Personel Satgas Yonarmed 3/105 Tarik Pelajari Kerajinan Tenun Ikat Khas NTT

  • Whatsapp

KEFAMENANU KABARNTT.CO –Di balik keindahan alam kepulauan Nusa Tenggara Timur (NTT) terdapat kerajinan tangan khas yang tidak kalah indahnya. Kerajinan tangan yang dibuat oleh tangan-tangan para pengrajin  lokal NTT ini sangat unik dan juga bernilai estetis. Salah satu kerajinan tangan khas NTT adalah  kain tenun ikat.

Personel Pos Manusasi Satgas Yonarmed 3/105 Tarik tergerak untuk mempelajari cara menenun kain tenun ikat yang merupakan kain adat khas NTT dari para pengrajin tenun lokal yang bertempat di Desa Manusasi, Kecamatan Miomaffo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Bacaan Lainnya

Jenis kerajinan yang satu ini di wilayah NTT mempunyai berbagai macam istilah atau penyebutan tergantung pada corak, motif dan simbol khas daerah masing-masing. Contohnya di daerah Flores Timur istilah kain adat disebut kwatek, di daerah Manggarai disebut songket dan di daerah Timor terdapat 2 istilah penyebutan untuk kain adat di antaranya tais untuk kain adat perempuan dan beti untuk kain adat laki-laki.

Dari segi warna kain juga memiliki kegunaan tersendiri yaitu kain berwarna ungu untuk upacara kedukaan, hitam untuk upacara adat, merah, hijau, kuning dan warna cerah lainnya untuk acara bersuasana sukacita.

Dansatgas Yonarmed 3/105 Tarik, Letkol Arm Laode Irwan Halim, S.I.P., M.Tr.(Han), Senin (22/2/2021),  mengungkapkan bahwa kekaguman akan keindahan kain adat khas NTT ini membuat personel Satgas terdorong untuk mempelajarinya.

Kain adat bagi masyarakat NTT dapat menunjukkan suatu status sosial yang tinggi dan umunya teknik menenun ini diajarkan secara turun temurun dari generasi ke generasi agar generasi berikutnya dapat melestarikannya.

“Bila kita melihat di toko-toko souvenir NTT kerajinan tenun kain adat ini paling banyak menarik minat para wisatawan hingga ke mancanegara. Selain kerajinan ini sangat ikonik dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur,  nilai estetika dan keunikan dari kain itu sendiri membuat kerajinan ini sangat diminati sebagai buah tangan,” kata Irwan.

Irwan menambahkan  “Kami berharap dengan adanya personel Satgas yang mempunyai minat belajar tenun kain adat dari masyarakat perbatasan dapat mendorong semangat generasi muda perbatasan lainnya untuk tertarik ikut belajar menenun kain adat tersebut. Selain itu sebagai anak bangsa kita secara tidak langsung juga mengenalkan kebudayaan kain adat khas Nusa Tenggara Timur ini ke daerah lain, bahkan terkenal sampai luar negeri.”

Sementara itu, salah satu pengrajin tenun ikat, Bergita Kono (61) merasa sangat senang atas kedatangan personel Pos Manusasi Satgas Yonarmed 3/105 Tarik karena tidak menyangka bahwa kedatangannya ingin belajar kerajinan khas daerahnya.

“Kebetulan sekali ini Bapak TNI datang, ibu-ibu juga lagi tenun kain adat, kalau mau belajar tenun kain adat mari sekalian kami bisa ajari Pak,” kata Kono sambil menenun. (siu)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *