Lombok Harga Naik, Petani Milenial Sumba Timur Raup Untung Besar

  • Whatsapp

WAINGAPU KABARNTT.CO—Kelompok Tani Millamuga Eti di Kampung Kabuling, Desa Kambatatana, Sumba Timur patut jadi contoh. Saban bulan hasil panen lombok memberi keuntungan  puluhan juta rupiah.

Berbeda dengan kalangan milenial lain yang masih bermimpi jadi pegawai pemerintah, sepuluh anak muda yang tergabung dalam kelompok ini menekuni tanaman lombok.

Bacaan Lainnya

Di tengah pandemi Covid-19 yang tidak tentu kapan berakhir ini, mereka konsentrasi mengembangkan bumbu dapur yang sangat dicari para ibu ini.

Lahan yang mereka garap juga tidak sampai satu hektar. Cuma sekitar 60  are. Di atas lahan kecil ini mereka juga menanam tomat, paria dan kacang buncis.

Lombok sudah memberi mereka 250 kg dalam empat kali panen.

Untuk hasil panen lombok bisa mencapai 250 kg namun dengan 4 kali panen secara bertahap.

Anggota DPRD Sumba Tim paling muda, Yeston Umbu Lapu Pura Tanya, ketika mengunjungi lahan tanaman lombok milik kelompok anak muda ini, mengharapkan agar anak-anak muda Sumba Timur dapat mengembangkan potensi lahan yang cukup luas di wilayah masing-masing.

“Kita punya potensi wilayah dengan lahan yang cukup luas, tapi hampir tidak dimanfaatkan dengan baik selama ini. Ditambah lagi anak-anak muda semakin sulit mencari uang di masa pandemi sekarang ini, sehingga dengan bantuan seorang pembimbing pertanian yang menjual bibit sekaligus mau membimbing para anak muda di sini, bisa memberikan dampak positif dalam memgembangkan kreativitas anak muda serta menambah penghasilan keluarga,”  papar Yeston.

Menurut wakil rakyat dari Fraksi Golkar ini, anak muda saat ini sudah mulai sadar jika wilayahnya merupakan surga yang tersembunyi. Jika dimanfaatkan dengan baik maka akan menjadi sumber penghasilan yang sangat menjanjikan.

“Saya juga anggota Komisi C yang membidangi pertanian. Kalau keliling saya selalu mengajak teman-teman muda untuk bagaimana bertani dan mendukung penuh teman-teman petani milenial. Dan memang banyak anak muda milenial yang sukses kembangkan komoditi pertanian, seperti halnya kelompok ini. Mereka bisa menjadi contoh untuk anak muda lainnya,” kata Yeston.

Yeston  sangat berharap agar anak muda punya prinsip yang kuat dan tidak boleh gengsi terjun menggarap lahan menjadi petani.

“Harapannya untuk para teman-teman orang muda di luar sana, pada prinsipnya jangan gengsi dulu soal pekerjaan. Karena sebenarnya kita bisa sukses di daerah sendiri, yang penting tekun jalani pekerjaan profesi apa pun itu. Contoh seperti petani milenial di Desa Kambatatana ini. Hanya dengan modal semangat dan sedikit bimbingan dari orang tua, sekarang sudah bisa mendapat untung puluhan juta rupiah dari hasil karya tangan mereka,” kata Yeston. (np)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *