David Liu Kreatif Kembangkan Suka Roti di Tengah Pandemi

  • Whatsapp

KUPANG KABARNTT.CO—Menjalankan roda bisnis di tengah pandemi Covid-19 saat ini tidak mudah. Butuh nafas panjang. Perlu ide inovatif dan kreatif yang harus dieksekusi.

Itulah yang dilakukan David Liu, anak muda di Kota Kupang yang sukses dengan bisnis  roti dengan branding Suka Roti.

Bacaan Lainnya

David memulai Suka Roti tahun 2014 lalu. Saat ini Suka  Roti sudah memiliki 14 cabang di NTT. Sebanyak 10 cabang di Kupang dan 1 cabang di Maumere, 1 cabang di Labuan Bajo, 1 cabang di Atambua dan 1 cabang di Kefamenanu.

Anak muda kelahiran Kupang 10 November 1985 ini tekun dan konsen pada bisnis rotinya. Dia adalah satu dari tidak banyak anak muda yang piawai membaca peluang bisnis.

Kepada kabarntt.co, Rabu (12/5/2021),  David mengaku mengawal bisnisnya dengan strategi bisnis yang matang, bukan sekadar ikut-ikutan. “Hal pertama sih pasti kemauan, dan memang harus lihat pasar dan kompetitor. Saya buat tampil beda dengan banyak toko dan juga yang pastinya roti sehat tanpa bahan pengawet. Karena tanpa pengawet,  roti saya sangat sehat dan maksimal masa simpannya hanya 2 hari.  Itu yang menjadi perbedaan dengan toko-toko lain di Kota Kupang,” tuturnya.

David memastikan, semua jenis roti merek Suka Roti tersedia di 10 cabang di Kota Kupang, dan pastinya dengan harga yang cukup terjangkau. Harga mulai dari Rp 2.500 sampai dengan harga tertinggi.

Untuk roti spesial atau yang menjadi favorit warga Kota Kupang, kata David, adalah pisang coklat.  Jadi favorit  karena sangat renyah, pisangnya tebal dan adonannya bagus.

Ada juga duble combo, juga Cisu (cis cake jepang) dan ada beberapa lainnya tergantung konsumen.

Di masa pandemi ini, kata David, bisnisnya sempat terganggu. Meskipun begitu tidak ada karyawan yang sampai dirumahkan.

Kata David, dia  memeras otak mencari ide kreatif dan inovatif agar pandemi tidak terlalu mengganggu roda bisnisnya.  Wujudnya lahir menu-menu baru dengan promosi yang kuat di berbagai laman media sosial.

“Sempat turun 50 persen saat pandemi. Untungnya saya tidak merumahkan karyawan. Tapi saya melahirkan ide-ide kreatif yakni dengan menu-menu baru. Dalam 2 bulan pasti ada menu baru dan dengan begitu bisnis normal lagi,” katanya. (np)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *