Pengrajin Gerabah Bentuk Periuk Penuhi Kebutuhan Hidup

  • Whatsapp

KEFAMENANU KABARNTT.CO -Masyarakat Indonesia telah mengenal kerajinan tanah liat sebagai bagian dari sejarah dan budaya setempat. Bahkan di beberapa daerah di Indonesia kerajinan tanah liat telah berubah menjadi sebuah aktivitas industri.

Sejarah kerajinan ini jika ditilik cukup panjang. Bahkan kerajinan tanah liat ini dipercaya sebagai karya seni tertua.

Bacaan Lainnya

Di Provinsi Nusa Tenggara Timur sendiri, kerajinan tanah liat sebenarnya juga sudah ada sejak dulu. Salah satu produk kerajinan tanah yang biasa kita temui di NTT adalah periuk tanah. Belakangan, kerajinan tangan ini sudah jarang ditemui.

Namun hal tersebut tidak menyurutkan niat dari Beatrix Mince Metboki, di Desa Subun Bestobe, Kecamatan Insana Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara untuk menjadikan kerajinan tanah ini menjadi penggerak ekonomi keluarganya.

Kepada kabarntt.co, Sabtu (21/11/2020), Mama Mince, pengrajin gerabah bentuk periuk ini mengaku telah menekuni pekerjaan sebagai pengrajin periuk tanah sejak tahun 2001.

Mama Mince mengakui, pekerjaan yang dilakukannya ini bisa membantu  membiayai kehidupan sehari-hari dan memenuhi kebutuhan uang sekolah  anak anaknya yang masih menjalani pendidikan.

“Ini pekerjaan pokok sehari-hari. Saya tidak bisa menenun dan saya hanya fokus dengan membuat periuk tanah untuk dijual ke Pasar Maubesi,” ungkap Mama Mince.

Lebih lanjut ibu dari 4 orang anak ini mengatakan, dalam satu minggu ia bisa membuat dan menghasilkan 8-12 periuk tanah.

“Biasa dalam satu minggu kalau fokus saya bisa buat 8 sampai 12 buah periuk tanah dengan ukuran yang berbeda-beda. Itu pun tergantung pada bahan yang disiapkan karena kami terkendala jarak, soalnya untuk dapat bahan kami harus menempuh jarak kurang lebih 3 km. Dalam satu buah gerabah bentuk periuk ini, kami dihargai per periuk Rp 25.000 sampai Rp 150.000, tergantung ukurannya,” urai  Mama Mince.

Mama Mina, sapaan akrab Beatrix Mince , menuturkan bahwa dengan bahan yang diperlukan dalam pembuatan periuk tanah, dirinya harus berjalan sejauh beberapa kilometer untuk mendapatkan bahan-bahan yang baik.

“Kami biasa ambil pasir untuk buat periuk tanah di Seunbam. Jadi kadang-kadang kami junjung dari sana sampe rumah sini. Karena di sekitar sini pasir tidak ada yang bagus, kalau tanah liat kami biasa ambil di dekat sini,” tutur Mama Mina

“Saya buat secara manual saja. Kalau mau putar ini pakai tangan saja. Tanah itu kita putar pakai tangan, sambil kita kasih halus dengan kain basah. Ini saya pelajari dari orangtua saya dulu,” jelas  Mama Mina.

Terkait dengan perhatian pemerintah, Mama Mince mengungkapkan sampai saat ini belum ada perhatian khusus. Nmun pernah diminta oleh pihak kecamatan untuk membawa beberapa hasil kerajinannya untuk dipamerkan di pameran Expo Kabupaten TTU. (siu)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *