Kelompok Tenun Ikat Tisbati Bineno, TTU Mulai Dikenal Daerah Luar

  • Whatsapp

KEFAMENANU KABARNTT.CO—Kelompok Tenun Ikat Tisbati Bineno, di Desa Inbate, Kecamatan Bikomi Nilulat, Kabupaten Timor Tengah Utara terus mengembangkan potensi yang dimiliki oleh ibu-ibu di kampung yang letaknya berbatasan langsung dengan negara RDTL.

Kelompok yang beranggotakan 26 orang ibu-ibu ini dibentuk tahun 2012. dengan semua perlengkapan diswadayakan oleh masing-masing anggota.

Hal tersebut terlihat pada hasil yang dicapai oleh anggota Kelompok Tenun Ikat Tisbati Bineno, di mana banyak pengunjung yang datang untuk membeli kain tenunan kelompok tersebut.

Pendiri sekaligus pendamping kelompok Tenun Ikat Tisbati Bineno, Jacob Obe Tusala, S.Pd,  kepada kabarntt.co, Selasa (22/9/2020), di rumah kelompoknya mengatakan bahwa tujuan dari dibentuknya Kelompok Tenun Ikat Tisbati Bineno ini yakni untuk kesejahteraan masyarakat dimana difokuskan pada ibu-ibu yang memiliki kreatif menenun.

“Kita memiliki tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lewat tangan seni ibu-ibu di desa.” tutur Tusala.

Jack, sapaan akrab Jacob, melanjutkan bahwa letak geografis wilayah Desa Inbate yang jauh dari kota mendorongnya membentuk kelompok tersebut karena di kampung juga ada potensi yang harus dikembangkan.

Alhasilnya sekarang kelompok tersebut didatangi pengunjung.

“Kami berada jauh dari kota, dan lebih tepatnya area terpencil yang berbatasan langsung negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Timor Leste.  Untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah pasti bisa tapi harus melalui proses yang ada,sehingga kami mulai berpikir untuk mengelola potensi yang ada,” tutur Tusala.

Menurut Tusala, potensi yang ada di kampung ini banyak sekali dan jika dikembangkan akan mendatangkan kesejahteraan pada masyarakat.

“Ini membuat saya membentuk kelompok dan saat ini sudah seperti ini. Cukup dikenal di daerah lain termasuk Bali karena ada turis asing yang sudah datang sampai gubuk di tempat ini,” jelas Jack.

Alumnus Universitas Timor Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris tersebut berharap semoga ada    pihak lain yang bersedia untuk mendukung usaha kelompok tersebut.

“Kami mengharapkan daya dukung atau sponsorship dari pihak manapun, agar budaya yang merupakan jati diri bangsa tetap dijaga dan dilestarikan.  selama ini yang kami jalani ini semua bentuknya swadaya dari seluruh anggota kelompok,” harap Jack.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tenun Tisbati Bineno, Maria Obe, menjelaskan bahwa dengan terbentuknya kelompok tenun tersebut, ada perubahan ekonomi keluarga karena hasil tenunan yang dulunya digunakan untuk kepentingan pribadi sekarang sudah ada harga jual.

“Tenun merupakan pekerjaan pokok untuk kami ibu-ibu. Kami terbantu dengan adanya kelompok ini, kain hasil tenunan kami yang dulunya hanya  dipake sendiri sekarang sudah menghasilkan uang yang banyak,” jelas Obe.

Obe menambahkan, untuk jualan mereka tetap di kampung, karena ada pengunjung dari Kefa, Kupang, Bali dan ada juga orang asing yang datang membeli.

“Kami jual di rumah kelompok karena banyak tamu yang datang beli di sini. Dari Kefa, Kupang, Bali dan juga ada orang dari luar negeri yang datang sampai sini,” kata Obe. (siu)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *