Covid Varian Baru, Inche Sayuna Bilang Kunci Utama Pencegahan Adalah Taat Prokes

  • Whatsapp

KUPANG KABARNTT.CO—Wakil Ketua DPRD NTT, Dr. Inche Sayuna, mengatakan, taat protokol kesehatan (Prokes) adalah kunci utama mencegah dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19, apa pun variannya.

Inche menyatakan pendapatnya itu, Rabu (21/7/20210) malam, merespon Covid-19 varian delta yang sudah menyebar di NTT.

Bacaan Lainnya

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Kepala Instalasi Patologi Klinik RSUD WZ Johannes Kupang, dr. Hermi Indita Malewa, memastikan saat ini ada tiga pasien Covid-19 varian delta di Kota Kupang.

Konfirmasi terhadap status pasien Covid-19 varian baru tersebut diketahui berdasarkan hasil pemeriksaan sample yang dikirim ke Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, pada bulan April lalu.

“Ada 310 spesimen yang dikirim ke Litbangkes Kemenkes RI pada bulan April yang lalu, dan terkonfirmasi ada 3 spesimen yang mengalami mutasi atau terkonfirmasi varian delta dan berasal dari Kota Kupang,” jelas Malewa dalam konferensi pers di Kantor Gubernur NTT, Rabu siang.

Inche mengatakan, informasi keberadaan varian baru Covid-19 di NTT ini penting dan perlu diketahui masyarakat secara luas. Masyarakat perlu tahu agar bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi Covid 19 dengan varian delta di NTT.

“Menurut saya apa pun jenis variannya, kunci utama pencegahan ada pada kesadaran bersama untuk mentaati protokol kesehatan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Jika kesadaran bersama ini dapat mencapai angka 60 persen saja, maka kita bisa dapat memutus mata rantai penyebaran Covid-19, apapun jenis variannya. Tapi jika kesadaran kita masih di bawah angka itu, jangan bermimpi kita bisa melewati badai ini dengan mudah,” kata Sekretaris Partai Golkar NTT ini.

Inche mengingatkan, para dokter, ahli dalam dan luar negeri sudah mengingatkan soal ancaman Covid-19 yang sangat serius. Jika kita tidak tegas mengaturnya, maka Indonesia bisa seperti India atau Italia.

“Saya tidak bermaksud menakut-nakuti masyarakat,  tapi inilah kondisi yang kita hadapi saat ini, baik di NTT, maupun Indonesia secara keseluruhan. Pilihan itu ada pada kita dan semoga kita memiliki hati yang bijaksana untuk memutuskan mana yang terbaik. Jika pencegahan pada hulu ini bisa kita lakukan dengan tertib dan lancar, maka tindakan penanganan selanjutnya bisa dimanage dengan baik pula,” tandasnya.

Wakil rakyat dari Daerah Pemilihan NTT  VIII (Timor Tengah Selatan) ini juga meminta pemerintah harus bisa memastikan ketersediaan vaksin yang cukup buat rakyat dan masyarakat sehingga dapat terlayani dengan mudah dan cepat.

Satgas Penanggulangan Covid, kata Inche, juga bisa lebih teas lagi dalam penegakan disiplin prokes. “Pemerintah sudah menyiapkan regulasinya baik yang sifatnya mengatur maupun yang bersifat imperatif ( memaksa) . Semua itu harus ditegakkan dengan benar dan tegas agar dapat memberi efek jera kepada pelanggar prokes,” katanya.

Selain itu, Inceh juga menyenti Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) yang baru, yakni Nomor : HK.01.07/MENKES 4834/2021 tentang Protokol Penatalaksanaan Pemulasaraan dan Pemakaman Jenasah Covid-19.

Peraturan baru dari menteri ada 3 perubahan mendasar yaitu : soal jenasah bisa ditahan maksimal 24 jam, tidak harus dimakamkan di tempat khusus dan petugas pengusung jenasah tidak harus pakai APD hazmad untuk memakamkan jenazah Covid.

“Menurut saya, ini sangat berbahaya, karena akan menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Pemerintah akan dianggap menerapkan standar ganda soal protokol pemakaman jenasah covid dan rakyat bisa marah. Oleh karena itu sebaiknya jangan diterapkan dulu. Pemerintah perlu evaluasi lagi aturannya dan perlu diskusi dengan berbagai pihak sebelum dilaksanakan,” kata Inche.  (den)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *