Pasca Seroja, Covid-19 di Sumba Timur Naik

  • Whatsapp

WAINGAPU KABARNTT.CO—Setelah badai siklon seroja awal bulan ini, kasus Covid-19 di Sumba Timur meningkat. Itu terjadi karena warga terdampak menyatu di posko-posko pengungsian dan tidak terdeteksi dan warga memilih menyelamatkan diri tanpa mematuhi protokol kesehatan.

“Memang menjadi tak terhindarkan penularan Covid-19 dampak dari badai seroja. Kami sudah evaluasi dan ada korelasi yang signifikan, bahwa memang peningkatan Covid-19 di Sumba Timur karena dampak dari pengungsian,” kata Bupati Sumba Timur, Drs. Kristofel Praing, kepada kabarntt.co, Jumat (30/4/2021).

Bacaan Lainnya

Dari data yang diambil di Posko Satgas Covid-19 Sumba Timur, terhitung sampai dengan Jumat (30/4/2021) hari ini tercatat total kasus mencapai 1.166 kasus, dengan akumulasi pasien dirawat 328 kasus, pasien sembuh 802 kasus dan kasus meninggal dunia mencapai 36.

Peningkatan kasus ini diakui Bupati Kristofel Praing. Peningkatan kasus itu, kata Praing, sangat signifikan. Namun sebab  peningkatan itu bukan kelonggaran protokol kesehatan karena penerapan PPKM sudah sangat ketat.

“Longgar sih tidak. Terbukti dari penerapan PPKM yang begitu ketat, dalam surat edaran dicantumkan berapa persen aktivitas perkantoran. Itu hanya 25 persen, aktivitas di pasar juga dibatasi sangat ketat, jam malam diberlakukan, tokoh dan kafe serta aktivitas malam lainnya harus tutup sesuai dengan jadwal. Sehingga memang tidak longgar, namun sangat ketat,” tegas Praing.

Bupati Praing mengakui   banyak masyarakat yang enggan mematuhi protokol kesehatan seperti memamai masker.

“Namun memang kita harus lebih sabar untuk sosialiasi. Kita juga tetap melakukan patroli masker agar masyarakat lebih paham manfaat dan bahaya Covid-19. Butuh waktu agar masyarakat sadar dan paham betul bahaya dari Covid-19, tidak instan sehingga kita butuh waktu secara pelan dan bertahap memberikan sosialisasi dan edukasi,” kata Praing.

Praing memastikan, pemerintah tidak pernah lelah untuk bekerja menurunkan serta menekan penularan Covid-19 di tengah masyarakat.

Praing mengatakan, pihaknya juga sudah melakukan evaluasi di setiap kelurahan di Sumba Timur, dan meminta agar setiap RT/RW membangun posko koordinasi, sehingga jika ada warga yang terpapar, itu menjadi tanggung jawab RT/RW untuk berkoordinasi dengan gugus dan memberikan himbauan kepada warga agar tetap melakukan isolasi secara ketat di rumah. (np)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *