Petani Hortikultura Desa Oabikase Raup Omset Jutaan Rupiah Perbulan

  • Whatsapp

KEFAMENANU KABARNTT.CO—Pandemi Covid-19 yang semakin merajalela tak menyurutkan semangat dan kerja keras anggota Kelompok Tani Skill Taruna Muda, Desa Oabikase, Kecamatan Insana Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara. Poktan yang bergerak di bidang pengembangan hortikultura ini jalan terus menekuni usaha.

Budidaya tanaman hortikultura di lahan seluas 24 hektare tersebut dipastikan menguntungkan para anggota kelompok tani di tengah pandemi Covid-19 saat ini.

Bacaan Lainnya

Kepada wartawan Dedy Tahoni, salah satu anggota Kelompok Tani Skill Taruna Muda, saat dikunjungi di kebun hortikultura di Desa Oabikase, Sabtu (14/8/2021), berbagi kisah.

Dedy mengatakan, berbagai jenis tanaman hortikultura yang dibudidayakan di lahan itu disesuaikan dengan permintaan pasar.

“Yang kami kembangkan di sini ada beberapa jenis tanaman hortikultura yang kami tanam. Ini juga kita sesuaikan dengan permintaan  pasar,” ujar Dedy.

Tanaman hortikultura yang selama dikembangkan meliputi tomat, melon, picai kumbang, paria, labu kuning dan golden mama.

Dedy mengaku omset yang didapatkan dari hasil penjualan pun bervariasi antara Rp 2.500.000- Rp3.000.000 per bulan.

“Saya di sini sudah 2 tahun menekuni pekerjaan ini. Rata-rata penghasilan kurang lebihnya Rp 2.500.000/bulan,”  ungkap pria lulusan Universitas Timor tersebut.

Namun, keluh Dedy kendala saat ini yang dihadapi kelompoknya adalah kekurangan motor air, sebab selama ini kelompoknya hanya menggunakan satu unit motor air untuk lahan seluas 24 ha tersebut.

Sementara itu, Koordinator PPL Kecamatan Insana Barat, Silvester Longa, mengungkapkan bahwa di Desa Oabikase sendiri ada dua kelompok tani yang bergerak di pengembangan hortikultura.

Teknis pendampingannya, tutur Longa,   setiap desa didampingi penyuluh pertanian yang selalu mendampingi kelompok tani tersebut.

“Setiap bulan kami adakan pertemuan, kemudian kegiatan di lapangan kami selalu hadir dengan petani sehingga jika ada kendala apa yang mereka hadapi, kami selalu pecahkan bersama petani,” terang Longa.

Longa juga mengungkapkan kekurangan motor air yang menjadi kendala kelompok tani dalam usaha mereka.

“Kendala di lapangan untuk saat ini yaitu kendala air, karena waktu badai seroja ada 6 unit motor air yang hanyut terbawa banjir sehingga dari luas areal yang sekitar 24 hektar ini tidak tertanam semua,” kata Longa.

Longa berharap ada pihak  lain, dalam hal ini dinas terkait untuk merespon dan mengambil tindakan yang baik mendukung peningkatan pendapatan petani di masa pandemi ini. (siu)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *