Realisasi APBD NTT Rendah Terkendala Refokusing

KUPANG KABARNTT.CO—Sudah memasuki triwulan II tetapi realisasi pelaksanaan APBD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terbilang masih rendah. Kondisi terjadi  karena refokusing anggaran  akibat pandemi Covid-19.

Demikian dikatakan Kepala Badan Keuangan Provinsi NTT, Zakarias Moruk,  di ruang kerjanya, Jumat (11/6/2021).

Bacaan Lainnya

Zakarias mengatakan itu menanggapi catatan dari Pandangan Umum Fraksi Golkar DPRD NTT, Selasa (8/6/2021) malam saat Sidang Paripurna LKPJ  Gubernur NTT di Gedung DPRD NTT.

Fraksi Golkar DPRD NTT memberi catatan  bahwa realisasi APBD NTT pada triwulan ll masih sangat rendah atau baru mencapai 11 persen. Realisasi belanja APBD hanya pada pencapaian realisasi fisik dan keuangan, namum belum pada kualitas output dan manfaat konkrit bagi masyarakat.

Menanggapi pandangan Fraksi Golkar itu,  Zakarias Moruk  mengatakan, hingga triwulan ll atau 31 Mei 2021 realisasi belanja APBD NTT tahun 2021 sudah mencapai 35 persen.

“Pendapatan kita rencanakan itu Rp 6 triliun lebih, dan sampai dengan 31 Mei 2021 sebesar Rp 1, 9 triliun atau 32,22 persen. Sedangkan belanja kita sudah mencapai 19,16 persen dan sudah Rp 1,4 triliun kita realisasi sudah sampai bulan Mei,” kata Zaka.

Zaka mengatakan, sesuai dengan hasil rapat koordinasi dengan Menteri Dalam Negeri dan arahan Gubernur NTT, pihaknya terus mendorong agar semester pertama sesuai dengan atau mendekati target yang sudah direncanakan sekitar 50 persen.

“Ini sudah tanggal 11 Juni, mudah-mudahan kegiatan-kegiatan di OPD bisa didorong dan berjalan dengan baik,” kata Zaka.

Menurutnya, realisasi APBD untuk pencairan di triwulan l dan ll lebih banyak  untuk belanja pegawai, barang dan jasa. Sedangkan kegiatan-kegiatan yang bersifat untuk kebutuhan masyarakat itu masih terkendala dengan refokusing.

“Karena itu kami masih menyelesaikan refokusing tahap pertama itu baru tiga minggu yang lalu, dan sudah tandatangani DPA dengan Pak Sekda dan semua ada di OPD-OPD untuk melakukan kegiatan-kegiatan di masyarakat,” kata Zaka.

Zaka mengatakan, ada sejumlah kegiatan yang harus direfokusing atau ditunda pelaksanaannya.

“Apakah di tahun depan setelah pandemi Covid-19 karena beban APBD kita mengalami penurunan, khususnya untuk pendapatan PAD kita baru mencapai 28 persen. Kalau normal seharusnya bulan Mei ini kita sudah mencapai 40 sampai 45 persen. Karena ini pandemi Covid-19, maka harapan kita adalah pajak kendaraan bermotor, sedangkan retribusi kita tidak harapkan karena kegiatan-kegiatan OPD yang khusus menaikkan PAD masih terhambat dengan refokusing,”  urainya.

Zaka menegaskan, setelah refokusing ini pihaknya akan memdorong kegiatan-kegiatan untuk peningkatan PAD. Pemda NTT menargetkan pemasukan untuk PAD itu dari retribusi-retribusi seperti sewa aula dan sebagainya.

“Untuk target pendapatan asli daerah NTT tahun 2021 Rp 2,3 triliun dan dari pajak daerah mencapai Rp 1,5 triliun,” kata Zaka.  (np)

Pos terkait