani hidup dengan penuh harapan.”

Tahun kemarin Romo Gofil mengajak saya untuk turut bersama bisa susuri lorong-lorong dan jalan-jalan serta taman-taman untuk menyapa  kaum tunawisma dan para pengemis. Saya begitu semangat untuk jadi salah seorang relawan. Sayangnya, ada pertimbangan dari sesama yang lain agar biarlah saya sebatas mendorong yang lain untuk berbuat baik yang sedemikian ini. Mungkinkah karena senyuman saya kurang berdaya iklan dan tak ada aura promotifnya? Entahlah.

Verbo Dei Amorem Spiranti

Collegio San Pietro-Roma

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *