BOPLBF Resmi Jadi BPOLBF, Ini Penjelasannya

  • Whatsapp

LABUAN BAJO KABARNTT.CO--Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) kini resmi berubah nama menjadi Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF).

Dalam keterangannya, Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF),  Shana Fatina, menjelaskan, perubahan nama itu sudah sesuai Peraturan Presiden (Perpres) dan Peraturan Menteri (Permen).

Bacaan Lainnya

“Kenapa diganti, agar clear bahwa kita bukan sebagai dewan pengarah tapi konteksnya kita sebagai executive board. Kita badan pelaksana yang menjalankan mandat dari dewan pengarah sesuai dengan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif No. 7 Tahun 2018 yang merupakan turunan dari Peraturan Presiden (Perpres) No. 32 Tahun 2018,” jelas Shana di Labuan Bajo, Rabu (7/4/2021).

Sesuai dengan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif No 7 Tahun 2018, jelas Shana, badan pelaksana mempunyai tugas melakukan koordinasi, sinkronisasi, dan fasilitasi terhadap perencanaan, pengembangan, pembangunan, dan pengendalian di kawasan pariwisata Labuan Bajo Flores.

Selain itu, ungkapnya, juga melakukan perencanaan,  pengembangan, pembangunan, pengelolaan dan pengendalian di zona otorita kawasan pariwisata Labuan Bajo Flores.

Perubahan nama ini juga, tambahnya, disesuaikan dengan dua Badan Otorita lainnya, yakni Badan Otorita Danau Toba dan Badan Otorita Borobudur.

“Kita diminta untuk menyesuaikan dengan dua Badan Otorita lainnya yakni Toba dan Borobudur. Hal ini dipertegas pada kegiatan pelantikan Dirut Destinasi, Pemasaran dan Industri dan Kelembagaan BPO Labuan Bajo Flores dan pelantikan Dirut BPO Danau Toba yang berlangsung waktu lalu,” ungkapnya.

Penyesuaian tersebut, menurutnya, dilakukan guna menyamakan nomenklatur sesama organisasi Badan Pelaksana Otorita yang berada di bawah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta untuk memudahkan kegiatan promosi ke pasar internasional.

“Pengalaman Kementerian Parekraf saat melakukan promosi, mereka (market) kadang bingung fungsi dan tugasnya sama, tapi namanya berbeda-beda. Buat market wisatawan manca negara (wisman) lebih masuk akal kalau cuman satu nama yang sama. Kalau kebanyakan singkatan nanti marketnya bingung,” tutup Shana. (obe)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *