Melchias Mekeng Minta UMKM Tidak Boleh Gaptek Era Digital

  • Whatsapp

KUPANG KABARNTT.CO—Wakil Ketua DPP Partai Golkar, Melchias Markus Mekeng, meminta usaha mikro kecil dan mengengah (UMKM) tidak boleh gagap teknologi (gaptek).

Mekeng mengingatkan, yang namanya UMKM memang sudah menjadi isu yang tidak habis-habisnya, dari zama orde baru pun sudah disebut. Sejak orde baru setiap bank diharuskan mempuyai  portofolio UMKM.

Bacaan Lainnya

Mekeng mengatakan hal itu ketika membuka sharing terkait pengembangan UMKM bersama BNI pusat maupun daerah dan juga Balai POM NTT, Rabu (15/9/2021) malam dalan zoom meeting.

Anggota DPR RI dari Dapil NTT 2 itu mengatakan, sekarang UMKM sudah jauh lebih diprioritaskan oleh pemerintah baik dari sisi pendanaan, infrastruktur dan juga aturan-aturan.

“Sepanjang yang saya ketahui dalam pembahasan asumsi makro, pertumbuhan ekonomi khususnya, memang dari dulu dominasi sumbangan yang konsumsi rumah tangga konotasinya memang ke UMKM dan sisanya baru dalam bentuk investasi-investasi dan bisa menyumbang pertumbuhan ekonomi kita. Sekarang terbukti, dalam keadaan pandemi yang menghantam pertumbuhan ekonomi kita, yang masih bisa bertahan ya UMKM,” jelas Mekeng.

Menurutnya, dari data statistik BPS, jumlah UMKM di Indonesia mencapai 65 juta dan baru 7 persen yang membuat pembukuan yang benar atau sudah menggunakan digital, yang lainnya masih manual bahkan tidak ada catatan sehingga tidak bisa menghitung keuntungan dan kerugian itu sendiri.

“Karena kita sudah masuk dalam dunia digital, UMKM sudah harus siap masuk dalam dunia tersebut. Saya ke Purwakarta, kampungnya Dedy Mulyady. Di situ saya berbicara dengan para pedangang sate, kami melatih bagaimana para pedagang sate masuk dalam dunia digital dan mereka bisa mengetahui cost of production atau harga pokok dari sate tersebut, bagaimana keuntungan serta pembukuannya dan mereka semua sangat antusias. Memang agak sulit yang namanya digital itu, apalagi masuk kepada pedagang yang sudah berumur yang gagap terhadap teknologi, namun tetap harus didampingi oleh keluarga yang paham,” tegasnya.

Lebih lanjut Mekeng mengatakan, minggu lalu Presiden Jokowi sudah meginstruksikan kepada perbankan untuk menaikkan porsi UMKM dari 20 persen menjadi 30 persen. Itu artinya tambahan 10 persen pertumbuhan kredit seluruh Indonesia.

“Agar semuanya bisa berdampak pada perekonomian, dan bisa kita lihat itu harus masuk dalam digital. Dengan digital kita bisa mengetahui usaha-usaha tersebut sehat atau tidak, berapa pekerja, berapa tingkat kehidupan masyarakatnya, sshingga kita tidak boleh ketinggalan dalam dunia digital,” serunya.  (np)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *